Senin, 27 April 2015

DOMBA YANG TERHILANG - THE LOST SHEEP, Lukas 15:1-7 (Luke 15:1-7)

karyadim642.blogspot.com
Luke 15: The Parable of the Lost Sheep
1  Then all the tax collectors and the sinners drew near to Him to hear Him.
2  And the Pharisees and scribes complained, saying, "This Man receives sinners and eats with them."
3  So He spoke this parable to them, saying:
4  "What man of you, having a hundred sheep, if he loses one of them, does not leave the ninety-nine in the wilderness, and go after the one which is lost until he finds it?
5  And when he has found it, he lays it on his shoulders, rejoicing.
6  And when he comes home, he calls together his friends and neighbors, saying to them, 'Rejoice with me, for I have found my sheep which was lost!'
7  I say to you that likewise there will be more joy in heaven over one sinner who repents than over ninety-nine just persons who need no repentance.

1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
4 Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Kalau kita perhatikan perikop ini tentang domba yang terhilang dan setelah kita baca ayat-ayat dari ayat pertama sampai dengan ayat ke 7 adalah berbicara tentang PERTOBATAN dan tentang GEMBALA yang baik, mari kita telaah ayat-ayat yang ada dengan hati yang terbuka kepada Tuhan Yesus, karena ayat ini begitu kuat berbicara tentang orang-orang yang sudah percaya dan mengenal Tuhan Yesus tetapi tidak sungguh-sungguh mengikuti Gembala Agung itu :

Ayat 1. Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
Siapakah Pemungut Cukai itu ?
Kalau kita perhatikan pada jaman Yesus, Pemungut cukai adalah orang-orang yang dipercayai oleh penjajah Romawi untuk menarik pajak terhadap wilayah jajahannya, dan biasanya yang dijadikan petugas pemungut Pajak itu adalah dari oraang-orang jajahan wilayah terssebut yang mau diajak kerjasama, dan mereka diberi wewenang untuk menarik pajak sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh Penjajah Romawi.
Singkatnya bagi orang Yahudi dimana mereka dijajah oleh orang Romawi, merasa benci dengan orang-orang Pemungut Cukai itu karena :
-      Pemungut cukai itu dianggap pengkhianat bangsa dan dianggap orang jahat dan najis bagi orang-orang Yahudi khususnya oleh ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.
-      Pemungut cukai sering melakukan penarikan pajak tidak sesuai dengan ketentuan yang di buat oleh Penjajah Romawi.
-      Pemungut cukai suka mengambil lebih dari yang seharus.
-      Rincian yang lebih rinci tentang Pemungut Cukai,silahkan dibaca di tulisan saya di http://karyadim642.blogspot.com/2013/05/calon-rasulmatthew-tax-collector.html

Siapakah orang berdosa itu ?
Tidak hanya menunjuk kepada para pezinah, pembunuh dan yang sejenisnya.
Seorang yang berdosa menurut Mishnah, hukum agama Yahudi. orang-orang Farisi yang memandang dirinya sebagai yang 'paling suci' menganggap remeh para gembala, penyamak kulit, pengendara keledai, pedagang kaki lima, pedagang besar dan pemungut cukai. Semua kelompok itu dipandang sebagai orang-orang yang najis, orang-orang berdosa. Di kalangan masyarakat mereka tergolong kelas bawah, kelas pinggiran.

Tapi orang berdosa ini senang datang kepada Yesus, bagaimana saudara dan saya apakah senang datang bertemu dengan Tuhan ? melalalui doa, Memuji, menyembahNya, Membaca dan merenungkan FirmanNya, dll

Ayat 2. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
Siapakah orang-orang Farisi ?
FARISI artinya adalah “yang dipisahkan”.
Pelaksana yang mempraktekan atau memberi teladan untuk menjalankan Hukum-hukum, Peraturan-peraturan, ketentuan-ketentuan yang dibuat oleh ahli Taurat, mereka di sebut orang-orang FARISI.

Orang yang memisahkan diri dari semua kegiatan hidup yang biasa, agar dapat memelihara berlakunya peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan tersebut.

Siapakah ahli-ahli Taurat ?
Ahli-ahli Taurat adalah orang yang dipercaya untuk menggali dan mengembangkan hukum-hukum, menjabarkan peraturan-peraturan serta ketentuan-ketentuannya.
Dan mereka selama hidupnya menggali dan meneliti prinsip dasar Hukum Taurat tersebut dan menghasilkan :
a.       Peraturan-peraturan.
b.       Ketetapan-ketetapan.
c.       Ketentuan.

Dan ahli-ahli Taurat itu menemukan ribuan jumlahnya Peraturan, ketetapan dan ketentuan yang ada. Yang disebut Misnah (Talmud Yerusalem dan Talmud Babel) untuk mengerti ini silahkan cari sendiri diberbagai literature dan buku (search di internet juga ada).

Orang-orang Farisi dan ahli Taurat ini bersungut-sungut kepada Yesus karena menurut Peraturan. Ketetapan dan Ketentuan yang mereka ketahui mereka tidak boleh bergaul dengan orang-orang berdosa ini.
Tetapi mereka melihat sesuatu yang mengejutkan hati mereka, seorang yang terpandang dan disebut sebagai seorang Guru yang seharusnya mengerti prinsip-prinsip pengembangan Taurat itu, untuk tidak bergaul dengan orang berdosa, lah ini kok bukan hanya ngobrol saja tapi makan dan kumpul bersama-sama dengan orang-orang berdosa.
Sangat mengejutkan untuk ahli Taurat dan prang Farisi tindakan Tuhan Yesus ini

Mereka beranggapan bahwa Yesus, sebagai seorang pengajar Alkitab yang mesti menghargai kehormatannya, seharusnya tidak bergaul dengan mereka. Jadi tindakan Yesus di dalam penilaian mereka menunjukkan bahwa Yesus tidak menghargai kedudukannya sebagai pengajar Alkitab, serta tidak menghargai tradisi orang-orang Farisi serta ahli kitab. Mengapa mereka berpikir seperti itu? Orang-orang Yahudi beranggapan bahwa untuk menjaga kemurnian mereka, seseorang tidak boleh bergaul dengan orang-orang berdosa. Ia harus menjaga jarak dari mereka agar tidak tercemar. Akan tetapi Yesus tidak takut tercemar.

Mengapa Yesus tidak takut tercemar? Karena kekudusannya tidak akan dapat dicemari. Bahkan kekudusan Yesus itu ketika disentuh mendatangkan kekudusan dan kuasa.
Didalam Perjanjian Lama Keluaran 29:37; Keluaran 30:29 Benda-Benda yang Kudus kalau disentuh oleh apapun jug maka yang menyentuhnya menjadi Kudus. Terlebih lagi Kristus yang empuhnya kekudusan, apa bila kita meyentuhnya maka saudara dan saya menjadi Kudus bahkan mendapatkan Kuasa dan Mujizat.(lih Matius 9:20-22; Markus 5:25-34; Lukas 8:43-48)
Jika Anda, sebagai seorang Kristen, telah menjadi kurban persembahan yang hidup bagi Allah (Roma 12:1-2), maka Anda tidak akan tercemar oleh dosa-dosa orang lain pada saat berhubungan dengan mereka. Anda seharusnya dapat menjadikan mereka kudus dengan kuasa Allah yang bekerja melalui Anda.
Kita, sebagai jemaat, menjadi orang-orang Kristen yang akan menjadikan orang lain kudus, yang tidak takut untuk berhubungan dengan orang-orang berdosa, dengan orang-orang non-Kristen. Mengapa kita harus takut berhubungan dengan mereka? Apakah Anda mengira bahwa kuasa mereka lebih besar dari pada kuasa yang ada di dalam diri Anda?  Kekristenan macam apa yang kita miliki? Jika kuasa Allah ada di dalam diri kita, Roh Kudus ada di dalam diri kita, dan kita adalah persembahan yang hidup, bagaimana mungkin kita bisa dicemari oleh orang-orang non-Kristen? Merekalah yang seharusnya terpengaruh dan diubah, kecuali jika kita memandang bahwa kuasa mereka lebih besar. (bacalah 1 Petrus 2:9)
Saya pernah mendengar ada hamba Tuhan yang tidak mau disentuh ketika mau berkhotbah, menurut saya itu hal yang konyol yang saya mengerti, seharusnya kita tidak perlu takut ketika kita disentuh oleh orang lain, bahkan kita harus Yakin bahwa dengan hidup kita yang telah diKuduskan oleh darah Yesus (Yang adalah Mezbah dan Korban yang kudus), siapa saja bisa menyentuh atau kita disentuh orang lain dan mereka menjadi kudus.

Ayat 3, 4-6. Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
Penekanan yang kedua adalah tentang Gembala, betapa perlunya kita mengerti tentang Gembala,
Di Palestina zaman itu. Yang Pemilik domba atau kambing tergolong miskin jika memiliki antara 20 sampai 30 ekor, sedangkan seorang gembala yang memiliki kawanan domba sebanyak 100 ekor, menunjukkan kemakmuran tingkat menengah sedangkan yang kaya bisa memiliki antara 200 sampai 300. Gembala yang diceritakan oleh Yesus ini memiliki 100 ekor domba, itu berarti ia masih dapat memberi perhatian kepada setiap dombanya satu per satu. Dengan demikian maka ia masih dapat menggembalai sendiri domba-dombanya tanpa harus mencari pekerja upahan.

Tetapi pada zaman Tuhan Yesus Gembala itu tidaklah menjadi orang-orang atau jabatan-jabatan yang dihormati, bahkan orang-orang Farisi memasukan mereka kedalam kumpulan orang-orang berdosa.

Dan karena kawanan domba itu dilepas berkeliaran sambil merumput di daerah perbukitan, sangat besar peluang seekor domba untuk bergerak menjauh dari kawanannya. Jadi seorang gembala harus menghitung domba-dombanya setiap hari untuk memastikan bahwa semuanya sudah terkumpul. Seratus ekor domba memang merupakan jumlah yang cukup banyak, akan tetapi masih bisa ditangani sendirian. Akan tetapi Anda tidak akan dapat memastikan jumlahnya jika hanya melihat dengan sekilas saja. Anda harus menghitung mereka satu per satu. Biasanya, penghitungan dilakukan pada malam hari, ketika domba-domba itu sudah dimasukkan ke dalam kandang sementara.

Pada malam itu, ketika si gembala itu menghitung jumlah dombanya sampai yang ke-99, ia mendapati ada satu yang hilang. Ke mana domba yang ke seratus? Apa yang harus ia lakukan? Ia harus meninggalkan domba-domba yang lain, mungkin ia segera mengambil beberapa buah batu dan menumpuknya sehingga menutup jalan keluar dari kandang sementara itu. Dengan demikian domba-domba yang sudah terkumpul tidak dapat berkeliaran sementara ditinggalkan, lalu ia pergi mencari domba yang hilang itu. Ini adalah kejadian yang sudah biasa di kalangan penggembala. Peristiwa yang dimengerti oleh setiap orang Yahudi karena begitu banyaknya jumlah domba dan penggembala di negeri itu. Setiap orang di sana tahu cara kerja seperti ini.
Si gembala itu mencari terus sampai menemukan dombanya; ia tidak mau menyerah. Ia mencari di setiap gua ataupun di setiap lubang yang ditemuinya, mungkin saja domba itu terjatuh di salah satu lubang yang ada. Ia mencari di setiap balik semak belukar dan di mana saja. Ia tidak menyerah sampai akhirnya menemukan kembali domba itu

Di ayat 5 dan 6, kita diberitahu bahwa si gembala itu tidak menggendong dombanya kembali ke kandang di padang, akan tetapi membawanya pulang ke rumah. Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

Menurut Alkitab, domba tidak mengacu kepada orang non-Kristen melainkan kepada orang Kristen. Di setiap ayat dalam Perjanjian Lama yang memakai ungkapan 'domba', rujukannya selalu kepada umat Israel, umat Allah. Di dalam Yehezkiel pasal 34 sebagai contoh, Allah berbicara tentang orang-orang Israel sebagai domba-Nya. Dan di dalam Mazmur 23, Raja Daud berkata, "Tuhan adalah gembalaku."

Jadi, perlu untuk kita perhatikan bahwa keseluruhan gambaran yang diberikan dalam perumpamaan-perumpamaan banyak hal mengenai orang Kristen yang tersesat, yang tergoda untuk melakukan dosa yang seharusnya tidak mereka lakukan, melakukan hal-hal yang terlarang karena dorongan kepentingan tertentu.

Yesus adalah Gembala yang baik Ia tidak akan membiarkan anda tersesat itu sebabnya supaya kita jangan tersesat kita harus mengerti ini.

Yesus berkata di Markus 12:24, "Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah." Kata 'sesat' di dalam Injil Markus ini, di dalam bahasa sumbernya - yaitu bahasa Yunani, sama dengan kata 'sesat' yang tertulis di Matius 18:12, "...jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat..." Mengapa seseorang tersesat? Karena mereka tidak tahu Firman Allah dan mereka belum mengalami kuasa-Nya. Jika Anda menganali kedua hal itu, maka dengan kasih karunia Allah, Anda tidak akan tersesat.

Marilah kita domba-domba Nya tuhan Yesus untuk tidak tersesat, jangan menjauh dariNYa, banyak Memuji dan MenyembahNya dan yang terpenting Rajinlah membaca Firman Tuhan.


Bekasi, tgl 23 April 2015

Karyadim642.blogspot.com

The Parable of the Lost Sheep
(Matthew 18:10-14)
1 σαν  δ  ατ  γγίζοντες  πάντες  ο  τελναι  κα  ο  μαρτωλο  κούειν  ατο
2 κα  διεγόγγυζον  ο  τε  Φαρισαοι  κα  ο  γραμματες  λέγοντες  τι  Οτος  μαρτωλος  προσδέχεται  κα  συνεσθίει  ατος.
3 επεν  δ  πρς  ατος  τν  παραβολν  ταύτην  λέγων 
4 Τίς  νθρωπος  ξ  μν  χων  κατν  πρόβατα  κα  πολέσας  ξ  ατν  ν  ο  καταλείπει  τ  νενήκοντα  ννέα  ν  τ  ρήμ  κα  πορεύεται  π  τ  πολωλς  ως  ερ  ατό; 
5 κα  ερν  πιτίθησιν  π  τος  μους  ατο  χαίρων, 
6 κα  λθν  ες  τν  οκον  συνκαλε  τος  φίλους  κα  τος  γείτονας,  λέγων  ατος  Συνχάρητέ  μοι,  τι  ερον  τ  πρόβατόν  μου  τ  πολωλός. 
7 λέγω  μν  τι  οτως  χαρ  ν  τ  οραν  σται  π  ν  μαρτωλ  μετανοοντι    π  νενήκοντα  ννέα  δικαίοις  οτινες  ο  χρείαν  χουσιν  μετανοίας.

The parable of the lost sheep;
1 ēsan  de  autō  engizontes  pantes  oi  telōnai  kai  oi  amartōloi  akouein  autou. 
2 kai  diegonguzon  oi  te  pharisaioi  kai  oi  grammateis  legontes  oti  outos  amartōlous  prosdechetai  kai  sunesthiei  autois. 
3 eipen  de  pros  autous  tēn  parabolēn  tautēn  legōn· 
4 tis  anthrōpos  ex  umōn  echōn  ekaton  probata  kai  apolesas  ex  autōn  en  ou  kataleipei  ta  enenēkonta  ennea  en  tē  erēmō  kai  poreuetai  epi  to  apolōlos  eōs  eurē  auto; 
5 kai  eurōn  epitithēsin  epi  tous  ōmous  autou  chairōn 
6 kai  elthōn  eis  ton  oikon  sunkalei  tous  philous  kai  tous  geitonas  legōn  autois·  suncharēte  moi,  oti  euron  to  probaton  mou  to  apolōlos. 
7 legō  umin  oti  outōs  chara  en  tō  ouranō  estai  epi  eni  amartōlō  metanoounti  ē  epi  enenēkonta  ennea  dikaiois  oitines  ou  chreian  echousin  metanoias.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar