Rabu, 14 Mei 2014

Tiga prinsip penafsiran ALKITAB

karyadim642.blogspot.com

Prinsip Pertama
mengenali latar belakang sejarah dari situasi dan kondisi lokasi tempat suatu buku ditulis berikut kejadian-kejadian historis tertentu yang terjadi pada saat penulisan buku tersebut. Penulis asli memiliki suatu maksud tertentu, suatu berita untuk dikomunikasikan. Suatu naskah tidak akan memiliki arti bagi kita kalau naskah tersebut tidak memiliki arti bagi si penulis asli, di jaman dulu, yang terilhami untuk menulisnya.
Maksud dan tujuan si penulis bukan sejarah, perasaan, kebudayaan, kepribadian, maupun kebutuhan denominasional kita – adalah kuncinya. Penerapan adalah pasangan yang tak terpisahkan dari suatu penafsiran, namun penafsiran yang tepat harus selalu mendahului suatu penerapan. Haruslah katakan secara terus menerus sampai kita pahami bahwa tiap naskah alkitab memiliki satu dan hanya satu pengertian.
Pengertian di sini adalah apa yang dimaksudkan oleh si penulis alkitab asli melalui pimpinan Roh untuk dikomunikasikan pada jamannya.
Pengertian yang satu ini mungkin saja memiliki banyak kemungkinan penerapan bagi situasi-situasi dan kebudayaan-kebudayaan yang berbeda. Semua penerapan ini harus terkait dengan kebenaran inti dari si penulis asli.

Untuk alasan inilah, komentari panduan belajar ini di rancang untuk menyediakan suatu pengantar terhadap setiap buku dalam Alkitab.

Prinsip Kedua
Mengidentifikasi unit literatur. Setiap buku Alkitab adalah suatu kesatuan dokumen.
Penafsir tidak memiliki hak untuk mengisolir suatu aspek kebenaran tertentu dan mengabaikan yang lain. Oleh karena itu kita harus berusaha keras untuk memahami maksud dari keseluruhan buku Alkitab sebelum Kita menafsirkan :
- unit-unit individu dari literatur.
- Arti dari bagian-bagian individual
– pasal-pasal, paragraf-paragraf,
- atau ayat-ayat tidak dapat menyimpang dari arti keseluruhan buku.

Tafsiran harus bergerak dari pendekatan deduktif terhadap keseluruhan buku kepada pendekatan induktif terhadap bagian-bagiannya. Oleh karena itu, komentari panduan belajar ini dirancang untuk membantu siswa menganalisa struktur dari tiap unit literature berdasarkan paragraf. Pembagian paragraf dan pasal tidaklah dianjurkan, namun hal ini membantu kita dalam mengidentifikasi unit-unit pemikiran.

Menafsir pada tingkat paragraf – bukan kalimat, anak kalimat, frasa, maupun kata – adalah kunci dalam mengikuti arti yang dimaksudkan oleh para penulis buku Alkitab. Paragraf didasarkan atas kesatuan topik, yang sering kali disebut tema atau kalimat topik. Setiap kata. Frasa, anak kalimat, dan kalimat dalam suatu paragraf akan selalu ada hubungannya dengan kesatuan tema ini. Entahkah itu memberi batasan, menjabarkan, menerangkan, dan/atau mempertanyakannya. Kunci sesungguhnya bagi suatu penafsiran yang tepat adalah mengikuti pemikiran dari penulis asli atas dasar paragraf demi paragraf keseluruh unit individual literatur yang membentuk buku Alkitab.
Komentari panduan belajar ini dirancang untuk membantu siswa untuk melakukan hal tersebut dengan membandingkan terjemahan-terjemahan bahasa Inggris modern. Terjemahan-terjemahan ini dipilih karena masing-masing mempergunakan teori –teori penterjemahan yang berbeda:
1.   Naskah Yunani dari United Bible Society yang merupakan revisi dari edisi ke-4 (UBS4). Naskah ini telah dibagi-bagi kedalam paragraph-paragraf oleh para ahli naskah modern.
2. The New King James Version (NKJV) adalah terjemalah literal kata ke kata berdasarkan tradisi naskah bersejarah Yunani yang dikenal sebagai Textus Receptus. Pembagian paragraf dalam terjemahan ini lebih panjang daripada terjemahan lain. Unit-satuan yang lebih panjang ini membantu siswa dalam melihat topic-topik yang disatukan tersebut.
3. The New Revised Standard Version (NRSV) adalah terjemahan kata ke kata yang telah dimodifikasi.
Membentuk titik tengah antara dua terjemahan moderen berikut. Pembagian paragraph dalam terjemahan ini cukup membantu dalam mengidentifikasi suatu pokok bahasan.
4. The Today’s English Version (TEV) adalah terjemahan sama yang dinamis yang diterbitkan oleh United Bible Society. Terjemahan ini mencoba untuk menterjemahkan Alkitab sedemikian hingga pembaca atau pembicara yang berbahasa Inggris moderen dapat mengerti arti dari naskah Yunani. Sering, khususnya dalam kitab-kitab Injil, paragraph dibagi berdasarkan berdasar si pembicara, bukannya berdasarkan pokok bahasannya, sebagaimana alkitab NIV. Untuk kepentingan penafsiran, hal ini tidak menolong sama-sekali.
Menarik untuk dicatat, bahwa kedua terjemahan ini UBS dan TEV diterbitkan oleh penerbit yang sama, namun memiliki pembagian paragraf yang berbeda.
5. The Jerusalem Bible (JB) adalah terjemahan yang sama berdasarkan terjemahan Katolik Perancis.
Terjemahan ini sangat membantu dalam membandingkan pembagian paragraph dari sudut pandang Eropa.
6. Naskah yang tercetak disini adalah Updated New American Standard Bible (NASB) tahun 1995, yang merupakan terjemahan kata ke kata. Komentar ayat demi ayat akan mengikuti pembagian paragraph dari terjemahan ini.

Prinsip Ketiga.
Membaca Alkitab dalam berbagai terjemahan supaya dapat menangkap bentangan
kemungkinan pengertian (bidang semantik) daripada kata-kata atau frasa-frasa dari Alkitab yang seluas-luasnya.
Seringkali suatu frasa atau kata dalam bahasa Yunani dapat dimengerti dalam beberapa cara. Terjemahan-terjemahan yang berbeda ini bisa menampilkan hal ini dan membantu untuk mengidentifikasin dan menerangkan variasi dari naskah Yunani tersebut.
Hal ini tidak mempengaruhi doktrin, namun membantu kita untuk kembali pada naskah asli yang ditulis dengan ilham Tuhan oleh penulis asli dari jaman dahulu.
Komentari ini menawarkan cara yang cepat bagi siswa untuk memeriksa penafsiran mereka. Bukan merupakan sesuatu yag bersifat definitif melainkan bersifat informatif dan memacu untuk berpikir. Seringkali kemungkinan terjemahan-terjemahan yang lain membantu kita untuk tidak bersifat parokis, dogmatis dan denominasional.
Penafsir perlu memiliki pilihan bentang penafsiran yang lebih besar untuk bisa menyadari bahwa suatu naskah kuno bisa sangat bersifat mendua. Sangatlah mengejutkan, bahwa di hanya sedikit dari antara orang Kristen sendiri
yang mengklaim bahwa Alkitab adalah sumber kebenaran mereka yang saling bersetuju.

Prinsip-prinsip ini kiranya menjadikan  berkat bagi anda juga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar