Sabtu, 23 Maret 2013

PEREMPUAN KECIL YANG PANDAI MEMBACA


BUDAK PEREMPUAN CILIK YANG PANDAI MEMBACA
(Pulau Malagasy, 1882)

Satu abad yang lalu, di sebuah pulau besar yang jauh dari kepulauan Indonesia,
seorang anak perempuan kecil sedang menangis tersedu sedan.

Pantas saja ia menangis! Coba bayangkan: Si Upik baru saja diculik dari rumah
orang tuanya. Ia ditangkap oleh orang-orang kejam yang memperbudak manusia.

Seluruh badan gadis cilik itu gemetar menahan tangisnya.

Dengan bengis si penjual budak memandangnya; tangannya menggenggam cambuk.
"Cukup kau menangis!" ia berteriak. "Kau mau kucambuki?"

Mata si Upik terbelalak, penuh rasa takut dan ngeri. "Wah, jangan, pak!"

"Kenapa jangan?" bentak penjual budak itu. "Kau bukan lagi anak ibumu yang
manja. Kau sekarang seorang budak belian. Coba pikir, di kampung halamanmu
sendiri, siapa yang peduli akan nasib budak?"

Lalu ia pergi, seraya memberikan peringatan terakhir: "Aku tidak mau mendengar
tangisanmu lagi, tahu! Bagaimana aku dapat menjualmu besok kalau mukamu bengkak
karena menangis terus?"

Apa yang dikatakan oleh pedagang budak itu memang benar. Di seluruh pulau
Malagasy yang besar itu, tidak ada seorang pun yang menghiraukan nasib budak
belian. Bahkan di kampung halaman si Upik sendiri, jauh di sebelah selatan,
seorang budak pasti dihukum kalau menangis terus dan merepotkan pemiliknya.

Gadis kecil itu mulai berusaha membiasakan diri dengan kegaduhan dan keramaian
kota di sekelilingnya. Dengan berbuat demikian mudah-mudahan ia tidak lagi
terlalu memikirkan kebahagiaan hidupnya dulu.

Orang tuanya tidak ada di rumah ketika ia diculik. Karena itu ia berharap agar
mereka luput dari serangan para perampok. Betapa sedihnya mereka bila nanti
mereka pulang dan mendapati putri kecil mereka tidak ada di situ lagi! Mereka
akan merasa sangat kehilangan "si Upik" (begitulah nama julukan yang sering
mereka pakai baginya). Mereka hanya dapat berharap agar anak perempuan yang
secantik dia akan dijual ke dalam sebuah rumah tangga yang cukup baik.

Ketika si Upik menguasap matanya dan melihat ke sekelilingnya, ia pun mulai
tertarik oleh kesibukan di sekitar tempat itu. Ia memperhatikan orang banyak
yang lalu lalang; beberapa diantaranya, dengan pakaian yang indah-indah, sedang
ditunggui oleh budak-budak belian. Si Upik mulai memikirkan apa yang akan
terjadi atas dirinya besok pagi.

Ketika pagi itu tiba, si Upik diberi sehelai jubah baru yang sederhana.
Rambutnya pun disisir rapi. Si penjual budak sudah pandai membuat barang
dagangannya kelihatan menarik di mata calon pembeli!

Rasanya waktu lewat dengan lamban sekali pada pagi itu. Orang-orang kaya
biasanya tidak mau datang ke pasar terlalu pagi. Hanya beberapa orang biasa
datang dan membeli budak-budak yang tidak seberapa mahal harganya.

Sekali-sekali ada orang yang menanyakan si Upik, yang duduk di bawah naungan
sebuah pohon besar dengan perasaan sedikit takut dan sedikit mengharap-harap.
Tetapi mereka selalu terus pergi setelah mendengar harga yang ditawarkan itu,
walau ada juga orang yang sempat berkomentar dengan berbisik: "Cantik sekali!
Mungkin ia akan laku juga semahal itu."

Sebelum sang surya naik tinggi di atas cakrawala, datanglah sebuah tandu yang
indah, diusung oleh empat budak laki-laki. Budak yang kelima memagang menaungi
seorang wanita muda yang berbaring di atas usungan itu; pakaiannya sangat mewah.

Wanita yang kaya-raya itu mengamat-amati setiap budak yang dipertontonkan
kepadanya. Kekuatiran dan kesedihan budak-budak itu tidak dihiraukannya. Rupa-rupanya
ia menganggap seorang budak itu sama seperti seekor anjing kesayangan saja.

Hanya ada satu budak yang tidak kelihatan sedih. Itulah si Upik. Ia begitu
tertarik akan penampilan wanita kaya itu sehingga ia memandangnya dengan penuh
rasa ingin tahu. Belum pernah ia melihat seorang wanita dengan pakaian sebagus
itu!

"Gadis yang itu!" Sang penumpang tandu menunjuk kepada si Upik. "Kelihatannya
cerdik, lagi cantik. Suruh dia berdiri!"

Sebelum si Upik insaf apa yang terjadi, jual beli itu sudah selesai. Sekarang ia
telah menjadi milik wanita muda yang kaya-raya itu.

Tidak lama kemudian, usungan itu dibawa dengan cepat, menerobosi orang banyak.
Si upik berusaha mengikuti langkah-langkah yang terlalu panjang dari budak-budak
dewasa itu. Ia berlari-lari kecil; napasnya mulai terengah-engah. Seorang budak
laki-laki yang tinggi besar berjalan di sisinya untuk menjaga agar ia tidak
berusaha melarikan diri.

Di tempatnya yang baru, si Upik dengan cepat dan lancar dapat belajar cara-cara
melayani majikannya. Majikannya ternyata sangat baik hati. Ia merasa senang,
terutama oleh karena gadis cilik itu tidak pernah menangis lagi, dan tidak
pernah bermuram durja.

Pada suatu hari sang majikan bertanya dengan sikap tak acuh: "Apa kau lahir
sebagai budak, Upik?"

Untuk seketika mata si Upik tergenang air mata. Tetapi segera ia dapat menguasai
dirinya. Ia bertindak tegak dan menjawab dengan tenang. "Tidak, nyonya besar.
Aku diculik. Kampung halamanku di sebelah selatan. Dari sanalah para perampok
menyeretku. Orang tuaku tidak tahu aku diculik."

Wajah majikannya mengerut. "Ah! Sama sekali tidak terpikirkan. Apalagi kau masih
kecil! Kau begitu tabah, Upik. Aku sama sekali tidak menyangka kau pernah hidup
bebas dengan keluargamu sendiri."

Kemudian dilanjutkannya: "Sebetulnya aku tidak begitu suka mempunyai budak yang
asalnya bukan budak. Mencicipi kebebasan, lalu kehilangan kebebasan itu, rasanya
lebih pahit daripada kalau kamu belum pernah hidup bebas. Tetapi setidak-tidaknya
kau lebih mujur menjadi budak di rumahku daripada menjadi budak di rumah orang
lain, ya, Upik?"

Si Upik tersenyum. "Nyonya besar sudah membuatku bahagia dan puas," jawabnya
dengan tulus ikhlas

Namun kadang-kadang si Upik merasa kesepian. Pada saat-saat demikian, bila tidak
ada tugas, ia suka pergi menyendiri dan duduk di bawah sebuah pohon yang besar
di taman. Dari dalam jubahnya ia mengambil sebuah buku yang selalu ia bawa
serta. Lama ia duduk sambil membaca buku kecil itu.

Buku kecil itu adalah buku yang kebetulan dibaca pada saat ia diculik. Tanpa
disadari ia tetap menggenggam buku itu ketika ia ditangkap dan diseret oleh para
perampok. Kini buku kecil itu menjadi harta si Upik yang paling berharga: Isinya
tak lain ialah Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Malagasy (yang mirip sedikit
dengan bahasa Indonesia).

Di dalam rumah tangga majikannya itu tidak ada seorang Kristen pun kecuali si
Upik. Juga tidak ada seorang pun di antara mereka yang dapat membaca, sang
majikan juga tidak. Namun budak-budak yang buta huruf itu senang mengintip pada
saat-saat si Upik pergi menyendiri. Dan mereka pun senang mendengar si Upik
membaca, karena ia selalu membaca dengan bersuara, sesuai dengan kebiasaan pada
zaman itu.

Tidak lama kemudian, setiap pelayan di rumah tangga itu mengetahui bahwa si Upik
memiliki sebuah Buku kecil, dan bahwa ia pandai membaca isinya. Tetapi tidak
seorang pun yang berani memberitahu sang majikan. Meskipun ia baik hati, mungkin
ia akan merasa cemburu terhadap seorang budak yang begitu pandai. Mungkin ia
akan menghukum si Upik; mungkin ia akan merampas Bukunya.

Pada suatu hari yang panas, sang majikan berjalan-jalan di taman untuk menikmati
buaian angin sejuk. Sayup-sayup terdengar olehnya suara orang. Karena ingin
tahu, ia menghampiri tempat dari mana suara itu terdengar.

Tampaklah si Upik sedang duduk di bawah pohon, asyik membaca.

"Ha! Sedang apa kau Upik?" tanya majikannya. "Sedang menghafal cerita, ya?"

Dengan hormat si Upik berdiri. Mula-mula ia hendak menyembunyikan Buku kecil
itu, tetapi kemudian diperlihatkannya. "Tidak, nyonya besar. Aku sedang membaca
Kitab Suci."

"Membaca? Sungguh kau dapat?"

"Sungguh, nyonya besar," jawabnya seraya menganggukkan kepalanya. "Ayah yang
mengajarku membaca."

Budak-budak yang lain sedang mengintip peristiwa itu dari jauh, dengan hati yang
berdebar-debar. Apakah majikan mereka akan marah? Ataukah merasa geli saja?

Heran, . . . kedua dugaan itu meleset. Apa yang mereka dengar kemudian?

"Dapatkah kau mengajarku membaca, Upik?"

"Dapat, nyonya besar! Dengan senang hati," jawab si Upik.

Pelajaran itu segera dimulai. Karena tidak ada buku lain, Kitab Perjanjian Baru
milik si Upik menjadi buku pelajaran.

Si Upik mulai dengan cerita-cerita yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, seperti
misalnya cerita domba yang hilang dan cerita orang Samaria yang murah hati. Kata
demi kata sang majikan belajar membaca perumpamaan-perumpamaan itu.

"Sangat menarik!" serunya. "Cerita-cerita ini amat indah. Tetapi . . .
siapakah Tuhan Yesus itu?"

Maka pelajaran membaca yang berikutnya diambil dari Kitab Injil Lukas, pasal 2.
Budak cilik itu menolong majikannya membaca tentang kelahiran Yesus pada malam
yang ditaburi bintang-bintang. Mereka membaca tentang para malaikat yang
menyanyi dan memuliakan Tuhan, tentang sinar surgawi yang turun menerangi
palungan Sang Bayi Kudus.

Tetapi pelajaran membaca terpaksa diperpendek pada hari itu. "Cerita ini terlalu
panjang, Upik," majikannya mengomel. "Engkau saja yang membacakannya."

Maka si Upik melanjutkan membaca tentang peristiwa-peristiwa yang indah itu.
Pasal demi pasal, pelajaran demi pelajaran, si Upik membacakan cerita Tuhan
Yesus, termasuk ajaran-ajaranNya, penyalibanNya, dan kebangkitanNya. Ia pun
meneruskan cerita itu dengan membacakan perbuatan-perbuatan para pengikut Tuhan
Yesus setelah Hari Pentakosta.

Sang majikan, beserta semua budaknya yang cukup dewasa, terus mendengarkan
dengan penuh perhatian. Belum pernah mereka mendengar cerita yang demikian!

Bukan hanya itu saja: Wanita bangsawan itu mulai mengundang teman-temannya untuk
berkumpul di rumahnya pada waktu senja. "Aku mempunyai seorang budak baru,"
katanya, "seorang gadis kecil. Anehnya, ia dapat membaca. Buku miliknya sendiri
memuat cerita-cerita yang sangat menarik, serta ajaran-ajaran yang belum pernah
kudengar. Ayo datang dan mendengar Upikku membaca!"

Mungkin saja majikan itu pun ingin agar teman-temannya mengetahui bahwa ia
sendiri sekarang dapat membaca. Karena setiap kali tetangga-tetangganya datang,
ia mengambil Buku kecil dari tangan si Upik dan membuka halaman-halaman
tertentu. Walau ia membaca dengan pela-pelan, namun kedengarannya cukup jelas,
sehingga teman-temannya menjadi takjub.

Lambat laun Kabar Baik itu mulai meresap ke dalam hatinya. Pada suatu hari
wanita yang kaya-raya itu berkata, "Upik, letakkan dulu Bukumu dan jelaskan
kepadaku bagaimana caranya aku dapat menjadi pengikut Tuhan Yesus."

Hal ini tidak mengherankan si Upik. Siapa yang tidak mau mengikut Tuhan Yesus,
demikianlah pikirannya. Siapa yang tidak mau berbakti kepada Allah Bapa, yang
begitu mengasihi kita sehingga Ia mengutus Tuhan Yesus untuk menjadi Juru
Selamat kita!

Namun si Upik jadi terheran-heran juga pada suatu hari semua budak dipanggil
menghadap majikan mereka. "Kalian sudah tahu," katanya dengan lambat, "bahwa aku
telah menjadi pengikut Tuhan Yesus. Oleh karena itu, aku tidak boleh lagi
memperbudak sesamaku. Kalian semua merdeka."

Merdeka! Para budak itu hampir-hampir tidak mempercayai apa yang mereka dengar.
Sungguh suatu hari yang diliputi kebahagiaan!

Beberapa di antara mereka segera pulang ke kampung. Yang lainnya lebih suka
tetap tinggal pada majikan mereka sebagai pegawai bayaran.

Dengan sangat gembira si Upik pulang ke rumah orang tuanya. Ia memasuki rumah
itu bagaikan orang yang sudah bangkit dari kubur. Kedatangannya kembali itu
membawa kebahagiaan yang tiada taranya bagi orang tuannya.

Tetapi kemudian secara sukarela si Upik kembali lagi kepada sang majikan yang
sangat dikasihinya. Mereka berdua, diiringi oleh bebarapa pembantu, pergi jauh
ke suatu tempat di mana ada utusan-utusan Injil. Di sana mereka memohon agar
penginjil-penginjil dikirim ke kota mereka di pulau Malagasy, untuk mengajar dan
membimbing orang-orang Kristen yang baru.

Utusan-utusan Injil yang datang dari negeri jauh itu merupakan jawaban atas
permohonan doa mereka. Tetapi iklim di pulau Malagasy itu asing bagi para
penginjil. Mereka dijangkiti penyakit, dan satu persatu meninggal. Akhirnya
keadaan kembali seperti semula: Tidak ada yang memimpin dan mengajar pengikut-pengikut
Tuhan Yesus yang baru itu.

Namun sang majikan tidak putus asa. Dengan Alkitab di tangannya, ia mula membaca
dan berdoa serta mengharapkan pimpinan Roh Kudus. Lalu dengan sikap yang tenang
dan gigih, ia sendiri mengajar setiap orang yang rela berguru kepadanya.

Lambat laun di kotanya di pulau Malagasy itu tumbuhlah suatu jemaat Kristen yang
banyak sekali anggotanya. Dan hingga kini orang-orang Kristen yang tinggal di
kota itu masih suka bercerita dengan bangga:

"Semuanya itu terjadi oleh karena seorang budak perempuan kecil yang kesepian
membaca Kitab Perjanjian Barunya dengan suara keras, dan oleh karena seorang
wanita muda yang kaya-raya terbuka hatinya untuk menerima ajaran Firman Allah
serta melaksanakannya dalam hidupnya sendiri!"

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar