Senin, 08 Juni 2015

TEOLOGI BAPTISAN ROH KUDUS


Pengakuan Iman GBI mencatat Baptisan Roh Kudus adalah karunia Tuhan untuk semua orang yang telah disucikan  hatinya. Tanda awal baptism Roh Kudus adalah berkata-kata dengan bahasa roh sebagaimana diilhamkan oleh Roh Kudus.

1.    GBI Percaya ada perbedaan antara kelahiran baru dan baptisan Roh Kudus. Kisah 1:8.
Roh Kudus yang mendiami orang percaya selamanya pada saat kelahiran baru. Yohanes 14:16-17. Tidak seorangpun mengaku “Yesus Tuhan” selain oleh Roh Kudus. 1 Korintus 12:3. Setelah kelahiran baru kita harus mengalami baptisan roh Kudus agar menerima kuasa untuk melayani dan menjadi saksi. Kisah 1:8.
Perbedaan kedua peristiwa itu Nampak misalnya dalam diri : para murid Kristus. Matius 16:16; Lukas 24:49; Kisah 2:1-4, orang Samaria yang bertobat. Kisah 8:14-17, Para murid di Efesus. Kisah 19:1-7.
Dengan demikian GBI menolak pandangan yang menyamakan antara kelahiran baru dan baptisan Roh Kudus.

2.    GBI percaya bahwa tanda awal menyertai orang yang dibaptis dengan Roh Kudus ialah berkata-kata dengan bahasa roh, ini Nampak  pada hari  Pentakosta (Kisah 2:4) di rumah Kornelius. Kisah 10:44-48, murid di Efesus. Kisah 19:5-6. GBI percaya juga bahwa bahasa roh yang asli masih ada pada masa kini.
Bahasa roh memang akan berhenti jika yang sempurna tiba. 1 Korintus 13:8-12, yakni saat kedatanganKristus kembali, pada saat kita akan melihat dia dalam keadaan yang sebenarnya. 1 Yohanes 3:2.
GBI menolak pandangan bahwa bahasa roh telah berhenti setelah zaman para rasul, atau pun sejak Alkitab telah dikanonkan enjaadi satu, yang dianggap sebagai kesempurnaan yang telah tiba oleh kelompok tertentu.

3.    GBI percaya bahwa bahasa roh adalah tanda awal baptisan Roh Kudus. Ini tidak berarti bahwa bahasa roh adalah satu-satunya tanda baptisan roh Kudus, sehingga orang yang tidak berbahasa roh dianggap belum dibaptisan dengan Roh Kudus.
GBI juga tidak mengatakan bahwa bahasa roh adalah salah satu tanda baptisan Roh Kudus, sehingga berbahasa roh ataupun tidak, tak terlalu masalah karena  itu hanyalah salah satu tanda saja.
GBI mengakui bahasa roh sebagai tanda awal artinya  walaupun bukan satu-satunya tanda namun ini penting sehingga orang percaya didorong untuk memintanya kepada Tuhan. Karena semua pemberian yang baik berasal dari Allah. Yakobus 1;17, dan tentu Tuhan memberikan bahasa roh itu dengan tujuan yang baik untuk membangun kerohanian kita. 1 Korintus 14:2, 4.

4.    GBI percaya dalam ibadah bersama boleh digunakan bahasa roh beramai-ramai, bila itu adalah bahasa roh sebagai tanda awal baptisan roh Kudus seperti yang dialami 120 orang percaya dalam Kisag 2:1-4 atau 12 orang dalam Kisah 19:6-7.
Ini  adalah bahasa roh untuk tujuan penyembahan. Itu berbeda dengan karunia bahasa roh yang harus ditafsirkan untuk membangun jemaat,  yakni  bahasa roh untuk tujuan nubuatan, yang dibahas Paulus dalam 1 Korintus 14:27-28, dimana hanya 2-3 orang saja yang boleh berbahasa roh, seorang demi seorang, dan harus ada yang menafsirkannya.

5.    Sehubungan dengan adanya hamba Tuhan tertentu (di dalam dan diluar GBI) yang mengaku menerima pesan-pesan khusus tuhan, maka GBI percaya bahwa Allah yang Mahakuasa masih bisa berbicara pada masa kini, dan menolak klaim bahwa ada wahyu (inspiration) baru yang ditambahkan kepada Alkitab. Yang ada hanyalah suatu peningkatan pemahaman akan Firman itu (illumination), sehingga  rhema (firman yang hidup, yang berbicara kuat dalam hati orang percaya yang membaca Alkitab) tidak bertentangan dengan logos (firman yang tertulis).

Penafsiran Alkitab bisa meleset karrena :
a.      Merancukan rohnya sendiri dengan Roh Kudus. Karena itu kita harus menguji roh. 1 Yohanes 4:1.
Jangan menafsirkan Alkitab sesuai keinginan sendiri. 2 Petrus 2:21, tetapi harus mempertanggung jawabkannya pada komunitas iman, yaitu para hamba-hamba Tuhan lain yang juga diurapi Roh Kudus.
b.      Melihat keseluruhan dari sebagian. Alkitab itu membahas beragam ajaran yang luas dan komprehemsif, karenanya jangan meneropongnya dari satu sudut saja. Hal itu akan menyebabkan sikap berat sebelah dan ekstrim, yang sebagian itu harus dilihat dalam terang keseluruhan Alkitab.
c.      Membuat pengalaman pribadi menjadi titik tolak penafsiran Alkitab. Penafsiran Alkitab dan khotbah/pengajaran harus berasal dari study/penggalian Alkitab, bukan pengalaman pribadi.

Dengan dasar itu GBI menolak ajaran yang diklaim sebagai berasal dari “ilham roh” tapi tidak sesuai dengan prinsip kebenaran Alkitab, antara lain:
a.      Perkawinan dalam roh dimana seseorang dinikahkan secara rohani dengan orang lain yang dianggap lebih rohani dari suami atau isterinya sendiri supaya maksud Allah tergenapi melalui mereka.
b.      Penggunaan benda-benda rohani dengan kekuatan mistik/klenik yang diyakini membawa berkat Tuhan bila digunakan seperti : menabur garam, tepung, memasang patok-patok, dan lain-lain. Kita percaya bahwa Yesus saja cukup, karena Dia penggenapan yang sempurna untuk semua gambaran yang ada didalam Perjanjian Lama.

c.      Pengagum nama Yahwe yang melarang penyebutan kata Allah karena dianggap identik dengan dewa Arab atau Tuhannya Islam. Kata itu sudah digunakan orang Arab Kristen sebelum Islam muncul. Kisah 2:11, dan kata “Allah” berasal dari kata Elohim dalam Alkitab PL bahasa Ibrani. Kejadian 1:1.               

Tidak ada komentar:

Posting Komentar