Jumat, 22 Maret 2013

ALKITAB YANG MEMBISU

Di daerah Palestina dua ribu tahun yang lalu, orang membuat kitab bukan dengan
kertas, melainkan dengan kulit kambing yang sudah disamak. Jadi, pada waktu
seorang juru tulis Palestina yang kenamaan hendak menyalin sebuah kitab, ia pun
terlebih dahulu memesan gulungan kulit. Kulit itu disiapkan secara istimewa oleh
seorang penyamak kulit yang ahli.

Juru tulis kenamaan itu sangat memperhatikan gulungan yang dipesannya, karena ia
sedang menghadapi suatu tugas yang sangat penting: Ia akan menyalin seluruh
Kitab Nabi Yesaya denngan tulisan tangannya sendiri!

Di atas meja tulisnya sudah tersedia berbagai alat tulisnya: beberapa buluh rawa
yang diruncingkan dan semacam dawat khusus yang dipakainya sebagai tinta. Dengan
memakai dawat itu, tulisan pada kulit kambing dapat tahan tanpa menjadi luntur
untuk bertahun-tahun lamanya.

Setelah segala alat tulisnya siap, juru tulis kenamaan itu mulai bekerja. Dengan
teliti ia menyalin kata demi kata pada lajur-lajur sempit yang membujur di
gulungan panjang itu. Jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu ia
bekerja dengan tekun.

Akhirnya selesailah salinan seluruh Kitab Nabi Yesaya. Kedua ujung naskah yang
tertulis pada gulungan kulit itu masing-masing dilekatkan pada dua batang kayu,
supaya mudah dibuka untuk dibaca. Bila tidak dipakai, naskah itu digulung dari
kedua ujungnya sampai tertutup dengan rapat, lalu diikat dan disimpan dalam
perpustakaan.

Penyamak kulit ahli sudah menyediakan sebuah gulungan kulit kambing lagi, maka
juru tulis kenamaan itu bekerja terus. Segera ia mulai menyalin sebuah kitab
lain lagi dari Perjanjian Lama. Sedikit sekali orang yang semahir dia; sedikit
sekali orang yang seteliti dia bila sedang membuat salinan baru dari naskah
kuno. Semua gulungan naskah dari kulit hasil karyanya itu dipakai berkali-kali
dalam kebaktian serta penyelidikan Alkitab, dan selalu dipelihara baik-baik.
Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun sudah lewat. Bangsa Romawi sudah
mulai menjajah daerah Palestina.

Sekelompok ahli Taurat mengungsi ke suatu daerah yang terpencil di dekat Laut
Mati. Di situ bukit-bukitnya gersang dan ada banyak gua, tempat binatang buas
membuat liangnya dan lebah hutan menyimpan madunya. Di situ pula ahli-ahli
Taurat itu membangun semacam benteng, dengan memakai batu-batu pegunungan yang
ada disekitar mereka.

Di dalam benteng itu mereka membentuk suatu mazhab agama Yahudi tersendiri, yang
hidup terasing di pegunungan. Mereka mendirikan semacam persekutuan
persaudaraan, dan hidup sebagai biarawan. Walau ada kerusuhan di dunia luar,
namun mereka terus menyelidiki Kitab Perjanjian Lama dari gulungan-gulungan
kulit.

Di antara orang-orang itu ada seorang ahli perpustakaan. Dialah yang bertugas
memelihara gulungan-gulungan kitab yang banyak sekali itu. Di samping itu ia pun
mencatat hikayat tentang cara hidup para anggota persekutuan persaudaraan.

Masa itu memang suatu masa yang penuh kerusuhan. Ahli perpustakaan itu makin
lama makin cemas. Ia mulai berpikir: Bagaimanakah kalau orang-orang Romawi atau
musuh-musuh lain datang menyerbu benteng kita? Lalu timbul kecemasan lain lagi
dalam benaknya: Bagaimanakah aku dapat menyelamatkan gulungan-gulungan kulit
yang sangat berharga ini? Di manakah tempat yang paling aman?

Sesudah ia menjelajahi seluruh daerah pegunungan yang gersang itu, akhirnya ia
menemukan suatu tempat yang aman. Di sebuah bukit yang terpencil ada beberapa
gua. Gua-gua itu kelihatan kecil, tetapi setelah ia menyelinap masuk melalui
celah gunung yang sempit, ternyata ruang di dalamnya cukup luas, lagi bersih dan
kering.

Sesudah ia menjelajahi seluruh daerah pegunungan yang gersang itu, akhirnya ia
menemukan suatu tempat yang aman. Di sebuah bukit yang terpencil ada beberapa
gua. Gua-gua itu kelihatannya kecil, tetapi setelah ia menyelinap masuk melalui
celah gunung yang sempit, ternyata ruang di dalamnya cukup luas, lagi bersih dan
kering.

Ahli perpustakaan itu pulang dan melaporkan hasil penjelajahannya. Lalu para
anggota persekutuan itu setuju bahwa gulungan-gulungan kulit milik mereka
sebaiknya disembunyikan di gua-gua. Nanti sesudah bahaya peperangan lewat,
mereka dapat megambilnya kembali.

Maka gulungan Kitab Nabi Yesaya itu diambil dari tempat penyimpannya di
perpustakaan, bersama dengan ratusan naskah lainnya, besar dan kecil. Tiap kitab
gulungan diikat baik-baik, serta dimasukkan ke dalam sebuah tempayan dari tanah
liat. Ada yang disembunyikan dalam gua yang satu, dan ada yang disembunyikan
dalam gua yang lain. Selain para anggota persekutan persaudaraan itu, tidak
seorang pun yang tahu di manakah mereka menyimpan harta mereka.

Akhirnya bahaya itu betul-betul datang. Biara berupa benteng itu dihancurkan,
dan para anggota persekutuan persaudaraan dibunuh. Jadi, tidak ada seorang pun
yang masih hidup, yang tahu adanya naskah-naskah yang tersembunyi itu.

Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun sudah lewat. Di
dalam gua-gua yang gelap, tempayan-tempayan tanah liat itu masih tetap
melindungi harta yang tersembunyi. Kadang-kadang ada yang pecah karena ada batu
yang jatuh dari langit-langit gua, dan naskah yang sudah lapuk itu pun hancur.
Tetapi gulungan Kitab Nabi Yesaya masih tetap utuh. Hanya saja, . . .
mungkinkah mata manusia akan sempat membacanya lagi?

Sementara itu, di dunia luar ada juga salinan-salinan Kitab Nabi Yesaya, tetapi
kurang lengkap. Tidak semua juru tulis seteliti juru tulis kenamaan yang pernah
membuat salinan kitab gulungan itu ribuan tahun yang lampau! Di sana sini ada
bagian-bagian kecil yang rupa-rupanya salah tulis atau dilompati, sehingga orang
yang menyelidiki kitab itu sulit mengerti ayat-ayat tertentu. Kata-kata nabi itu
seakan-akan tidak ada artinya lagi.

Pada tahun 1947, dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,
dan hampir dua ribu tahun setelah naskah-naskah gulungan kulit itu
disembunyikan, daerah Palestina dikuasai oleh Kerajaan Yordania.

Pada suatu hari seorang anak laki-laki yang menjadi gembala pergi mencari madu
hutan di gua-gua dekat Laut Mati. Alangkah herannya ia melihat tempayan-tempayan
yang berderet-deret di salah satu gua itu! Melalui celah-celah tempayan yang
sudah retak, anak gembala itu dapat melihat gulungan-gulungan kulit yang sudah
hampir dua puluh abad umurnya. Ia berlari pulang dan memberitahu keluarganya
tentang hal luar biasa yang baru ditemukannya itu.

Tidak lama kemudian, sampailah salah satu gulungan kulit itu di kota Yerusalem.
Para sarjana memandangnya dengan kagum. Mereka berusaha membukanya, tetapi tidak
dapat. Kulitnya sudah terlalu tua dan terlalu lapuk. Sentuhan sedikit saja akan
menghancurkannya.

Gulungan kulit itu harus diselamatkan, agar tulisan di dalamnya dapat dibaca!
Dengan segala pengetahuan ilmiah modern, para ahli mencari daya untuk dapat
membukanya. Mereka menggunakan uap air panas, zat-zat kimia, mikroskop, lampu-
lampu khusus, dan kamera. Sedikit demi sedikit pekerjaan yang amat sulit itu
terlaksana.

Betapa sukacitanya hati mereka: Gulungan kulit itu adalah salinan seluruh Kitab
Nabi Yesaya! Belum pernah manusia melihat sebuah kitab yang setua atau sebagus
itu.

Mungkinkah kitab itu lebih tua daripada salinan-salinan Kitab Nabi Yesaya yang
sudah biasa dipakai sebagai dasar terjemahan Alkitab? Mungkinkah kata-kata yang
kurang masuk akal itu ternyata disebabkan oleh kekhilafan seorang juru tulis
dahulu kala?

Para sarjana Alkitab mulai mencocokkan bagian-bagian yang belum mereka pahami
dalam salinan-salinan Kitab Nabi Yesaya yang sudah ada di dalam tangan mereka,
dengan bagian-bagian yang sama dalam naskah pada gulungan kulit itu.

"Nah, inilah dia! Di sini!" demikianlah seru salah seorang sarjana Alkitab
dengan girang. "Lihat! Di sini ada sebagian kecil yang kurang pada salinan kita.
Ada beberapa kata yang terlewat!"

Sekarang mereka mengerti mengapa beberapa ayat dari Kitab Nabi Yesaya itu
tadinya kurang masuk akal, sebab ada beberapa kata yang tidak tertulis. Rupa-rupanya
pernah ada seorang penyalin yang memang kurang teliti.

Tahulah para sarjana Alkitab bahwa gulungan naskah dari bukit-bukit di dekat
Laut Mati itu merupakan harta yang tak ternilai harganya. Dengan bantuan
gulungan itu, ada sebanyak tiga belas tempat di dalam Kitab Nabi Yesaya di mana
terjemahan-terjemahan yang kurang tepat dapat diperbaiki.

Orang-orang terus berdatangan ke daerah pegunungan di dekat Laut Mati itu, dan
terus mencari. Betul, sebagaimana mereka sangka, di dalam gua-gua di bukit-bukit
yang gersang itu masih terdapat beratus-ratus gulungan kulit lainnya.

Semuanya diamankan. Oleh karena naskah-naskah itu sudah sangat tua dan sangat
lapuk, maka semuanya harus disimpan dengan hati-hati. Ada yang diberi tanda:
"Jangan dipegang!" Bahkan ada yang diberi tanda: "Dilarang bernapas di atas
gulungan ini!"

Gulungan-gulungan yang disalin pada masa lampau oleh seorang juru tulis kenamaan
serta disembunyikan oleh para anggota persekutuan persaudaraan itu telah menjadi
harta yang sangat berharga. Pada masa lampau mereka sendiri tidak menyangka
bahwa benda-benda itu akan tetap tersembunyi selama dua ribu tahun. Tetapi pada
masa sekarang naskah-naskah yang tertulis di atas kulit itu dapat digunakan
untuk memperkaya pengertian Alkitab di seluruh dunia.

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar