Rabu, 26 Juni 2013
Senin, 24 Juni 2013
PASKAH KENAIKAN BBM
PASKAH KENAIKAN BBM
Kalau kita perhatikan hari-hari ini adanya keputusan pemerintah yang merencanakan kenaikan BBM, dimana alasan dari kenaikan itu dilandasi oleh beberapa faktor :
1. Harga BBM di indonesia sangat rendah dibandingkan dengan BBM di negara-negara lain, khususnya negara yang berdekatan dengan kita.
2. dengan harga BBM kita yang sangat rendah ini maka, diperkirakan yang menikmati subsidi (selisih harga yang ditanggung pemerintah dari perbandingan harga dengan harga inernational) yang hampir 100 % contohnya : Bensin Premium dimana di Indonesia dihargai Rp.4.500,- sedangkan dinegara tetangga sudah diatas Rp.9.000. adalah orang-orang yang memiliki kendaraan yang seharusnya tidak layak menerima subsidi.
3. Akibadnya ada penjomplangan kenikmatan subsidi karena diperkirakan yang banyak menikmati subsidi itu bukan rakyat biasa, tetapi adalah golongan menengah keatas, (kalaupun ada rakyat biasa yang menikmatinya walaupun dihitung tidak terlalu banyak).
4. Karena ternyata dari subsidi yang diberikan dengan patokan tertentu oleh pemerintah untuk menjalankan APBN ternyata tidak pernah terpenuhi tetapi selalu melebihi dari plan subsidi pemerintah dan ini sangat memberatkan APBN.
Dengan dasar inilah pemerintah akhirnya membuat keputusan untuk menaikan harga BBM, dan setelah dengan perdebatan yang cukup panjang akhirnya DPR membuat keputusan untuk menyetujui revisi rancangan APBN yang menurut beberapa pengamat dan Partai Oposisi sangat tidak layak BBM itu dinaikan karena menurut perhitungan dan analisa mereka Pemerintah masih bisa untuk tidak menaikan harga BBM yang ada, dengan berbagai alasan dan analisa yang baik dan akurat.
tapi ternyata di Dewan (DPR) semua kritisi dari Pengamat dan Partai Oposisi tidak menang bahkan akhirnya diputuskan dengan suara yang cukup untuk diputuskan.
Dan ternyata setelah kenaikan BBM yang sudah berjalan beberapa hari ini yang diperkirakan akan ada gejolak sosial yang akan melakuan gerakan membuat referendum terhadap Pemerintah khususnya Presiden Susilo Bambang Y, tidak terjadi papa-apa, mau dikatakan yah cukup adem ayem, walaupun ada sedikit dari beberapa daerah yang berdemo melalui mahasiswa-mahasiswa dan angkutan umum yang dibeberapa tempat secara sepihak menaikan ongkos angkutan umumnya, tapi secara umum tidak terlalu memiliki dampak yang akan mengganggu pemerintahan yang ada dan ternyata gerakan-gerakan intensitasnya semakin mengendur.
Belum lagi kita melihat pemerintah melalui menteri-menteri terkait yang bergerak terus untuk memberikan BLSM secara cepat dan maraton, yah kami berharap apa yang telah disepakati ini di DPR benar-benar dapat dilaksankan dengan baik. walaupun dari beberapa kejadian atau peristiwa perubahan harga BBM ditahun-tahun sebelumnya tidak terlalu berdampak positif terhadap masyarakat, kita berharap/walaupun masih pesimis kita lihat kedepan, benarkah Pemerintah kita yang sekarang sungguh-sungguh memperhatikan rakyat....Walualam....
Bekasi, 24 Juni 203.
karyadim642.blogspot.com
Matius 2:13-15, The Flight into Egypt (Menyingkir ke Mesir)
Matius 2:13-15
13. Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat
Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: "Bangunlah, ambillah Anak itu
serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman
kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia."
14. Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya
malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,
15. dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi
supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: "Dari Mesir Kupanggil
Anak-Ku."
The Flight into Egypt
13 Now when they had
departed, behold, an angel of the Lord appeared to Joseph in a dream, saying,
"Arise, take the young Child and His mother, flee to Egypt, and stay there
until I bring you word; for Herod will seek the young Child to destroy
Him."
14 When he arose, he took the young Child and His
mother by night and departed for Egypt,
15 and was there until the death of Herod, that it
might be fulfilled which was spoken by the Lord through the prophet, saying, "Out of Egypt I called My Son."
13
|
Kalau kita lihat ayat-ayat di Perjanjian Lama bagaimana ketika
orang Israel tertindas, terancam di Israel, mereka akan menyelamatkan diri ke
Mesir, jadi waktu peristiwa Yesus dibawa oleh orang tuanya menyingkir ke mesir
secara kebiasaan itu adalah hal yang normal, ketika Yusuf mengalami hal itu dan
diperintahkan oleh malaikat untuk sementara menyingkir ke Mesir, bagi Yususf
itu bukan hal yang terlalu aneh,.
Tetapi untuk Yususf dimana keadaanya sebagai orang yang
sederhana adalah sesuatu yang tidak umum kalau dia dan keluarganya harusn lari
keMesir, tetapi ini adalah suatu peristiwa yang luar biasa bagi Yusuf karena
dia mendapatkan perintah untuk menyingkir dari Israel ke Mesir adalah perintah
dari Malaikat, dimana tujuan dari penyingkirannya ke Mesir adalah untuk keselamatan
anaknya bayi Yesus.
Dari ulasan sejarah tentang kebiasaan orang Israel yang kalau
ada masalah menyingkir ke Mesir kita bisa melihat sejarah bagaimana di Mesir
itu ada koloni-koloni Yahudi dan di Kota Aleksandria diperkirakan ada satu juta
orang Yahudi.
Sehingga waktu Yesus dan orang tuanya datang ke Mesir mereka
pasti tidak terlalu asing di negeri Mesir itu karena banyaknya orang Yahudi
yang ada disana.
Dari perikop dan ayat diatas saya mau menjelaskan sedikit
tentang Yusus yang begitu luar biasa sebagai seorang laki-laki pada Zaman itu.
Dan ada beberapa hal yang penting dari karakter Yusuf ini yang menarik:
1. Dalam
penderitaan ia tetap mendengar Firman Tuhan. ayat 13-15.
Allah menyuruh dia lari ke Mesir. Yusuf mempunyai alasan
yang kuat untuk memprotes perintah Tuhan yang dikatakan melalui Malaikat Tuhan
itu. Bukankah Anak yang dilahirkan Maria itu disebut sebagai Juruselamat Matius 1:21
? Lalu mengapa Juruselamat itu tidak bisa menyelamatkan mereka, bahkan
Juruselamat itu harus diselamatkan dengan cara yang begitu ‘tidak ilahi’ yaitu
melarikan diri? Bukankah pada masa yang lalu Allah sering menyelamatkan umatNya
dengan cara-cara yang spektakuler / luar biasa, seperti :
- membelah Laut Merah
(Keluaran 14:15-31),
- membutakan orang kafir yang mau menangkap nabiNya (2 Raja 6:8-23),
- menurunkan api dari langit untuk membakar orang-orang yang mau menangkap
nabiNya (2 Raja 1:1-12),
- dsb?
Pertanyaannya mengapa sekarang, untuk menyelamatkan
AnakNya sendiri, Allah menggunakan cara yang begitu ‘tidak Ilahi’? Tetapi
sekalipun ada alasan untuk protes, Yusuf tidak melakukan itu dan ia taat kepada
Tuhan.
Tetapi sering saudara sebaliknya begitu mendapatkan masalah, apakah itu
keuangan, keluarga, pribadi, usaha dan lain-lain, kita jarang sekali mau
mendengar suaranya baik melalui Pembacaan Firman, khotbah, konseling dengan
hamba Tuhan, dan lain-lain.
Dan ketika mendengarnya sering saudara ingin Tuhan
menjawabnya dengan keinginan saudara yaitu melalui Mujizat yang luar biasa. Pada waktu saudara minta tolong kepada Tuhan, saudara tidak boleh
mendikte Dia dengan cara apa Ia harus menolong saudara.
Biarlah Ia yang memilih
dan menentukan caraNya dan saudara harus percaya bahwa cara yang diberikan itu
adalah yang terbaik. Misalnya pada waktu saudara sakit, janganlah menentukan
bahwa Tuhan harus menyembuhkan saudara dengan menggunakan cara yang luar biasa,
yaitu dengan menggunakan mujijat kesembuhan. Tuhan bisa menggunakan cara yang
biasa, yaitu melalui dokter, obat, olah raga, istirahat, dsb.
2. Yusuf taat secara langsung, bahkan terus-menerus dia Taat (Tekun).
(ayat 14 - ‘malam itu juga’).
Waktu menerima perintah ini Yusuf tidak menunda-nunda dan firman mengatakan
saat itu juga dia pergi mengikuti perintah yang tuhan berikan. Dan dikatakan
Firman Yusuf melakukan itu tidak setengah-setengah, dia bisa saja melanggar
perintah, baru beberapa waktu di Mesir dia balik kembali atau dia pergi ke kota
lain dan lain sebagainya dalih yang akan dia lakukan untuk tidak taat sampai
selesai perintah Tuhan, tetapi yang terjadi dia melakukan dengan Taat sampai ada
tuntunan kembali dari Tuhan untuk dia kembali ke Israel. itulah yang disebut
ketaatan yang dilakukan dengan Tekun.
Jangan menunda untuk mentaati Firman Tuhan! Penundaan adalah ketidaktaatan!
Ingat juga bahwa setan selalu bisa memberikan alasan yang kuat dan logis supaya
saudara menunda ketaatan saudara! Misalnya dalamn hal melayani Tuhan. Pada masa
pemuda / remaja, setan mengusulkan supaya saudara menunda pelayanan dengan
alasan bahwa ini adalah masa muda yang indah, masa pacaran, masa belajar dsb.
Pada waktu saudara sudah dewasa dan bekerja, setan memberikan begitu banyak
kesibukan sehingga saudara menunda lagi. Pada saat sudah tua, kesehatan saudara
tidak memungkinkan untuk melayani Tuhan. Jadi akhirnya, dari penundaan datang
pembatalan!
Dari penjelasan
yang sederhana akan perikop dan ayat diatas, kita dapat melihat sisi positif
dari seorang yang bernama Yusuf, dia mau mendengar
suara Tuhan dan bukan hanya mendengar tetapi dia mau Taat dengan melakukan perintah tuhan dan bukan hanya Taat dan
melakukan tetapi dikatakan dengan Tekun
dia menunggu di Mesir sampai perintah Tuhan selanjut.
Bekasi,
24 Juni 2013.
Karyadim642.blogspot.com
Sabtu, 22 Juni 2013
Jumat, 21 Juni 2013
PEMERIKSAAN DIRI SECARA JUJUR.
PEMERIKSAAN DIRI SECARA JUJUR.
(melakukan iman dan pelayanan
tanpa Motivasi)
1.
Apakah di dalam diri kita ada pamrih terhadap
hal-hal baik yang kita lakukan?
2.
Apakah hal-hal yang baik tersebut kita lakukan
benar-benar bersih dari pamrih, dari keinginan menonjolkan diri sendiri?
3.
Apakah kepergiaan kita ke Gereja benar-benar untuk bertemu dengan Tuhan? Atau sekedar
memenuhi kebiasaan dan keterhormatan kita ?
4.
Apakah hal-hal yang kita lakukan didalam Gereja
benar-benar kita tujukan kepada Kristus, atau hanya kepada diri kita sendiri ?
5.
Apakah doa-doa kita , serta Alkitab yang kita bawa
dan yang kita baca, hanya menambah kebanggaan diri atau mendekatkan diri kepada
Tuhan?
6.
apakah keKristenan hanya sebagai sesuatu yang
menyenangkan diri kita sendiri?
silahkan periksa sendiri, kiranya hati dan motivasi kita benar dihadapan Tuhan.
Bekasi, 21 Juni 2013
Karyadi M
HAL YANG BOLEH DAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DALAM PELAYANAN PELEPASAN
HAL YANG
BOLEH DAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DALAM PELAYANAN PELEPASAN
1.
Jangan memberikan tempat berpijak bagi Setan.
Kisah Rasul 8:7; Markus 1:26
a.
Jangan mengharapkan manifestasi. Kisah 16:18; Matius
9:33, Markus 9:26, 25,20
b.
Jangan berbincang-bincang dengan roh Jahat. 2
Petrus 2:4, Markus 1:34, Kisah Rasul 16:17.
c.
Jangan mengutuki Roh Jahat. 2 Petrus 2:9-11.
d.
Jangan memerintahkan Roh Jahat. Untuk menyebut
namanya sendiri. Markus 5:9; Yohanes 8:44.
2.
Prioritas pelayanan Konseling anda yang pertama
adalah menjalin hubungan. Yakobus 4:2,7; Markus 9:14-29.
a.
Mulailah dengan suatu wawancara.
b.
Jadilah seperti anda sendiri, dan sesuaikanlah
diri anda dengan orang yang anda layani. Yohanes 8:11; 1 Korintus 9:22.
c.
Jangan mendewakan metode.
d.
Berteriak kepada Roh Jahat. Markus 9:25.
e.
Mengikat sebelum mengusirnya keluar. Matius 12:29;
Markus 3:27; Lukas 11:22.
Bekasi, 21 Juni 2013
Karyadi M
Kegigihan Penerjemah Perjanjian Baru
PENERJEMAH
PERJANJIAN BARU YANG PALING GIGIH
Di antara ratusan suku bangsa dalam
negara kesatuan Indonesia, suku manakah yang terbanyak orangnya?
![]() |
| karyadim642.blogspot.com |
Di antara ratusan suku bangsa itu,
suku manakah yang orang-orangnya terpilih menjadi baik Presiden pertama maupun
Presiden kedua Republik Indonesia?
Tentu saja, hanya ada satu jawaban
yang benar bagi kedua pertanyaan tadi, yaitu: suku Jawa.
Nah, perhatikanlah pertanyaan yang
ketiga ini:
Siapakah yang mula-mula memberi
hadiah terbesar kepada suku Jawa, yaitu: Kitab Perjanjian Baru yang tertulis
dalam bahasa mereka sendiri?
Jawaban atas pertanyaan itu, sama
juga dengan judul pasal ini: "Penerjemah Perjanjian Baru yang Paling
Gigih."
Siapakah dia itu? Dan mengapa banyak
seseorang yang bersifat "paling gigih" itu yang sanggup memberi
hadiah kepada orang-orang Jawa berupa Firman Tuhan yang tertulis dalam bahasa
Jawa?
Namanya, Gottlob Bruckner. Ia lahir
pada tahun 1783 sebagai salah seorang di antara enam putra dalam keluarga
seorang petani di desa Linda, daerah Saksen, di negeri Jerman.
Pembaca
yang tahu bahasa Jerman, akan tahu pula bahwa keluarga Bruckner adalah orang-orang
Kristen yang amat saleh. Buktinya? Nama yang diberikan kepada seorang anak
laki-laki dalam keluarga itu: "Gottlob" berarti "Puji
Allah!"
Sering
ayah si Gottlob menyanyikan lagu-lagu rohani dengan keenam putranya.
Malam-malam
ia suka membacakan buku-buku Kristen kepada mereka.
Sesudah
Gottlob Brucner mencapai umur dua puluh tahun, ia meninggalkan rumah orang
tuanya di desa untuk mengadu nasib di kota. Ayahnya menangis pada saat mereka
berpisah. "Ingatlah ini: Yesus Kristus, yang telah bangkit dari antara orang
mati!" seru sang ayah pada waktu pemuda itu hendak menempuh perjalanan.
Gottlob
Bruckner mengenali perkataan ayahnya itu sebagai kutipan ayat dari Kitab Perjanjian
Baru. Ia pun menyadari bahwa isi Firman Allah itu sangat penting bagi ayahnya.
Si
Gottlob tidak mempunyai uang untuk naik kendaraan umum. Delapan hari lamanya ia
berjalan kaki, baru ia tiba di ibu kota Berlin.
Selama
mencari pekerjaan tetap di kota, Gottlob Bruckner mulai berkenalan dengan beberapa
pemuda lainnya. Dan melalui perkenalan itu ia pun mulai ragu-ragu tentang
kebenaran isi Alkitab. Sungguh pentingkah kitab kuno itu, untuk kaum muda yang
hidup berabad-abad terkemudian?
Syukurlah,
si Gottlob juga berkenalan dengan seorang gembala sidang di kota Berlin.
Khotbah-khotbah pendeta itu menyebabkan dia banyak berpikir dan banyak berdoa.
Untuk pertama kalinya ia sengaja memihak Tuhan Yesus Kristus atas keputusannya
sendiri, dan bukan karena ia ikut-ikutan kepercayaan orang tuanya.
Pendeta
di Berlin itu sering menerjemahkan dan membacakan surat-surat dari Dr.William
Carey. William Carey berasal dari rakyat biasa di negeri Inggris, sama seperti
Gottlob Bruckner berasal dari rakyat biasa di negeri Jerman. Pada waktu si
Gottlob masih sibuk membajak ladang milik ayahnya, William Carey telah meninggalkan
tanah airnya dan pergi ke India sebagai utusan Injil. Setelah tujuh tahun
lamanya ia memberitakan Kabar Baik di sana, baru ada orang-orang India yang
rela percaya kepada Tuhan Yesus. Namun surat-surat yang masuk dari Dr. Carey
pada tahun-tahun 1800-an itu melaporkan adanya banyak orang Kristen baru
di
negeri India.
Suara hati
Gottlob Bruckner seolah-olah berbisik: Engkau pun harus menjadi utusan Injil!
Gembala
sidang di ibu kota yang telah menemaninya itu juga menyelenggarakan semacam
kursus ketrampilan untuk calon penginjil. Hal itu amat menguntungkan bagi si
Gottlob. Pendidikannya sangat kurang, sehingga pasti ia tidak memenuhi syarat
masuk ke sekolah kependetaan biasa.
Selama
satu setengah tahun Gotllob: Pendidikannya sangat kurang, sehingga pasti ia
tidak memenuhi syarat masuk ke sekolah kependetaan biasa.
Selama
satu setengah tahun Gottlob Bruckner berguru kepada pendeta di Berlin itu.
Kemudian ia dikirim ke negeri Belanda untuk meneruskan pendidikan teologinya.
Tidak
mudah bagi pemuda keluarga petani dari daerah Saksen itu untuk pergi merantau
dan mempelajari bahasa asing! Bahasa Belanda agak mirip dengan bahasa Jerman,
namun mengikuti kuliah dalam bahasa Belanda itu merupakan suatu tantangan
besar. Tetapi Gottlob Bruckner bersifat paling gigih. Ia tekun belajar, dan ia
tetap berkuliah selama tiga tahun.
Pada
tahun 1811, suatu badan zending umat Kristen di Belanda sudah siap mengirim Gottlob
Brukner dan dua kawan seangkatannya sebagai utusan Injil. Tetapi rupanya mustahil
mereka dapat melaksanakan rencana itu. Kaisar Napoleon dari Perancis telah
mengobarkan perang di mana-mana di benua Eropa, sehingga semua kapal batas antarnegara
itu tertutup. Negeri Belanda sendiri sedang dijajah oleh orang Perancis.
Kapal-kapal laut tidak boleh berlayar: Pelayaran itu dikhawatirkan akan membawa
untung untuk negeri Inggris, musuh kawakan Kaisar Napoleon.
Mula-mula
badan zending di Belanda mengirim Gottlob Bruckner dan kedua kawannya itu ke
Jerman lagi selama satu tahun, untuk berkuliah lebih lanjut. Lalu mereka mendapat
akal: Ketiga calon utusan Injil itu dapat menyamar menjadi rakyat biasa.
(Memang mereka itu rakyat biasa, walau sudah dipersiapkan untuk tugas khusus.)
Dengan diam-diam mereka dapat melintasi tapal batas dari Jerman ke Denmark,
lalu dari Denmark ke Swedia, kemudian dari Swedia ke Inggris. Akhirnya dari
Inggris mereka dapat dikirim sebagai utusan Injil.
Gottlob
Bruckner tidak tahu kapan ada kemungkinan ia harus dapat melarikan diri dari
pihak yang berwajib. Jadi, tak mungkin ia membawa serta koper-kopernya yang besar
hanya satu jinjingan yang kecil saja. Ia pun tidak tahu kapan kemungkinan ia
akan digeledah oleh para pengawal tapal batas negeri. Jadi, tak mungkin ia membawa
serta surat perkenalan dari badan zending di Belanda itu kepada badan zending
di Inggris: Boleh jadi ia ditembak mati atas tuduhan menjadi mata-mata orang
Inggris!
Sesuai
dengan dugaan sebelumnya, polisi Jerman di kota Hamburg hendak menghambat rencana
perjalanan ketiga calon utusan Injil itu. Akhirnya mereka berhasil meloloskan
diri ke negeri Denmark. Dari sana mereka naik sebuah kapal layar nelayan ke
Swedia, lalu naik kapal laut lain lagi dari Swedia ke Inggris. Perjalanan yang
berputar-putar jauh itu memakan waktu dua bulan.
Umat
Kristen di negeri Inggris menyambut mereka dengan gembira. Namun sebelum ketiga
calon itu dapat diangkat menjadi utusan Injil, mereka harus diuji dulu. Tentu
saja ujian itu diberikan dalam bahasa Inggris, . . . dan tentu saja tidak ada
seorang pun yang lulus. "Kalian harus belajar lebih banyak lagi," demikianlah
keputusan badan zending di negeri Inggris itu.
Seseorang
yang bersifat kurang gigih mungkin akan pulang saja ke daerah Saksen. Tetapi
Gottlob Bruckner adalah seorang yang paling gigih. Ia rajin belajar bahasa
Inggris seperti ia dulu rajin belajar bahasa Belanda. Setelah satu tahun berkuliah
di sebuah seminari teologia di negeri Inggris, ia ditahbiskan serta dilantik
menjadi utusan Injil.
Nah,
masih ada persoalan: Ke mana ia akan diutus? Ada orang Kristen yang mengusulkan
Guyana, di benua Amerika Selatan. Ada yang menyarankan pulau Malagasy yang
besar, yang letaknya dekat pantai timur benua Afrika. Ada pula yang
mengutarakan Jawa, sebuah pulau besar yang penduduknya lebih banyak lagi daripada
penduduk pulau Malagasy. Dalam peperangan melawan Kaisar Napoleon, negeri
Inggris telah merebut pulau Jawa itu dari negeri Belanda. Jadi, hubungan laut
antara Inggris Raya dengan pulau Jawa sedang terbuka.
Sementara
itu, Kaisar Napoleon terlihat bakal kalah secara tuntas. Dengan menjelangnya
masa perdamaian lagi, koper-koper besar yang memuat seluruh harta milik Gottlob
Bruckner itu dapat dikirim lewat Terusan Inggris ke Ibu kota London. Tetapi
kemudian gudang tempat penampungan barang-barang miliknya itu kebakaran, dan
seluruh isinya musnah jadi abu.
Namun
Gottlob Bruckner masih tetap bersifat gigih. Ia melupakan kerugiannya serta
kekecewaannya. Tepat pada tanggal 1 Januari 1814, ia berangkat menuju tempat
pelayanannya sebagai utusan Injil. Kapal yang ditumpanginya itu nyaris tenggelam
dalam topan dekat khatulistiwa, namun akhirnya sanggup membuang sauhnya di
Afrika Selatan. Di sana Pdt. Bruckner dan kedua kawannya itu giat berkhotbah
kepada orang berkulit putih dan orang berkulit hitam, sampai ada kapal lain
yang siap mengantar mereka ke kepulauan Indonesia.
Ketiga
orang itu mendarat di Ibu kota Jakarta. Di situ mereka disambut dengan hangat
oleh Gubernur Raffles yang tersohor. Lalu Pdt. Bruckner berpamitan, dan seorang
diri ia naik kapal lagi menuju Semarang. Dua kali kapalnya diserang oleh bajak
laut. Setelah mendarat lagi, ia harus berjalan kaki melalui hutan tempat harimau
masih berkeliaran.
Di
kota Semarang ia menjadi gembala sidang di sebuah gedung gereja besar, yang telah
didirikan oleh orang Belanda jauh sebelum Pdt. Bruckner lahir. (Gedung yang
terbuat dari batu itu hingga kini masih dapat dilihat: Letaknya di Jalan Raden
Saleh, tidak jauh dari pelabuhan lama di Semarang.) Kebanyakan anggota gereja
itu orang Belanda atau orang Indo.
Hanya
empat bulan setelah ia tiba di Semarang, Gottlob Bruckner menikah dengan putri
seorang pendeta Belanda yang sudah tua. Kemudian suami istri itu dikarunia anak
satu demi satu, sampai ada delapan bayi lahir dalam keluarga mereka. Tetapi pada
masa itu belum ada obat yang mujarab untuk berbagai macam penyakit yang menyerang
anak kecil di daerah tropika; empat orang di antara kedelapan anak dalam
keluarga Bruckner itu meninggal pada waktu masih kecil.
Pada
suatu hari ketika Pdt. Bruckner sedang bepergian ke Surakarta dan Yogyakarta,
tibalah dua utusan Injil baru di Semarang. Mereka itu Pdt. dan Ibu Thomas
Trowt, orang-orang Baptis dari Inggris. Ternyata Gottlob Bruckner dan Tom Trowt
seumur; tidak lama kemudian mereka juga menjadi sahabat karib. Pdt. Bruckner
kagum akan kepintaran Pdt. Trowt, dan juga kagum akan ketekunannya mempelajari
bahasa Jawa.
Gottlob
Bruckner sendiri telah pandai berbahasa Melayu, bahasa Indonesia kuno. Dengan
cepat ia menyadari bahwa kebanyakan anggota gereja sesungguhnya tidak mengerti
khotbah-khotbah dalam bahasa Belanda. Yang lebih penting lagi: Kebanyakan di
antara mereka itu tidak mengerti sama sekali apa artinya menjadi orang Kristen.
Pdt. Bruckner makin lama makin sedih melihat orang-orang yang hidupya jahat
sepanjang minggu, namun mereka rajin ke gereja pada hari ibadah. Dan sebagai
gembala sidang ia wajib menyambut mereka di gedung batu yang besar itu,
seakan-akan merekalah orang-orang Kristen yang tulen.
Gottlob
Bruckner banyak berbincang-bincang dengan Tom Trowt mengenai masalah itu. Ia
banyak berpikir tentang arti pembabtisan. Ia pun banyak belajar Kitab Perjanjian
Baru.
Akhirnya
ia mengambil suatu keputusan. Pada hari Minggu, tanggal 31 Maret 1816, ia
menaiki tangga ke mimbar tinggi dalam gedung gereja yang terbuat dari batu itu.
Dari Alkitab bahasa Belanda ukuran besar yang terletak di atas mimbar itu, ia
pun membacakan nas khotbahnya dari Kitab Injil (Yohanes 5:39-40)
"Kamu
menyelidiki Kitab-Kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa olehnya kamu mempunyai
hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-Kitab Suci itu memberi kesaksian
tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup
itu."
Lalu
Pdt. Bruckner sungguh mengagetkan jemaatnya: "Aku akan dibaptiskan,"
ia mengumumkan. "Sekarang aku
mengerti bahwa Alkitab mengajar agar kita dibaptiskan dengan diselamkan setelah
kita sendiri percaya kepada Tuhan Yesus secara pribadi, dan bukan
sebelumnya."
Hari
Minggu yang berikutnya, Tom Trowt membaptiskan Gottlob Bruckner dalam Kali Banjir
Kanal, yang mengalir melalui kota Semarang sampai ke muaranya di Laut Jawa.
Banyak anggota gereja Belanda yang datang menyaksikan upacara itu. Tetapi tidak
lama kemudian, mereka memecat Pdt. Bruckner dari jabatannya sebagai gembala
sidang.
Untung,
ia masih mempunyai sebuah rumah (mungkin warisan dari ayah mertuanya). Ia
mengajak Pdt. Trowt sekeluarga untuk tinggal bersama-sama dengan dia. Tetapi hanya
enam bulan kemudian, Tom Trowt meninggal. Badan zending di Inggris itu tak mungkin
mengirim seseorang sebagai penggantinya. Peperangan sudah mereda, dan pulau
Jawa sudah dikembalikan kepada bangsa Belanda.
Pdt.
Bruckner menyambut perkembangan sejarah itu dengan menulis surat kepada Dr.William
Carey di India, dan kepada orang-orang Baptis di Inggris yang mendukung pelayanan
Dr. Carey. Sebagai akibatnya, ia sendiri ditunjuk sebagai pengganti Thomas
Trowt, dengan sokongan tetap dari umat Baptis di negeri Inggris.
Gubernur
baru yang ditunjuk oleh Negeri Belanda itu bertitah: "Semua utusan Injil
dari Inggris harus meninggalkan pulau Jawa." Tetapi Pdt. Bruckner dapat membuktikan
bahwa ia seorang Jerman, yang pandai juga berbicara bahasa Belanda.
Maka ia diizinkan terus menetap di Jawa Tengah.
Sebelum ia
meninggal, Tom Trowt telah mulai menyiapkan suatu kamus bahasa Jawa. Ia juga
telah mulai menerjemahkan Kitab Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jawa. Hasilnya tidak seberapa, dan karyanya yang sedikit itu
pun sudah hilang. Namun Gottlob Bruckner, orang yang paling gigih itu, bersedia
meneruskan tugasnya.
Bahasa
Jawa ternyata jauh lebih sulit daripada bahasa Jerman, bahasa Belanda, bahasa
Inggris, atau pun bahasa Melayu. Setiap pagi Pdt. Bruckner bergumul dengan
buku-buku dan guru-guru. Setiap sore ia berjalan kaki melalui desa dan kampung,
sambil berusaha mengucapkan kata-kata yang dapat dipahami oleh penduduk setempat.
Ternyata
orang-orang Jawa tidak mau mendengar Kabar Baik mengenai Tuhan Yesus. Rupanya
pulau Jawa adalah ladang penginjilan yang lebih sulit lagi daripada negeri
India pada saat William Carey mula-mula pergi ke sana.
Lambat
laun Gottlob Bruckner menyadari betapa pentingnya isi Alkitab dalam bentuk
tertulis disampaikan kepada suku Jawa. Jadi, dengan gigih ia melanjutkan tugas
terjemahannya. Pada tahun 1819 ia sudah menyelesaikan keempat Kitab Injil. Pada
tahun 1820 ia sudah mengerjakan seluruh Perjanjian Baru. Pada tahun 1823 ia sudah
memperbaiki naskah-naskahnya dan merasa bahwa semuanya itu sudah rampung, siap
untuk dicetak.
Tetapi soalnya,
bagaimanakah Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa itu dapat dicetak?
Umat Kristen di
negeri Inggris mengirimkan sebuah mesin cetak kepada Gottlob Bruckner. Namun
sayang, tidak ada seorang pun di seluruh pulau Jawa yang tahu bagaimana
menjalankannya. Lagi pula, aksara-aksara Jawa itu berbeda daripada huruf-huruf
semua bahasa lainnya di seluruh permukaan bumi.
Di samping itu,
masih ada juga soal lain. pada tahun-tahun 1820-an, Pangeran Diponegoro tengah
mengobarkan pemberontakan melawan kuasa penjajah. Gubernur Belanda tidak mau
mengizinkan apa-apa yang mungkin akan menghasut rakyat, .. . atau pun yang
mungkin akan mengurangi laba dari perkebunan-perkebunan besar yang diusahakan
di pulau Jawa.
Gottlob Bruckner
memang seorang penerjemah Perjanjian Baru yang paling gigih. Namun ia hampir
putus asa . . . ketika pada suatu hari ia menerima sepucuk surat dari India.
Selama 35 tahun William Carey setia melayani Tuhan Yesus di sana. Dalam
suratnya tadi Dr. Carey mengajak Pdt. Bruckner untuk datang mengunjunginya, dengan membawa serta naskah-naskah yang
berharga, yaitu Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa.
Pada
tahun 1828 Pdt. Bruckner berpamitan dengan istrinya dan kedua putrinya yang masih
kecil. Dengan disertai kedua putranya, ia pun berlayar menuju benua India. Tak
terlintas dalam pikirannya bahwa ia akan tetap terpisah dari keluarganya itu selama
tiga tahun.
Setibanya
di India, mula-mula ia harus mengajar para tukang cetak yang bekerja di bawah pengawasan
William Carey, tentang bagaimana caranya mengukir bentuk-bentuk yang menyerupai
huruf-huruf bahasa Jawa. Lalu ia sendiri harus uji coba setiap halaman yang
mereka cetak: Selain dia, tidak ada seorang pun di seluruh India yang mengerti
apa arti aksara-aksara yang sangat khas kelihatannya itu.
Putra
sulung Gottlob Bruckner, seorang bocah berumur tiga belas tahun, jatuh sakit
dan meninggal, jauh dari rumah dan ibunya. Pdt. Bruckner sendiri jatuh sakit
parah, sehingga ia harus mengungsi untuk sementara ke kota Malaka dan beristirahat
di sana.
Namun
tugas besar itu akhirnya juga selesai. Dengan ditemani oleh putra satu-satunya yang
masih hidup, Pdt. Bruckner berlayar lagi menuju Indonesia. Ruang di bawah geladak
kapal laut itu memuat barang yang sangat berharga: Dua ribu Kitab Perjanjian
Baru dalam bahasa Jawa, dua puluh ribu surat selebaran dalam bahasa Jawa,
bungkusan-bungkusan kertas, dan seperangkat aksara bahasa Jawa untuk dicocokkan
pada mesin cetak guna membuat cetakan-cetakan ulang.
Di
dekat pulau Kalimantan, kapal itu dilanda topan. Pdt. Bruckner dan putranya harus
memegang tiang layar; kalau tidak, mereka akan terbawa hanyut oleh ombak besar.
Bahkan nahkoda kapal berteriak, "Tidak ada harapan lagi!"
Namun
Tuhan mengindahkan doa-doa yang tulus pada hari itu. Sebuah kapal yang setengah
reyot dapat dengan susah payah mencapai tempat berlabuh di pulau Jawa.
Setelah
ia pulamg ke Semarang, Gottlob Bruckner hampir tidak mempynyai waktu untuk
bersalaman dengan istrinya dan kedua putrinya. Lima hari pertama setelah ia
tiba itu adalah hari-hari yang penuh dengan kegemparan. Sebanyak tujuh ribu surat
selebaran dalam bahasa Jawa dibagi-bagikan kepada rakyat yang berdesakan memperolehnya.
Tetapi
pemerintah penjajah masih kurang menyetujui apa pun yang diperkirakan akan
membangkitkan semua suku Jawa. Sepasukan tentara datang dan menyita sisa surat-surat
selebaran itu, serta hampir semua Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Jawa.
Hanya karya Gottlob Bruckner seumur hidupnya itu dikunci dalam sebuah almari besi
di ibu kota Jakarta.
Namun
Pdt. Bruckner tetap gigih, dan tetap mencari akal. Ia masih mempunyai bungkusan-bungkusan
kertas itu, serta aksara-aksara bahasa Jawa yang dapat dicocokkan pada mesin
cetak. Dengan diam-diam ia mencetak lagi surat-surat selebaran. Sedikit demi
sedikit ia mengedarkannya di antara orang-orang Jawa. Maka Kabar Baik dalam
bahasa Jawa itu tetap tersebar luas.
Pdt. Bruckner juga mengambil
tindakan khusus dengan dua di antara Kitab-Kitab Perjanjian Baru Bahasa Jawa
yang masih ada pada dia: Salah satunya diposkan kepada raja Belanda, dan yang
satunya lagi diposkan kepada raja Prusia (yaitu sebagian dari negeri Jerman).
Raja Prusia mengirimi dia sebuah medali emas sebagai tanda kehormatan atas
prestasi kesarjanaannya yang besar. Tetapi raja Belanda melakukan sesuatu yang
sesungguhnya lebih berguna: Ia mempengaruhi para pemerintah Belanda sehingga
mereka mengubah kebijaksanaan mereka tentang soal kebebasan beragama di pulau
Jawa.
Sedikit demi sedikit isi lemari besi
di Jakarta itu dikirim kmbali ke Semarang. Dan tentu saja Gottlob Bruckner
membagikan Kitab-Kitab Perjanjian Baru dan surat-surat selebaran itu kepada
orang-orang Jawa.
Namun sedikit sekali di antara
orang-orrang Jawa itu yang percaya kepada Tuhan Yesus! Badan zending umat
Baptis di negeri Inggris sering mendesak Pdt. Bruckner supaya ia mundur saja,
lalu pindah ke benua India. Tetapi Gottlob Bruckner adalah seorang yang paling
gigih. Ia masih tetap percaya bahwa benih Injil yang ditaburkannya itu akhirnya
juga akan berbuah.
Memang betul, ada panen rohani yang
sudah mulai bertunas semasa hidup Gottlob Bruckner. Anehnya, . . . hasil
pertama itu dituai bukan di Semarang atau pun di daerah sekitarnya, melainkan
di tempat yang jauh, di Jawa Timur.
Ketika umur Pdt. Bruckner sudah
mendekati enampuluh tahun, ia sempat berlayar menelusuri pantai utara pulau
Jawa sampai ke Surabaya. Di kota pelabuhan yangbesar itu, ia berkenalan dengan
bebeapa orang Jawa yang telah percaya kepada Tuhan Yesus. Ketika ia masuk ke
pedalaman, ia pun menemukan lebih banyak lagi petobat baru.
Ada seorang sepuh yang mengetuai
jemaat kecil di seluruh Desa."bagaimana Bapak sampai mendengar tentang
Tuhan Yesus?" tanya Pdt. Bruckner kepada orang yang sudah tua itu.
"Selama
dua puluh empat tahun, akulah yang memanggil umat beragama di desa ini, agar
mereka bersembahyang," jawab bapak itu." Lalu pada suatu hari,
seseorang memberi aku lembaran kecil ini." Dan ia menyodorkan kepada
tamunya itu sehelai surat selebaran yang telah diterbitkan oleh Gottlob
Bruckner sendiri.
Betapa
bahagianya hari-hari yang dihabiskan oleh Pdt. Bruckner dalam bersekutu dengan
umat Kristen di desa itu! Betapa senangnya dia oleh karena dengan gigihnya ia
telah pantang mundur menaburkan benih Injil berbentuk Firman Tuhan yang
tertulis dalam bahasa Jawa!
Sampai
akhir hayatnya, tanpa mengenal lelah Gottlob Bruckner memberi kesaksiannya
tentang Tuhan Yesus. Namun selama masa hidupnya itu hanya ada sedikit orang
Jawa yang menjadi percaya. Lagi pula, selama hampir satu abad sejak Pdt.
Bruckner meninggal pada tahun 1875, tidak ada utusan Injil Baptis lainnya yang
datang dari negeri mana pun juga untuk meneruskan pelayanannya.
Namun
ada juga pengganti-pengganti Pdt. Bruckner dari aliran gereja lain. Menjelang
akhir hidupnya yang panjang itu, pemerintah penjajah mulai mengizinkan kedatangan
utusan-utusan Injil baru dari negeri Belanda ke pulau Jawa.
Mereka
itu menemukan suatu ladang penginjilan yang sudah dibajak, siap untuk usaha
penaburan mereka. Mereka menemukan Kitab perjanjian Baru yang sudah diterjemahkan
ke dalam bahasa Jawa. Mereka menemukan surat-surat selebaran, dan lagu-lagu
rohani, dan kamus serta daftar kosa kata yang sangat
berfaedah, agar dengan lebih mudah mereka dapat mulai menyampaikan Kabar Injil
di antara suku Jawa.
Pada
abad yang kedua puluh ini, sudah ada ribuan, bahkan ratusan ribu orang Jawa yang
telah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Namun gerakan Kristen yang besar itu mungkin
sekali tidak pernah akan terjadi, seandainya hampir dua abad yang lalu tidak
ada seorang penerjemah Perjanjian Baru yang paling gigih.
TAMAT
Langganan:
Komentar (Atom)



