Kamis, 13 Maret 2014

3. UMUR DAN PEMBENTUKAN BUMI

karyadim642.blogspot.com

I.  Bidang studi ini bias karena asumsi yang harus dibuat bahkan untuk mengejar pemikiran secara rasional mengenai pokok masalah ini.
Asumsi-asumsi tersebut harus menjadi fokus dari suatu evaluasi dari pendapat-pendapat yang berlainan yang diungkapkan oleh para ahli kosmologi, geologi, dan ilmu-ilmu yang terkait dibandingkan dengan pemahaman dan interpretasi teologis.

II. Bagi Ilmu Pengetahuan asumsi-asumsi yang nampak adalah:
A.   Bahwa tingkat perubahan (yaitu, jasmaniah, kimiawi, dan biologis) yang dicatat dan diukur pada bumi saat ini adalah konstan di masa lalu (yaitu, uniformitarianisme, “saat ini adalah kunci dari masa lalu”)

B. Penanggalan radiometris (disebut penanggalan absolut), yang merupakan kunci kronologis untuk penanggalan bumi dan peristiwa-peristiwa kosmik, “which is the chronological key to dating the earth and cosmic events”, dibingungkan oleh beberapa asumsi:
1. komposisi asli batuan-batuan (yaitu hubungan dari elemen induk dan anak dari elemen-elemen atomik yang tidak stabil)
2. setengah-kehidupan dari elemen-elemen ini.
3. suhu juga mempengaruhi persentase induk dan anak dalam suatu sampel (yaitu, waktu pembentukan dan/atau ruangan-ruangan magma vulkanik)
4. Sumber dan waktu asli dari pencipaan elemen-elemen radio aktif tidak pasti. Teori-teori saat ini menyatakan bahwa elemen-elemen yang lebih berat diciptakan dari reaksi-reaksi termonuklear dalam bintang generasi kedua dan ketiga dan disebarkan oleh supernova-supernova.

C. Bahwa enam anggapan prinsip-prinsip urutan geologi (disebut penanggalan relatif) mempengaruhi paleontologi:
1. hukum superposisi-dalam suatu urutan pengendapan batuan yang tak terganggu, lapisan batuan di bagian atas berumur lebih muda dan lapisan yang di bawah lebih tua.
2. prinsip dari lapisan-lapisan horizontal asli dari batuan yang belum sempurna diendapkan di dalam suatu dataran yang hampir horizontal
3. prinsip hubungan-hubungan pemotongan silang ketika batuan terpotong atau terganti oleh satu keretakan, batuan ini pasti lebih tua dari keretakan tersebut.
4. prinsip pencakupan-massa batuan yang saling berdekatan, satu batuan biasanya memiliki pecahan dari yang lebih rendah menempel di lapisan bagian atas yang meneguhkan asumsi.
5. prinsip korelasi-batuan yang serupa susunan bahannya namun berasal dari daerah-daerah yang berbeda harus di cocokkan, ketika hal ini tak dapat dilakukan maka fosil-fosil yang serupa digunakan untuki menunjukkan penanggalan yang serupa dari pembentukannya.
6. prinsip suksesi fosil-organisme fosil berganti satu sama lain dalam suatu urutan yang terbatas dan dapat ditentukan:
a. Fosil-fosil yang tersebar luas.
b. Suatu rentang waktu geologis yang terbatas sampai pendek.

III. Beberapa Komentar oleh para Ilmuwan

A. Kebanyakan Ilmuwan menyadari bahwa ilmu pengetahuan yang sebenarnya adalah suatu metode penelitian yang berusaha mengkorelasikan segala fakta dan anomali yang diketahui ke dalam suatu teori yang bisa diuji. Beberapa hal berdasarkan sifat alamiahnya sendiri tidak dapat diuji.

B. Beberapa komentar dari para ilmuwan mengenai asumsi ilmiah di bidang ini.
1. “Doktrin tersebut (yaitu uniformitarianisme) tidak boleh di ambil secara terlalu hurufiah. Untuk mengatakan bahwa proses-proses geologis di masa lau sama dengan apa yang ada sekarang tidak menyarankan bahwa hal-hal ini selalu memiliki kepentingan relatif dan beroperasi pada tingkat yang tepat sama” (Tarbuck dan Lutgens, Ilmu Pengetahuan Bumi, ed. ke-6. hal. 262).
2. “Pentinglah untuk menyadari bahwa suatu penanggalan radiometrik yang akurat dapat diperoleh hanya jika mineral tersebut tetap dalam suatu sistem tertutup selama kurun waktu pembentukannya; yaitu, suatu tanggal yang benar tidaklah memungkinkan kecuali tanpa adanya penambahan atau pengurangan dari isotop-isotop induk atau anaknya” (Ilmu Pengetahuan Bumi, ed. ke-6. hal. 276).
3. “Kita terburu-buru untuk menekankan bahwa keseragaman/uniformitas adalah suatu asumsi yang kita buat mengenai alam, demikian pula merupakan suatu doktrin lebih dari pada suatu hukum yang telah terbukti secara logis” (Dott dan Balten, Evolusi Bumi, ed. ke 4. hal. 44).
4. “Konstanta-kontanta pembusukan yang mencirikan tingkat pembusukan radio aktif, dan mengatur hubungan antara data isotopik dan pasangan umur-umur isotopik radio tidak diketahui secara tepat. Konsekuensinya, keakuratan dari beberapa metode penanggalan yang paling teliti, seperti teknik 40Ar/39Ar, mungkin menjadi suatu urutan yang besar atau jauh lebih buruk lagi daripada ketelitiannya (“Perkembangan dan tantangan dalam geokronologi” oleh Renne, Ludwig dan Karner dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan (2000), 83 (1), 107).
5. “Orang tanpa pelatihan ilmu pengetahuan mungkin tidak bisa memahami bahwa metode penanggalan radio aktif apapun hanya bisa dipercaya untuk sampel dengan umur mendekati setengah kehidupan dari elemen yang dipertanyakan (Hugh Ross, laporan berkala, Alasan-alasan untuk Percaya).

IV. Asumsi-asumsi bukanlah keunikan masyarakat ilmiah namun ternyata juga ada dalam masyarakat agamawi.

A.   Manusia terhanyut kepada suatu prinisip dan model pemersatu untuk mengkorelasikan pengalaman akal mereka dan menyediakan kestabilan emosional. Dalam Ilmu Pengetahuan prinsip pemersatu ini  adalah “evolusi”
1. Theodosius Dobzhansky, “Manusia yang berubah,” Ilmu Pengetahuan, 155, 409-415, “Evolusi adalah suatu proses yang telah menghasilkan kehidupan dari yang bukan kehidupan, yang telah menimbulkan manusia dari binatang-binatang, dan yang bisa diperkirakan akan terus melakukan hal-hal yang luar biasa di masa depan.”
2. Brian J. Alters dan Sandra M. Alters, Mendefinisikan Evolusi, hal. 104, “evolusi adalah konteks dasar dari seluruh ilmu pengetahuan biologis.. .evolusi adalah suatu kerangka kerja penjelasan, teori pemersatu. Hal ini tak boleh tidak ada dalam pelajaran biologi, sama seperti teori keatoman yang harus ada dalam pelajaran kimia.”

B.    Bagi banyak orang Kristen konservatif teori pemersatunya (yaitu penafsiran) telah menjadi suatu penafsiran hurufiah dari Kejadian 1-2.
Ini benar bagi para penganut literalisme bumi muda (Lembaga Penelitian Penciptaan yang menanggali bumi kira-kira berumur 10,000 tahun) dan para penganut literalisme bumi tua (Alasan-alasan untuk Percaya yang menanggali bumi atas dasar geologi modern yaitu sekitar 4.6 milyar tahun).

Penafsiran seseorang akan Kitab Suci menjadi suatu lensa yang digunakan untuk memandang dan mengevaluasi segalanya. Seseorang tak bisa menyalahkan asumsi subyektif, karena semua pengetahuan manusia pada tingkat tertentu bersifat pra-suposisi. Namun demikian, pengevaluasian dari prasuposisi seseorang sangatlah menentukan bagi suatu pengevaluasian yang tepat mengenai pernyataan-pernyataan “kebenaran” mereka.
C.    Kekristenan Fundamental mencoba untuk memakai suatu argumentasi “ilmiah” padahal masalah pokoknya adalah suatu metodologi hermeneutika.

Ini tidak mengisyaratkan bahwa “ilmu pengetahuan evolusi moderen” tak bersifat pra-suposisi atau bahwa kesimpulan-kesimpulannya tidak dibentuk oleh suatu pandangan dunia apriori. Kita harus berhati-hati dan bersikap analitis terhadap keduanya.
    
Sepertinya ada bukti-bukti di kedua pihak. Saya harus bertanya pada diri saya sendiri kepada pandangan yang mana saya secara alamiah, emosional atau pendidikan terhanyut (yaitu asumsi kepuasan diri)?

Bekasi, tgl. 13 Maret 2014



Karyadim642.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar