Tampilkan postingan dengan label ORANG-ORANG BERPENGARUH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ORANG-ORANG BERPENGARUH. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Agustus 2014

BILLY GRAHAM: PENGINJIL dan PENGKHOTBAH


"Tujuan hidup saya adalah membantu orang lain menemukan hubungan
   pribadi dengan Allah, yang saya yakini, hanya melalui pengenalan
   akan Kristus." -- Billy Graham

   Penginjil Billy Graham benar-benar menerima Kristus saat ia membaca
   Markus 16:15: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada
   segala makhluk."

   Graham telah mengabarkan Injil secara langsung kepada lebih banyak
   orang daripada yang pernah dilakukan oleh orang lain di sepanjang
   sejarah -- hampir 215 juta orang di lebih dari 185 negara dan
   wilayah -- melalui berbagai pertemuan, termasuk Mission World dan
   Global Mission. Ratusan juta lebih lainnya telah dijangkau melalui
   televisi, video, film, dan internet.

   Sejak tampil di muka umum dalam suatu kegerakan di Los Angeles
   (1949), dia telah membawa ratusan ribu orang mengambil keputusan
   untuk hidup bagi Tuhan -- yang adalah esensi pelayanannya.

   Graham dilahirkan pada 7 November 1918, 4 hari sebelum gencatan
   senjata mengakhiri Perang Dunia I. Graham dibesarkan di daerah
   peternakan susu di Charlotte, Carolina Utara. Tumbuh pada masa
   Depresi, dia tidak hanya menemukan nilai suatu kerja keras dalam
   peternakan keluarga, tetapi juga meluangkan waktu berjam-jam di
   loteng gudang jerami untuk membaca berbagai macam topik buku.

   Pada musim gugur 1934, pada usia 16 tahun, Graham membuat komitmen
   pribadi kepada Kristus melalui pelayanan Mordecai Ham, seorang
   penginjil keliling, yang mengunjungi Charlotte dalam serangkaian
   pertemuan kebangunan rohani.

   Ditahbiskan pada 1939 oleh sebuah gereja di Southern Baptist
   Convention, Graham menerima dasar Alkitab yang kuat di Florida Bible
   Institute (sekarang Trinity College di Florida). Tahun 1943, ia
   lulus dari Wheaton College di Illinois dan menikahi teman kuliahnya,
   Ruth McCue Bell, anak perempuan seorang dokter bedah misionaris,
   yang telah menghabiskan 17 tahun hidup pertamanya di Cina.

   Setelah lulus kuliah, Graham menjadi pendeta di First Baptist Church
   di Western Springs, Illinois, sebelum bergabung dengan Youth for
   Christ, suatu organisasi yang didirikan untuk melayani para pemuda
   dan tentara selama Perang Dunia II. Dia berkhotbah ke seluruh
   Amerika dan Eropa setelah masa perang; mencuat menjadi penginjil
   muda yang populer.

   Pertemuan akbar di Los Angeles pada 1949 mengorbitkan Graham menjadi
   pembicara internasional yang andal. Pertemuan yang dijadwalkan hanya
   3 minggu itu diperpanjang hingga lebih dari 8 minggu, dihadiri   peserta yang 
   melebihi      kapasitas tenda yang setiap malam didirikan di kota. Setelah itu, 
   banyak pertemuannya yang waktunya juga diperpanjang, termasuk pelayanan 
   di London yang berlangsung selama 12 minggu, dan pertemuan di Madison Square              Garden, New York, tahun 1957 yang diadakan tiap malam selama 16 minggu.

   Pada usia 88 tahun, Billy Graham dan pelayanannya terkenal di
   seluruh dunia. Dia telah berkhotbah di desa-desa terpencil di Afrika
   dan di jantung kota New York. Mereka yang telah dia layani beragam;
   dari kepala negara hingga penduduk desa di Australia dan suku-suku
   pengembara di Afrika dan Timur Tengah. Sejak 1977, Graham telah
   diberi kesempatan untuk memberikan khotbah misi di setiap negara
   yang dulunya masuk dalam blok Timur, termasuk bekas Uni Soviet.

   Graham mendirikan Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) pada
   tahun 1950 yang berpusat di Minneapolis, Minnesota, hingga pindah ke
   Charlotte, Carolina Utara, pada 2003. Dia memimpin pelayanannya
   melalui BGEA, termasuk:

   1. Siaran program radio mingguan, "Hour of Decision", ke seluruh
      dunia setiap hari Minggu selama lebih dari 50 tahun;

   2. Acara TV yang khusus menampilkan KKR-KKR Billy Graham and
      Franklin Graham Festivals yang disiarkan secara rutin lima hingga
      tujuh kali setiap tahun pada jam tayang utama di sekitar 150
      stasiun di seluruh Amerika dan Kanada;

   3. Kolom koran gabungan, "My Answer", yang disusun oleh koran-koran
      nasional maupun internasional;

   4. Majalah "Desicion", publikasi resmi dari organisasi asosiasinya,
      yang sirkulasinya lebih dari 600.000 dan tersedia dalam versi
      bahasa Inggris dan Jerman, dengan edisi khusus dalam huruf
      Braille dan kaset bagi para tunanetra; dan

   5. "World Wide Pictures" yang telah menghasilkan dan
      mendistribusikan lebih dari 125 produksi, membuatnya sebagai
      salah satu produser evangelistis terkemuka di dunia. Film-filmnya
      telah diterjemahkan ke dalam 38 bahasa dan ditonton oleh lebih
      dari 250 juta orang di dunia serta dapat ditonton di lembaga
      pemasyarakatan di seluruh dunia.

   Graham telah menulis 25 buku, banyak di antaranya menjadi buku
   terlaris. Riwayatnya, "Just As I Am", yang diterbitkan tahun 1997,
   menerima "mahkota susun tiga" (triple crown), yang muncul secara
   serentak dalam daftar tiga besar buku terlaris selama seminggu.
   Dalam riwayat itu, Graham merenungkan hidupnya, termasuk
   pelayanannya ke seluruh dunia yang sudah lebih dari 60 tahun.
   Bermula dari kesederhanaannya sebagai anak dari peternak susu sapi
   di Carolina Utara, dia membagikan bagaimana imannya yang teguh di
   dalam Kristus terbentuk dan membentuk kariernya.

Di antara buku-bukunya yang lain,
Ø  "Approaching Hoofbeats: The Four Horsemen of the Apocalypse" (1983), selama beberapa minggu masuk dalam daftar buku terlaris The New York Times;
Ø  "How to Be Born Again" (1977) menjadi buku yang paling banyak dicetak pada cetakan pertamanya dalam sejarah penerbitan, dengan 800.000 oplah; "Angels: Gods Secret Agents" (1975) terjual satu juta oplah dalam 90 hari; dan
Ø  "The Jesus Generation" (1971) terjual 200.000 oplah dalam waktu 2 minggu pertama.

   Gagasan Graham diminati oleh para presiden, dan daya tariknya baik
   di arena sekuler dan religius dibuktikan oleh banyaknya orang yang
   menghormatinya, termasuk sejumlah doktor kehormatan dari berbagai
   institusi di Amerika dan luar negeri.

   Penghargaan yang pernah diterima antara lain adalah "Ronald Reagan
   Presidential Foundation Freedom Award" (2000) atas kontribusinya
   dalam mewujudkan perdamaian; "Congressional Gold Medal" (1996);
   "Templeton Foundation Prize for Progress in Religion" (1982); dan
   "Big Brother Award" atas usahanya memperjuangkan kesejahteraan
   anak-anak. Pada tahun 1964, dia menerima penghargaan "Speaker of the
   Year Award" dan namanya diukir di George Washington Carver Memorial
   Institute atas kontribusinya dalam menjalin relasi.

   Dia dikenal oleh Anti-Defamation League dari B'nai B'rith pada 1969 dan National Conference of Christians and Jews pada 1971 atas usaha-usahanya
untuk membantu perkembangan pemahaman antaragama yang lebih baik.
Pada Desember 2001, dia dianugerahi "Honorary Knight Commander of the Order of the British Empire" (KBE) atas kontribusi internasionalnya terhadap kehidupan warga negara dan agama selama lebih dari 60 tahun.

   Graham secara rutin didaftar oleh organisasi Gallup sebagai salah
   satu "Ten Most Admired Men in the World" (10 tokoh paling dikagumi
   di dunia), yang menggambarkannya sebagai tokoh dominan dalam
   pemilihan itu sejak 1948 -- tampil dalam 48 acara berbeda dan 41
   acara berurutan. Dia juga muncul di sampul majalah "Time",
   "Newsweek", "Life", "U.S. News", dan "World Report", "Parade", dan
   berbagai majalah lain, serta telah menjadi berita utama di berbagai
   koran, majalah, dan buku.

   Graham dan istrinya, Ruth, memiliki tiga anak perempuan, dua anak
   laki-laki, sembilan belas cucu, dan sejumlah buyut. Keluarga Graham
   membangun rumah di pegunungan di Carolina Utara bagian barat.

   (t/Ratri)

Kamis, 17 Juli 2014

AURELIUS AUGUSTINUS

karyadim642.blogspot.com
  Ia merupakan seorang bapa gereja yang pandangan-pandangan
  teologianya sangat berpengaruh dalam Gereja Barat. Dilahirkan di
  Tagaste, Afrika Utara, tidak jauh dari Hippo Regius pada 13 Nopember
  354. Ayahnya bernama Patricius, seorang kafir dan ibunya bernama
  Monica, seorang ibu yang saleh dan yang penuh kasih. Augustinus lama
  menjadi anggota katekumen, namun tidak bersedia untuk segera
  menerima sakramen baptisan. Ia memulai pendidikannya di kota
  kelahirannya, Tagaste, kemudian belajar retorika dan filsafat di
  Kartago, ibukota provinsi Afrika Utara. Setelah belajar di Kartago,
  Augustinus kembali ke kota kelahirannya dan di sana ia menjadi guru
  retorika. Pada tahun 372 ia pindah ke Kartago dan menjadi guru
  retorika di sana.

  Augustinus mengalami pergumulan yang hebat, yaitu keinginannya untuk
  mencari kebenaran yang sejati yang memberikan kepadanya suatu
  kedamaian hidup. Seluruh perjuangannya dalam mencari kebenaran
  tersebut diuraikannya dalam bukunya yang berjudul "Confessiones"
  (Pengakuan-Pengakuan). Kira-kira tahun 373 ia membaca buku
  "Hortensius", karangan Cicero, yang membawanya menjadi seorang
  pengikut Platonisme. Namun, Platonisme tidak memberikan kepadanya
  kedamaian sehingga ia berpindah lagi menjadi pengikut Manikheisme.
  Sementara itu, Augustinus memelihara seorang wanita dan dari wanita
  ini lahir seorang anak laki-laki yang diberinya nama, Adeodatus.
  Hubungannya dengan wanita ini berlangsung selama lima belas tahun
  lamanya.

  Ibunya, Monica, sangat sedih karena kelakuan anaknya itu. Ia
  senantiasa berdoa dengan bercucuran air mata agar anaknya ini
  bertobat dari jalan yang sesat itu. Monica berkali-kali mengunjungi
  uskupnya untuk meminta nasihatnya. Sang uskup menghibur Monica
  dengan kata-kata, "Anak yang didoakan dengan banyak air mata,
  mustahil ia binasa."

  Tahun 382 Augustinus berangkat ke Roma. Di sini ia membuka sekolah
  retorika, namun sekolahnya itu dipindahkan ke Milano. Di Milano ia
  meninggalkan Manikheisme dan berpindah sebagai seorang pengikut Neo-
  Platonisme. Kemudian ibunya juga datang ke Milano.

  Augustinus sama sekali tidak tertarik kepada Alkitab. Ia menganggap
  bahasa yang dipergunakan oleh Alkitab sangat kasar dan rendah
  mutunya. Banyak hal-hal yang tidak masuk akal dan aneh.

  Di Milano terdapat seorang uskup yang sangat cakap dalam berkhotbah
  dengan mempergunakan bahasa yang menarik hati. Uskup itu adalah
  Ambrosius. Augustinus ingin berkenalan dengan sang uskup dan sering
  masuk gereja untuk mendengarkan khotbah-khotbahnya. Dari khotbah-
  khotbah Ambrosius, Augustinus kini melihat keindahan dalam Kitab
  Suci. Ia kini menemukan jawaban-jawaban yang memuaskan hatinya.

  Pada tahun 386 Augustinus sedang duduk dalam taman di rumahnya.
  Tiba-tiba ia mendengar suara anak kecil yang sedang bermain di taman
  mengatakan, "Ambillah dan bacalah!" Suara hatinya mengatakan bahwa
  yang disuruh ambil dan baca tidak lain daripada Alkitab. Ia
  mengambil dan membukanya. Augustinus membaca Roma 13:13-14, "Marilah
  kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta
  pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan
  dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus
  Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat
  tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." Augustinus yakin bahwa itulah
  suara Roh Kudus sehingga ia mengalami pertobatan. Menjelang
  Augustinus dibaptis, pada hari Minggu Paskah 387 di Milano, ia
  bersama ibunya, Adeodatus, dengan beberapa sahabatnya bersemedi di
  Cassaciacum, dekat Milano. Ibunya sangat bergembira dengan
  pertobatan anaknya itu. Maka Augustinus pun dibaptis oleh Uskup
  Ambrosius bersama-sama dengan anaknya, Adeodatus, dan beserta dengan
  sahabatnya, Alypius dan Evodius.

  Sesudah pertobatan dan baptisannya, Augustinus memutuskan
  hubungannya dengan dunia. Harta miliknya dijualnya dan dibagi-
  bagikannya kepada orang-orang miskin. Ia ingin melayani Kristus
  sampai dengan ajalnya.

  Kemudian Augustinus bersama-sama anak dan ibunya, Monika, bersiap-
  siap untuk kembali ke Afrika. Sayang ibunya meninggal dunia di kota
  pelabuhan Ostia sementara menunggu kapal yang akan membawa mereka ke
  negerinya. Augustinus menguburkan ibu terkasihnya di Ostia sesuai
  dengan permintaan Monica menjelang kematiannya, sebagai berikut.
  "Kuburkanlah aku di mana saja dan janganlah dirimu susah karenanya;
  hanya satu perkara aku mohon, yaitu doakanlah aku di altar Allah di
  mana pun engkau berada". Augustinus bersama Adeodatus berserta kedua
  temannya berangkat ke Tagaste.

  Cita-cita Augustinus sekarang adalah hidup sebagai seorang biarawan.
  Tahun 388 ia bersama dengan Alypius dan Evodius membentuk suatu
  semibiara di Tagaste. Anaknya, Adeodatus, meninggal dunia di Tagaste
  pada tahun 390.

  Pada tahun 391 Augustinus berkunjung ke Hippo Regius. Umat di Hippo
  Regius meminta agar Augustinus ditahbiskan menjadi presbiter untuk
  membantu uskup Valerius yang sulit berkhotbah dalam bahasa Latin.
  Tahun 396 Uskup Valerius meninggal dan Augustinus ditahbiskan
  sebagai uskup Hippo Regius pengganti Valerius. Cita-citanya untuk
  hidup dengan damai dalam biara terpaksa ditinggalkannya. Ia menjadi
  uskup Hippo Regius sampai dengan meninggalnya pada 28 Agustus 430,
  ketika suku-suku bangsa Vandal mengepung kota Hippo Regius.

  Augustinus adalah seorang teolog besar dalam sejarah gereja. Ia
  adalah murid Paulus. Ia banyak menulis yang di dalamnya kita dapat
  menimba pandangan teologianya. Ia juga seorang yang dikenal sebagai
  penentang penyesat-penyesat yang gigih. Perlawanannya dengan
  Donatisme menyebabkan ia menguraikan pandangannya tentang gereja dan
  sakramen. Baginya, gereja bukanlah persekutuan yang inklusif, yaitu
  yang hanya terdiri dari orang-orang suci. Gereja adalah kudus pada
  dirinya sendiri dan bukan karena kekudusan (kesucian) anggota-
  anggotanya. Di dalam gereja terdapat orang-orang yang baik dan
  orang-orang yang jahat. Di luar gereja juga terdapat pula orang-
  orang yang baik. Nampaknya Augustinus berpendapat bahwa orang-orang
  baik yang berada di luar gereja akan menjadi anggota gereja sebelum
  mereka meninggal.

  Mengenai sakramen, Augustinus berpendapat bahwa sahnya sakramen
  bukanlah bergantung kepada kesucian orang yang melayankan sakramen
  tetapi bergantung kepada Kristus sendiri. Pelayan sakramen hanyalah
  alat dari Kristus. Itulah sebabnya, maka Augustinus menerima
  sakramen baptisan yang dilaksanakan oleh golongan yang memisahkan
  diri sebagai sakramen yang sah. Jikalau ada orang Donatisme yang
  kembali kepada gereja yang resmi, mereka tidak perlu dibaptiskan
  kembali.

  Dalam perlawanannya dengan ajaran Pelagius, ia melahirkan pandangan
  teologianya tentang kehendak bebas, dosa turunan, dan rahmat. Ia
  mengajarkan bahwa manusia diciptakan Tuhan Allah dengan karunia-
  karunia adikodrati. Karunia-karunia ini hilang pada waktu Adam jatuh
  ke dalam dosa. Kehendak bebas hilang dan Adam serta keturunannya
  takluk di bawah dosa. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya
  sendiri. Manusia hanya dapat diselamatkan karena rahmat Allah semata-
  mata. Sesudah Adam jatuh ke dalam dosa, seluruh manusia berada dalam
  keadaan tidak mungkin tidak berdosa. Allah akan memilih orang-orang
  yang akan menerima karunia-Nya. Nampaknya di sini Augustinus
  mengajarkan ajaran predestinasi, ajaran yang kemudian dikembangkan
  oleh Calvin abad ke-16 dan Jansen pada abad ke-18.

  Sepanjang hidupnya Augustinus banyak menulis. Tulisannya yang
  berjudul "Confessiones" ditulisnya sebelum tahun 400. Di dalamnya
  diceritakan riwayat hidup sampai pertobatannya. Karya besarnya yang
  lain adalah "De Civitate Dei" (Kota Allah) dan "De Trinitate"
  (Trinitas). "De Civitate Dei" terdiri dari 22 buku. Sepuluh buku
  pertama menguraikan tentang iman Kristen. Dua belas buku berikutnya
  menguraikan tentang perjuangan kota Allah (Civitas Dei) dengan kota
  dunia (Civitas Terrena). Kota Allah akan mengalahkan kota dunia.
  Yang dimaksudkan dengan Kota Allah adalah gereja dan Kota Dunia
  adalah kerajaan-kerajaan dunia ini, khususnya kekaisaran Roma. "De
  Trinitate" terdiri dari lima belas buku. Sebagian besar merupakan
  kumpulan surat-surat, khotbah-khotbah, dan suatu kumpulan dialog
  filosofis. Tidak lama sebelum kematiannya ia menerbitkan bukunya
  yang berjudul "Retractations", di mana ia meninjau kembali karya
  literernya.

Sabtu, 12 Juli 2014

FILSUF EKSISTENSIALIS YANG MENANTANG GEREJA (SOREN KIERKEGAARD)

karyadim642.blogspot.com

   Mengapa saya ada? Apa tujuan hidup saya? Apa makna kehidupan yang
   ada pada saya ini? Itulah sejumlah pertanyaan yang berkenaan dengan
   keberadaan diri. Dalam filsafat, pertanyan tersebut merupakan
   pertanyaan yang bersifat eksistensialisme.

   Smith dan Raeper menyebutkan bahwa filsafat eksistensialisme ini
   merupakan filsafat para pemberontak. Eksistensialisme dipusatkan
   pada diri individu dan masalah-masalah eksistensi. Kata-kata kunci
   yang sering kembali dalam tulisan-tulisan para eksistensialis ialah
   kebebasan, individualitas, tanggung jawab, dan pilihan. Oleh karena
   itu, filsafat ini cenderung bersifat subjektif; menyangkut saya dan
   bagaimana saya hidup.

   Ada tiga filsuf eksistensialis yang terbesar, yaitu Soren
   Kierkegaard (1813 -- 1855), Martin Heidegger (1889 -- 1976), dan
   Jean Paul Sartre (1905 -- 1980). Dari ketiganya, Kierkegaard
   dianggap sebagai pelopor filsafat ini, bapak eksistensialisme.


   KIERKEGAARD DAN TRAGEDI
   Kierkegaard lahir di Kopenhagen, Denmark pada 5 Mei 1813, sebagai
   anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Michael Pedersen
   Kierkegaard, merupakan pedagang grosir yang menjual kain, pakaian,
   dan makanan. Ia menikahi Ane Sorendatter Lund, seorang pembantu yang
   tidak pernah memperoleh pendidikan; istri pertamanya meninggal dua
   tahun setelah pernikahan mereka.

   Setelah mengenyam pendidikan di sekolah putra yang prestisius di
   Borgerdydskolen, ia melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas
   Kopenhagen. Di sini pria yang bernama lengkap Soren Aabye
   Kierkegaard ini mempelajari filsafat dan teologi. Sejumlah tokoh
   seperti F.C. Sibbern, Poul Martin Moller, dan H.L. Martensen menjadi
   gurunya di sana.

   Ada banyak tragedi yang di sekitar pria yang juga menguasai bahasa
   Latin, bahasa Yunani, sejarah, matematika, sains, dan filsafat ini.
   Tragedi pertama menyangkut ayahnya yang merasa tidak pernah lepas
   dari dosa mengutuk Tuhan. Hidupnya juga menyimpan skandal dengan
   pembantu rumah tangganya yang kemudian menjadi istri keduanya. Lalu,
   saudara-saudara Kierkegaard banyak yang meninggal ketika masih
   begitu muda. Dua kakaknya, satu lelaki dan satu perempuan, meninggal
   sebelum ia berusia sembilan tahun. Tiga kakaknya yang lain, dua
   perempuan dan satu lelaki, meninggal sebelum ia berusia 21 tahun.
   Kakak tertuanya, Peter, akhirnya memilih hidup sebagai seorang
   uskup. Kierkegaard sendiri tidak pernah menikah seumur hidupnya.
   Ia membatalkan pertunangannya dengan Regina Olsen.

   Meski demikian, talentanya yang luar biasa sudah muncul ketika
   menuliskan "Journals", salah satu karya terbaiknya yang pernah
   diterbitkan. Ia mulai menulis karya tersebut ketika berusia dua
   puluh tahun. Mungkin bakatnya mulai terasah ketika turut
   mendengarkan diskusi mengenai filsafat Jerman yang sering dilakukan
   ayahnya di rumah mereka.

   KIERKEGAARD DAN KRITIK TERHADAP GEREJA
   Salah satu karya Kierkegaard yang tajam dihasilkannya menjelang
   akhir hayatnya. Peter Vardy, seorang dosen Filsafat Agama di
   Heythrope College, University of London, menganggap tulisan-tulisan
   Kierkegaard yang dikumpulkan dalam buku "Attack upon Christendom"
   merupakan kecaman paling keras yang pernah ditulis. Setidaknya,
   sepuluh artikel termuat di dalamnya sebagai kritik terhadap gereja
   yang dianggap Kierkegaard sudah melenceng dari hakikat gereja yang
   semestinya.

   Kecaman Kierkegaard tersebut dipicu oleh pernyataan Profesor
   Martensen dalam pemakaman Uskup Mynster yang dinilainya sebagai
   upaya menarik perhatian masyarakat guna mendapatkan posisi sebagai
   uskup. Kecamannya ini semula ditujukan bagi Martensen, namun
   berkembang menjadi kritik terhadap seluruh gereja.

   Dalam kecaman tersebut, Kierkegaard menganggap para imam dan gereja
   tidak lagi mewartakan Injil Kristus, tetapi mewartakan pesan
   kemapanan dan kegembiraan. Gereja justru memberikan rasa aman,
   penghargaan, dan kedudukan dalam masyarakat. Ia melihat gereja sudah
   mempermainkan Allah dengan memberitakan sesuatu yang menyimpang dari
   kekristenan Perjanjian Baru (PB).

   Salah satu artikel yang berjudul "Judge for Yourself" mendorong
   pembacanya untuk beribadah di gereja dan mempertimbangkan sendiri
   apakah yang diwartakan sama dengan kekristenan PB yang mencakup
   keterlibatan sepenuh hati, komitmen, dan dedikasi total.

      "Dunia Kristen" bukanlah Gereja Kristus ... dalam pengertian
      bagaimanapun juga. Tidak, saya katakan bahwa "Dunia Kristen"
      adalah omong kosong yang melekat pada Kristianitas seperti sarang
      laba-laba yang melekat di pohon, begitu eratnya sehingga sekarang
      ingin dianggap sebagai Kristianitas .... Bentuk keberadaan yang
      telah ditunjukkan oleh jutaan "Dunia Kristen" tidak berhubungan
      sama sekali dengan Perjanjian Baru." (Attack upon Christendom
      192)

   Kecaman Kierkegaard yang kian keras menimbulkan reaksi balik dari
   pihak gereja. Diaken Bloch mengancamnya dengan sanksi gereja. Namun,
   Kierkegaard menanggapi lewat tulisannya:

      "Bila saya tidak mengubah diri, Sang Diaken akan menghukum saya
      dengan sanksi gereja. Lalu bagaimana? Hukuman itu memang
      direncanakan dengan kejam; sebegitu kejamnya sehingga saya
      mengatakan para para wanita untuk menyediakan obat amonia agar
      mereka tidak pingsan sewaktu mendengarnya. Bila saya tidak
      mengubah diri, pintu gereja akan tertutup bagi saya. Mengerikan!
      Jadi, bila saya tidak mengubah diri, saya akan sendirian di luar
      pintu, dan pada hari Minggu saya tidak dapat lagi mendengarkan
      kefasihan bicara para saksi kebenaran." (Attack upon Christendom
      47)

   Bagi Kierkegaard, ibadah yang benar hanya "terletak pada pelaksanaan
   kehendak Allah" dan gereja tidak mutlak diperlukan untuk itu. Ini
   tidak berarti bahwa ia mendukung penghapusan gereja Kristus. Ia
   justru mengemukakan bahaya yang diakibatkan oleh keputusan untuk
   menetapkan lembaga gereja sebagai pengganti gereja Kristus. Dan ia
   melihat tugasnya sebagai memperkenalkan kembali kekristenan ke dalam
   dunia Kristen. Ia sepenuhnya sadar bahwa keselamatan tidak
   bergantung pada perintah para imam, tetapi pada perintah Allah.

   Kierkegaard beranggapan, jauh lebih baik untuk menyerang dan menolak
   kekristenan daripada turut serta dalam mengejek kekristenan dalam
   kebobrokan yang ditunjukkan gereja.

   KARYA-KARYA KIERKEGAARD LAINNYA
   Kierkegaard banyak menghasilkan karya tulis di sepanjang hidupnya.
   Meskipun pada mulanya berbagai tulisannya tidak terlalu
   diperhatikan, pada masa-masa berikutnya, karya-karyanya tersebut
   mempengaruhi banyak tokoh lain. Sebut saja Heidegger, Sartre, bahkan
   para teolog abad dua puluh seperti Karl Barth, Rudolf Bultmann, Paul
   Tillich, dan Dietriech Bonhoeffer.

   Pada dasarnya, karya-karya Kierkegaard dapat dikelompokkan dalam dua
   periode. Periode pertama ditulis antara 1841 dan 1845. Sebagian
   besar bernuansa filosofis dan estetis, beberapa ditulis dalam nama
   samaran, Johannes Climacus. 

   Karya-karya dalam periode ini ialah 
   "The Concept of Irony with Constant Reference to Socrates" (1841),
   "Either/Or" (1843), 

   "Fear and Trembling" (1842), 
   "The Concept of Dread" (1844), 
   "Stages on Life's Way (1844), 
   "Philosophical Fragments"(1844), 
   "Concluding Unscientific Postscript to the Philosophical Fragments" (1846), 
   dan sejumlah "Edifying Discourses".

   Periode kedua dalam kepenulisannya lebih ditekankan pada
   kekristenan. Pada masa ini, tulisan-tulisannya banyak ditujukan pada
   gereja. Karya-karya yang ia hasilkan pada masa ini ialah "Works of
   Love" (1847), "Christian Discourses" (1848), dan "Training in
   Christianity" (1850). Sementara itu, "Journal" terus ia tulis sampai
   akhir hayatnya.

   Berikut ringkasan sejumlah karyanya.

   - Either/Or (Enten/Eller) - 1843
     Buku ini terdiri dari dua bagian yang mempertentangkan pandangan
     hidup yang estetis dengan yang etis. Karya yang panjang ini
     menampilkan catatan-catatan pribadi, esai-esai dan
     percobaan-percobaan psikologis untuk menggoda ahli estetika serta
     serangkaian surat yang ditulis seorang hakim kepada ahli estetika
     yang menyanjung sisi positif pernikahan dan kehidupan etis.
     Struktur dialektis karya ini tidak memberikan penyelesaian, atau
     "sintesis" dalam konsep Hegelian, untuk dua pandangan hidup yang
     bertentangan. Karya ini berfungsi baik sebagai kritik maupun
     parodi terhadap filsafat Hegelian.

   - Fear and Trembling (Frygt og Baeven) - 1844
     Mengambil contoh pegorbanan Ishak oleh Abraham untuk menyelidiki
     penundaan etika teleologi (ajaran atau kepercayaan bahwa segala
     tindakan disebabkan karena adanya tujuan yang ingin dicapai). Hal
     ini merupakan kebutuhan akan ketaatan mutlak terhadap perintah
     Allah meskipun perintah itu tidak masuk akal atau tidak bermoral.

   - Philosophical Fragments (Philosophiske Smuler) - 1844
     Melalui karya ini, Kierkegaard memerinci elemen subjektif yang
     diperlukan dalam mendapatkan pengetahuan dengan menelusuri doktrin
     inkarnasi dan apakah kebahagiaan abadi dapat didasarkan pada
     peristiwa sejarah.

   - Concluding Unscientific Postscript (Afsluttende uvidenskabelig
     Efterskrift) - 1845
     Sambungan Philosophical Fragments yang berpendapat bahwa semua
     kebenaran harus secara subjektif cocok dan tidak ada jaminan
     adanya pengetahuan objektif. Kierkegaard mengangkat Kristus, tokoh
     yang penuh paradoks, yang adalah manusia dan Allah. Ia menekankan
     bahwa hal ini tidak dapat dipahami secara logis (sebagaimana dalam
     sintesa Hegel. Seseorang hanya bisa memiliki sebuah komitmen yang
     subjektif yang sungguh-sungguh terhadap kepercayaan ini atau
     kepercayaan lain.

   - Works Of Love (Kjerlighedens Gjerninger) - 1846
     Sebuah esei yang meneliti perintah "Kasihilah sesamamu seperti kau
     mengasihi dirimu sendiri'. Karya itu menekankan kualitas cinta
     yang tak terlukiskan, meneliti siapakah 'sesama' dan bagaimana
     cinta sejati (tidak egois) hanya mungkin didapat jika kita
     mengenal Tuhan dan menjadi wujud alami iman.

   - Practice in Christianity (Indøvelse I Christendom) - 1850
     Karya ini merupakan serangan yang murni dilancarkan Kierkegaard,
     ditujukan kepada gereja mapan yang mencoba meminimalisir serangan
     dalam rangka melayani dunia. Melalui karya ini, ia hendak
     memperkenalkan kembali kekristenan PB kepada dunia Kristen.

   - The Changelessness of God: A Discourse (Guds Uforanderlighed. En
     Tale) - 1855
     Karya yang didasarkan pada khotbah tentang Yakobus 1:17 ini memuji
     ketetapan Tuhan dan mendorong pembaca untuk mengikut Dia. Tapi
     pembaca juga diingatkan untuk berhati-hati dalam bertindak karena
     mereka akan diadili oleh Tuhan dengan ketetapan tak tergoyahkan
     yang sama.

   AKHIR HAYAT
   Meskipun melancarkan kritik yang sangat keras terhadap gereja, ia
   tetap berkunjung ke gereja. Tidak untuk menghadiri ibadah. Ia hanya
   duduk di luar gereja dengan tenang pada hari Minggu. Namun, ia tetap
   memberikan perpuluhan kepada gereja.

   Ketika ia hendak pulang ke rumah dengan uang terakhir yang
   dimilikinya, Kierkegaard terjatuh tak sadarkan diri. Ia dibawa ke
   rumah sakit dan meninggal lima minggu kemudian. Ia meninggal pada
   tanggal 11 November 1855. Pemakaman Kierkegaard tidak dihadiri oleh
   pendeta manapun. Hanya dua orang sepenting Peter, saudara
   laki-lakinya yang telah menjadi uskup, dan dekan dari sebuah
   katedral.

Jumat, 11 Juli 2014

ATHANASIUS

karyadim642.blogspot.com
Athanasius lahir pada akhir abad ke-3. Ia bergabung pada rumah tangga Aleksander, uskup Aleksandria, dan selang beberapa waktu menjadi diaken. Ia ikut uskup Aleksander ke Konsili Nicea. Ketika Aleksander meninggal pada tahun 328, Athanasius menggantikannya sebagai uskup Aleksandria. Ia memangku jabatan ini selama 45 tahun dan meninggal pada tahun 373. Hampir seluruh hidup Athanasius diabdikan untuk melawan Arianisme. Arius telah dikutuk di Nicea, tetapi Pengakuan Iman Nicea tidak dapat diterima oleh bagian terbesar dari kelompok Origenes di Timur. Kaisar menginginkan   persatuan di atas segala yang lain. Jadi, ia menganjurkan sikap toleransi lebih besar tentang ortodoksi sehingga Arius dapat diajak kembali ke dalam persekutuan gereja setelah mendapat hukuman seperlunya.

Athanasius menolak sikap ini. Ia melihat keAllahan Yesus Kristus sebagai dasar seluruh iman Kristen. Arianisme akan mengakibatkan tamatnya agama Kristen. Athanasius memerangi Arianisme dengan senjata apa pun yang jatuh ke tangannya, termasuk politik gerejawi. Sikapnya yang tidak main kompromi membuatnya tidak disenangi baik di antara uskup maupun negarawan. Dari 45 tahun sebagai uskup, 17 tahun di antaranya dihabiskan di lima tempat   pengasingan yang berlainan. Masa pengasingan yang paling penting adalah waktu ia di Roma dari tahun 340 sampai 346. Ini adalah saat untuk saling memengaruhi antara Athanasius dan tuan rumah. Sesudah Roma, ia mengalami "Dasawarsa Emas", dari tahun 346 hingga 356 di Aleksandria, masa terpanjang sebagai uskup tanpa interupsi.

Athanasius tetap tegar dalam pendiriannya, walaupun mereka di sekitarnya mulai melemah. Biarpun demikian, ia tahu saatnya bersikap fleksibel. Kelompok anti-Arianisme (Gereja Barat, kelompok Antiokhia dan Athanasius) berpendapat bahwa Allah adalah satu hypostasis atau pribadi, sedangkan bagian terbesar kelompok Origenis di bagian Timur berpendapat bahwa Allah terdiri dari tiga pribadi. Pada Konsili Aleksandria tahun 362 (diadakan dalam waktu singkat antara dua masa pengasingannya), diakui bahwa kedua rumusan dapat diinterpretasikan secara ortodoks. Yang terpenting adalah apa yang dipercaya, pengalimatannya kurang penting. Pengakuan ini melicinkan jalan    kepada kombinasi pandangan "homoousios Nicea" (Anak Allah adalah sehakikat dengan Sang Bapa) dan pernyataan Origenes bahwa Allah adalah tiga hypostasis. Versi kombinasi ini disebarkan oleh Bapa-bapa Kapadokia dan diterima sebagai ortodoks yang tetap pada Konsili Konstantinopel tahun 381.

Athanasius adalah seorang penulis yang produktif, yang membahas    berbagai soal.

- Karya-karya anti-Arianisme. Kebanyakan karya Athanasius membahas perjuangan melawan Arianisme. Ia memanfaatkan waktu luangnya di      pengasingan. Yang paling dikenal adalah karyanya yang terpanjang, "3 Orationes Contra Arianos" (Pidato-pidato Melawan Kaum Arian).
- Karya-karya apologia. Athanasius menulis apologia dalam dua bagian: "Oratio Contra Gentes" (Melawan Orang Kafir) dan "De Incarnatione Verbi" (Inkarnasi Firman). Menurut tradisi, karya ini dianggap ditulis pada tahun 318, yaitu sebelum kontroversi Arianisme. Namun, bukti-bukti agaknya lebih condong pada suatu tanggal selama pengasingan pertamanya antara tahun 335 dan 337.

- Surat-surat Paskah. Setiap tahun Athanasius menulis surat kepada    gereja-gereja di Mesir, yang nantinya dibaca pada hari Paskah.      Suratnya yang ke-367 itu penting karena di dalamnya untuk pertama      kali dimuat kanon (daftar kitab-kitab) Perjanjian Baru, tepat seperti yang kita kenal sekarang. Ini merupakan hasil dari masa saling mempengaruhi waktu Athanasius di Roma.

- "Vita S. Antonii" (Riwayat Hidup Antonius), yang oleh Athanasius     digambarkan sebagai rahib pertama. Pada abad ke-2 dan ke-3 ada orang yang hidup sebagai pertapa -- tidak menikah, hidup dalam kemiskinan dan mengabdikan diri dengan berdoa dan berpuasa. Mereka tetap hidup di antara jemaat biasa dan disebut "pertapa dalam rumah" karena mereka menjalankan hidup mereka sebagai pertapa di rumah dan di dalam masyarakat.

Namun pada abad ke-4, tingkat moral jemaat semakin menurun karena bertambah banyaknya jumlah orang kafir yang bertobat dan sifat pertobatan mereka dangkal dan kurang serius. Karena itu, orang pertapa mulai mengundurkan diri dari masyarakat. Mereka pergi hidup di gurun-gurun Mesir dan Siria.
Seperti ditulis Athanasius, "Sel-sel muncul sampai di pegunungan dan gurun-gurun dikolonisasi oleh para rahib. Mereka datang keluar dari bangsa mereka untuk mendaftarkan diri sebagai warga surga." Di antara rahib-rahib ini ada yang hidup menyendiri (seperti Antonius) di tempat terpencil, ada yang hidup berkelompok. Ada lagi yang memilih hidup semacam kombinasi dari kedua cara hidup tersebut tadi. Karya Athanasius membantu menyebarkan cita-cita hidup kebiaraan, khususnya di dunia Barat. Ia mempunyai peranan penting dalam pertobatan Augustinus.

Athanasius berjuang begitu keras untuk pengakuan keallahan Yesus    Kristus karena ia melihat bahwa keselamatan kita bergantung pada-Nya. Hanya Yesus Kristus yang ilahi, yang dapat menyelamatkan kita. Tema ini dibahas dalam buku "De Incarnatione Verbi".
Athanasius dihadapkan pada tuduhan-tuduhan dari pihak Yahudi dan kafir, bahwa inkarnasi dan penyaliban Anak Allah tidak pantas dan mengurangi martabat-Nya. Athanasius menjawab bahwa inkarnasi dan salib justru pantas, tepat, dan sangat wajar. Sebab dunia yang diciptakan melalui Dia hanya dapat dipulihkan oleh Dia. Pemulihan ini tidak bisa terjadi, kecuali melalui salib.

Kitalah yang menyebabkan Ia menjadi daging. Ia mengasihi kita      sedemikian rupa untuk keselamatan kita, Ia lahir sebagai manusia .... Hanya Sang Penebus sendiri, yang pada permulaan menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada, dapat mengembalikan yang bejat menjadi tidak binasa; tidak ada yang dapat menciptakan kembali orang-orang dalam rupa Allah, kecuali rupa Allah itu sendiri. Tidak lain Tuhan kita Yesus Kristus, yang adalah Hidup itu sendiri, yang dapat membuat yang fana menjadi kekal. Tidak satu kecuali firman, yang memerintah segala sesuatu dan yang adalah  Anak yang sejati dan tunggal dari Sang Bapa, yang dapat mengajar manusia tentang Sang Bapa dan membinasakan pemujaan berhala.

Karena utang yang harus dibayar manusia (karena semua orang harus mati), Ia datang di antara kita. Setelah Ia membuktikan keallahan-Nya melalui karya-Nya, Ia mempersembahkan kurban-Nya demi kita dan menyerahkan bait-Nya (tubuh-Nya) kepada maut menggantikan umat manusia.
Ia melakukannya untuk membebaskan manusia dari utang dosa pertama dan untuk membuktikan bahwa Ia lebih berkuasa daripada maut.
Ia menunjukkan bahwa tubuh-Nya tidak dapat binasa, sebagai buah sulung kebangkitan semua orang .... Dua mujizat terjadi sekaligus: kematian seluruh umat manusia terlaksana dalam tubuh Tuhan, dan maut serta kebejatan dimusnahkan karena firman yang telah menjadi satu dengan-Nya .... Melalui kematian, kekekalan menjangkau seluruh umat manusia. Karena Firman telah menjadi manusia, maka pemeliharaan kesemestaan bersama     pencipta serta pemimpin-Nya, yaitu firman Allah itu sendiri telah diperkenalkan.
Ia telah menjadi manusia, agar kita menjadi ilahi; Ia menyatakan diri dalam rupa manusia, agar kita dapat mengerti Sang Bapa yang tak kelihatan itu; Ia menanggung penghinaan orang, agar kita dapat mewarisi hidup yang kekal.

Gagasan "deifikasi" atau "pendewaan" (menjadi ilahi) menunjukkan pengaruh Yunani dalam pemikiran Athanasius. Pengaruh ini sangat nyata dalam karya apologia, dalam dua bagian, yang bersifat pembelaan itu. Adam, sebelum jatuh dalam dosa, digambarkan sebagai filsuf Yunani -- ia merenungkan firman, yang adalah rupa Allah.
Jiwanya tidak ada hubungan dengan tubuhnya. Jiwanya mengatasi semua    keinginan serta perasaan jasmani dan merenungkan "kenyataan akali".    Tetapi Adam berbalik dari kenyataan akali dan mulai memikirkan tubuhnya serta perasaan-perasaannya dan dengan demikian menjadi mangsa keinginan-keinginan jasmani. Pandangan mengenai kejatuhan manusia ini lebih banyak diambil dari filsafat Yunani dan Origenes daripada dari Alkitab.
Athanasius menggunakan berbagai argumen melawan Arianisme. Argumentasinya terutama didasari pada Alkitab. Ia mengemukakan sejumlah argumen dari Alkitab untuk membuktikan ketuhanan Yesus Kristus. Ia juga menjawab argumen pengikut-pengikut Arius yang diambil dari Alkitab untuk membuktikan bahwa Anak Allah adalah lebih rendah dari Sang Bapa.
Pertama, Athanasius menjawab bahwa bagian Alkitab itu menunjuk pada status Yesus sebagai manusia, bukan pada status kekal-Nya sebagai Allah.
Kedua, Athanasius menunjuk ibadah Kristen pada Yesus Kristus baik pada zaman Perjanjian Baru, maupun pada zaman mereka sendiri. Ibadah ini harus diberi arti pemujaan berhala, kalau Yesus hanya suatu makhluk.
Ketiga, Athanasius mengemukakan bahwa hanya Allah mampu menyelamatkan kita -- argumen ini dipakainya dalam karyanya "De Incarnatione Verbi". Dan terakhir, ia memakai argumen-argumen filsafat -- misalnya, bahwa Allah tidak pernah bertindak tidak rasional tanpa Akal atau Firman-Nya.

Sekiranya Ia [Firman] hanya makhluk, orang tidak akan beribadah kepada-Nya dan Ia tidak pula dibicarakan [dalam Alkitab]. Tetapi kenyataannya adalah bahwa Ia adalah turunan sejati dari hakikat Allah yang disembah. Ia adalah Anak Allah menurut tabiat-Nya dan bukan makhluk. Oleh sebab itu, Ia disembah dan diyakini sebagai Allah. Sinar matahari benar bagian dari matahari, toh hakikat matahari tidak terbagi atau dikurangi oleh karenanya. Hakikat matahari adalah lengkap dan sinarnya sempurna dan lengkap.      Sinar-sinar itu tidak mengurangi hakikat terang, namun adalah turunannya yang sejati. Demikian pula kita ketahui bahwa Anak diperanakkan bukan di luar Sang Bapa, tetapi dari Allah Bapa sendiri. Allah Bapa tetap lengkap, sedangkan "gambar wujud-Nya" [Ibr. 1:3] adalah kekal serta menjaga persamaan-Nya dengan Allah Bapa dan rupa-Nya yang tak berubah.

Athanasius juga yang pertama-tama secara serius mempelajari status Roh Kudus. Hingga pertengahan abad ke-4 perhatian tertuju pada hubungan Allah, Bapa, dan Anak. Sebutan singkat "Dan kepada Roh Kudus" dalam Pengakuan Iman Nicea adalah bukti betapa sedikit perhatian yang diberikan kepada Roh Kudus. Namun, pada tahun 359/360 Athanasius terpaksa memerhatikan soal ini. Suatu kelompok di Mesir, yang kurang jelas asal mulanya dan disebut Tropici, mengajarkan bahwa Sang Anak adalah Allah, tetapi Roh Kudus diciptakan dari yang tidak ada. Dalam hal Anak, mereka bertolak dari Pengakuan Iman Nicea, sedangkan dalam hal Roh Kudus mereka mengikuti Arianisme.

Mereka berselisih dengan uskup mereka, Serapion, yang minta nasihat    kepada Athanasius. Athanasius menjawab dalam sejumlah "Letters to    Serapion" (surat-surat kepada Serapion), yang di dalamnya untuk pertama kali dibahas teologi yang sungguh-sungguh memerhatikan Ketritunggalan. Di sana ia merinci baik status Roh Kudus maupun Anak Allah. Ia menjelaskan ketuhanan Roh Kudus, yang bukan Anak Allah tetapi "keluar dari Bapa" (Yohanes 15:26).

Selasa, 01 Juli 2014

AMY GRANT

 
karyadim642.blogspot.com
 
Menjelang penghujung tahun 90-an, seorang wanita muda berjalan menuju gedung Pusat Penanggulangan Masalah Kehamilan. Ia ingin melakukan aborsi. Para konselor Kristen di tempat itu membujuknya untuk mempertahankan kandungannya, tetapi ia tetap bertekad untuk menggugurkannya.

   Sementara itu, suaminya yang menekannya untuk melakukan aborsi   mendengarkan salah satu dari lagu pop Amy Grant di sebuah pemancar radio sekuler. Ia berpikir istrinya pasti menyukai musik yang dinyanyikan Amy, dan mendorongnya untuk membeli salah satu album Amy Grant.

   Sementara ia mendengarkan lagu tersebut, ia merasa didekatkan kepada    Tuhan. Ia memiliki sedikit pengalaman religius, dan ia tidak begitu yakin dan tahu bagaimana cara mengomunikasikan pikiran serta perasaannya kepada Allah. Setelah mendengar lagu "Father's Eyes", ia menyimpulkan: jika Allah itu seperti seorang ayah, ia akan berdoa kepadanya seperti ia berbicara kepada ayah kandungnya. Dengan caranya yang sederhana, wanita itu akhirnya menjadi orang Kristen.

   Beberapa waktu kemudian, wanita tersebut kembali lagi ke Pusat   Penanggulangan Masalah Kehamilan, berdoa bersama para stafnya dan    menceritakan bagaimana album Amy Grant telah mengubah hidupnya. Dan,    ia mengatakan kepada mereka bahwa ia akan melahirkan bayinya.

   Sejak tahun 1985, ketika ia merilis album "Unguarded"-nya, Amy Grant    dihujani banyak kritikan -- kadang-kadang penuh emosi, karena ia dicap telah "keluar batas" karena menjual rekamannya di toko-toko sekuler dan merekam lagu-lagu yang cocok untuk siaran radio sekuler. Kehadiran Amy di kancah musik utama dan dunia telah membuatnya menjadi sorotan.

   Konon, Amy berambisi untuk menjadi penyanyi yang setenar Whitney   Houston dan Mariah Carey yang juga memiliki latar belakang karier musik gospel atau rohani.

   Amy boleh jadi adalah penyanyi Kristen yang paling terkenal saat ini. Ia termasuk sekelompok penyanyi yang telah mengalami kelahiran baru dan berkiprah di belantara musik. Beberapa tahun belakangan ini, kehadiran mereka dengan lagu-lagu gospel selatan "new wave" dan "heavy metal" yang baik, menjadi aroma yang menyegarkan bagi dunia yang lapar akan musik dengan lirik yang baik. Tidak seperti rekan-rekan mereka, lagu-lagu mereka tidak, diisi dengan pesan berbau seksual atau obat bius.

MENITI KARIER SEJAK REMAJA
   Sejak usia 15 tahun, ia sudah mengikat kontrak rekaman dan merekam    albumnya yang pertama pada usia 17 tahun. Album "Age to Age" merupakan album lagu Kristen yang dinyanyikan oleh penyanyi solo yang memperoleh penghargaan piringan hitam platina. Ia secara teratur mengadakan perjalanan "show" dan manggung di gedung-gedung konser terkenal di AS. Lagu-lagunya hampir mencapai puncak dalam Christian and Billboard's Hot 100. Tayangan videonya juga pernah muncul dalam MTV. Ia pernah berduet dengan Peter Cetera, mantan penyanyi terkemuka di Chicago. Ia mengirimkan pesan-pesan kristiani melalui lagu-lagunya yang diputar di siaran radio sekuler.

   Tanggapan yang diberikan oleh orang-orang Kristen menimbulkan banyak    kesedihan dalam dirinya, dan kebanyakan berpendapat bahwa orang Kristen hanya menyanyikan "lagu-lagu rohani" di ruang lingkup kristiani. Amy tidak sependapat; ia melakukan apa yang menurutnya dikehendaki Allah, yaitu membawakan musik-musik gospel dengan irama kontemporer kepada orang-orang yang tidak pernah masuk gereja.

   Mereka membeli albumnya dan merasakan perbedaannya dari kebanyakan    musik -- suatu perbedaan yang berbicara tentang kasih, persahabatan, dan suatu kehidupan yang dikehendaki Allah. Dan bila ada pendengar yang ingin mengetahui sumber inspirasinya, ia dapat membaca kutipan ayat Alkitab yang tertulis pada kover.

   Amy tidak mencoba untuk membela dengan keterlibatannya di dalam arus   musik utama dewasa ini. Dan ia telah menambah kapasitas kehadirannya dengan merilis album baru berjudul "Heart in Motion", yang akan dipasarkan di toko-toko Kristen dan sekuler.

   Ini merupakan rekamannya yang kedua belas dan dalam banyak hal cukup    berbobot.
Pertama, ia menyebutnya sebagai album terbaik yang pernah   dibuatnya. Itu merupakan suatu pernyataan yang berani bila Anda sudah merekam tiga album emas dan empat album platina dan repertoar Anda termasuk proyek-proyek seperti "Age to Age", "Straight Ahead", dan "Lead Me on".

Kedua, ini mungkin merupakan rilisnya yang lebih bersifat pribadi. Amy berfungsi sebagai co-produser eksekutif dan terlibat dalam penulisan hampir seluruh lagunya. "Heart in Motion" benar-benar merupakan musik sekuler. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia tidak menawarkan sesuatu kepada para pendengar Kristen atau Amy telah meninggalkan imannya. Album ini merefleksikan dengan jelas siapa dan di mana Amy berada, baik sebagai orang Kristen maupun sebagai seorang artis.

   "Ada saat-saat di mana penting bagi saya untuk tidak keluar dari batas," kata Amy menjelaskan. "10 tahun yang lalu, saya ingin menulis lagu untuk anak-anak Kristen; saya ingin memberikan dampak yang positif terhadap mereka. Tetapi kini adalah penting untuk masuk ke dalam aliran musik yang sedang dominan. Saya tidak akan kembali ke masa tahun 1981 karena itu bukan masalah saya."

   Ia tidak bermaksud menjadi seorang penyanyi sekuler. Baginya, seorang penyanyi Kristen yang lagu-lagunya disiarkan radio tidaklah sama posisinya dengan orang atau penyanyi bukan Kristen. Jadi, bila seorang artis Kristen dalam ruang lingkup sekuler menyampaikan pesan-pesan tentang kehidupan saleh, maka lagu-lagu mereka akan bersinar seperti cahaya di dalam kegelapan.

   Ada yang mempertanyakan bagaimana lagu-lagu Amy dapat memancarkan    sinar jika dalam liriknya hampir tidak menyebut-nyebut nama Tuhan.    Bukankah album "Heart in Motion" lebih banyak mengandung kata "baby"    daripada "Allah"?

   Amy memberikan respons dengan menyatakan bahwa ia tidak percaya    bahwa kuantitas informasi tentang Allah itu penting. Justru kualitas dari informasi yang jauh lebih penting -- dampak dari sebuah kata yang diucapkan pada waktu yang tepat. Jika penyanyi Kristen membuat setiap lagunya yang berdurasi 3,5 menit penuh dengan khotbah-khotbah yang menggurui, orang tidak akan mau mendengarkannya lagi.

   Amy menambahkan, "Mereka yang meniti kariernya di sekitar pelayanan   biasanya jatuh ke dalam perangkap pemikiran seperti, 'Karena Allah mampu memakai lagu ini, kita harus meletakkannya dalam format musikal atau memanipulasi liriknya.' Allah jauh lebih besar daripada itu. Jika kita berdoa dan menyerahkan sebuah rekaman kepada-Nya, pintalah kepada-Nya untuk melakukan mukjizat, dan Ia melakukannya.
   Dalam album saya yang terbaru, saya mencoba menulis dan mendendangkan tentang realitas kehidupan, dan biarlah Allah melakukan mukjizat pada waktu-Nya."

   Menurutnya, ada saat-saat di mana musik dapat meringankan beban   kehidupan. Musik seharusnya menjadi sarana di mana seseorang dapat    melakukan retret pribadi -- seperti Saul memperolehnya dengan    mendengarkan musik yang dibawakan Daud.

   Amy juga menyatakan bahwa album "Heart in Motion" merupakan suatu    tindak ketaatan, bukan suatu tindak keluar batas dengan sengaja. Rekaman ini bukanlah hasil dari keputusan yang sembrono. "Saya benar-benar merasakan bahwa saya harus melakukannya saat ini juga, dan bila Allah meminta kita melakukan sesuatu, Anda harus segera melaksanakannya," katanya.

KARYA SENI
   Amy berambisi untuk menjadi artis dalam setengah dari kehidupannya,    dan ia sangat berharap bahwa cita-citanya tercapai. Ia menginginkan album "Heart in Motion" menjadi suatu jembatan bagi anak-anak menolongnya menyadari bahwa mereka dapat mempunyai suatu pengalaman dengan Yesus Kristus. Kebanyakan anak mendengarkan banyak jenis musik yang dinyanyikan oleh artis yang mengikuti berbagai jenis gaya hidup. Apa yang tidak dan belum mereka miliki ialah suatu musik yang bisa menjembataninya.

   Amy kelihatannya cukup peka, walaupun tidak merasa diintimidasi -- bagaimana orang bereaksi terhadap albumnya. "Saya ingin masyarakat    Kristen bangga terhadap saya," katanya. "Tetapi artis juga harus menyatu dengan karya seninya. Leonardo da Vinci tidak memandangi sebuah lukisan dan memandang dari balik punggungnya sambil berharap masyarakat akan mengakui hasil karyanya."

HAL-HAL LAIN DARI HIDUPNYA
   Industri eceran Kristen mungkin memandang Amy sebagai seorang artis, tetapi sebenarnya peran tersebut hanya merupakan sebagian dari  kehidupannya yang sibuk dan penuh. Ia adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Amy selalu berdoa untuk menjadi seorang ibu dan istri yang baik, mengasihi anak-anaknya dan mendorong mereka menjadi diri mereka sendiri -- dan supaya Allah menolongnya melihat dirinya sebagaimana adanya dan melihat Dia sebagaimana adanya.
   Setiap minggu, ia memimpin acara penyembahan dan ibadah di gerejanya    dan banyak pelayanan yang berkaitan dengan profesinya.

   Ia juga pernah menjadi juru bicara untuk Operation Desert Song, yang    menyediakan musik dan mendorong pasukan AS di Timur Tengah.
   Ia membuka rumahnya untuk suatu aktivitas yang  disebut "The Loft" (serambi), yang telah memberikan dampak positif pada ratusan remaja di daerah sekitar Nashville.

   Selama beberapa minggu, Amy dan sebelas pemimpin dewasa menyajikan    acara-acara seperti kesaksian, doa, dan tentu saja musik. Tak diperlukan tiket masuk dan iklannya dilakukan dari mulut ke mulut. Jumlah pesertanya dibatasi hanya 450 saja.

   Kegiatan ini merupakan kesempatan di mana seseorang dapat membawa    temannya yang bukan Kristen dan memperlihatkan kepada mereka bahwa  orang Kristen memiliki kegiatan yang bermanfaat.

   Seorang remaja bukan Kristen yang ikut serta memperoleh pengalaman    yang mengubah hidupnya. Amy bercerita, "Pada waktu kegiatan The Loft ini baru dimulai, seorang gadis menulis pada kartu doanya, 'Saya terhilang.' Ia pernah tidur dengan pacarnya dan memunyai masalah dengan alkohol. Pada minggu ketujuh, seorang pekerja memimpin ibadah, dan pada akhir kebaktian, ia mengundang siapa pun yang mau menerima Yesus ke dalam hatinya. Gadis ini berdiri. Kini, ia sudah mulai ikut PA. Saya ingin hidup saya dipenuhi adegan-adegan seperti ini. Dan lebih dari itu, keinginan saya untuk menjadikan rekaman saya sebagai barometer akan apa yang sedang saya lakukan terhadap   Tuhan menjadi semakin berkurang."

   Perjalanan Amy Grant selama 15 tahun di belantara musik Kristen telah membawanya cukup jauh. Ia memulai kariernya dengan menjadi penyapu lantai dan bertugas melepaskan magnet pada "head tape" di sebuah studio rekaman di Nashville. Dewasa ini, sementara ia diakui sebagai penyanyi paling top di kalangan umat Kristen di AS, ia memandang hasil karyanya dengan pandangan penuh kasih dan hikmat.
   "Peran saya dalam musik kontemporer Kristen dalam dasawarsa terakhir    sangat terbatas dan aman," katanya. "Dengan kasih karunia Allah, apa yang sudah saya lakukan telah memberikan dampak yang berarti bagi banyak orang. Saya masih berharap bahwa Allah akan memakai saya untuk memberikan dampak positif kepada anak-anak. Tetapi saya melakukannya melalui cara yang sama sekali baru."

   Ia menambahkan, "Seorang Kristen, di mana pun ia berada, harus menjadi yang terbaik. Sebagai penyanyi Kristen, itu berarti bahwa saya harus memanfaatkan bakat yang diberikan Allah di dalam diri saya. Permintaan saya yang utama kepada orang banyak ialah jangan terikat saja pada pola agama. Sebaliknya, biarlah kita berkata, 'Bagaimana Kristus yang diam dalam diri saya mengubahkan kehidupan saya? Bagaimana saya menunjukkannya di hadapan orang banyak?'"


Jika Anda seorang Amy Grant, Anda memperlihatkannya dengan menjadi ibu    dan istri yang baik, memimpin kegiatan-kegiatan di gereja, memberi  perhatian kepada para remaja, bersaksi kepada orang-orang asing di    pesawat udara, dan juga membuat rekaman lagu dan terjun ke dunia tempat kita hidup karena di situlah tempat kebanyakan ikan berenang.