Senin, 07 Juli 2014

ANAK-ANAK ALLAH


karyadim642.blogspot.com

A. Ada perbedaan besar atas pengidentifikasian frasa “anak-anak Allah.” Telah ada tiga penafsiran utama

1. frasa ini menunjuk pada garis keturunan Set yang saleh (Kejadian 5, lihat catatan pada 4:14)
2. frasa ini menunjuk pada sekelompok makhluk-makhluk kemalaikatan
3. frasa ini menunjuk pada raja-raja atau tirani-tirani dari garis keturunan Kain (lih. Kejadian 4)

B. Bukti bagi frasa ini menunjuk pada garis keturunan Set
1. konteks kesastraan terdekat dari Kejadian 4 dan 5 menunjukkan perkembangan dari garis keturunan Kain yang memberontak dan garis keturunan Set yang tepilih. Oleh karena itu, bukti kontekstual sepertinya lebih condong pada garis keturunan Set yang saleh.
2. para rabi telah terbagi mengenai pemahaman mereka mengenai perikop ini. Beberapa menyatakan bahwa ini menunjuk pada Set (namun kebanyakan pada malaikat).
3. frasa jamak “anak-anak Allah,” walau paling sering digunakan untuk makhluk kemalaikatan, sangatlah jarang menunjuk pada manusia
a. Ulangan 14:1 – “anak-anak dari YHWH Allahmu”
b. Ulangan 32:5 – “anak-anak Nya”
c. Keluaran 22:8-9; 21:6 (kemungkinan hakim Imamat)
d. Mazmur 73:15 – “anak-anak Mu”
e. Hosea 1:10 – “anak-anak Allah yang hidup”

C. Bukti bagi frasa ini merujuk pada makhluk-makhluk kemalaikaan
1. ini telah menjadi pemahaman tradisional yang paling umum mengenai perikop ini. Konteks yang lebih luas dari Kejadian bisa mendukung pandangan ini sebagai satu contoh lain dari kejahatan yang adi kodrati yang mencoba untuk menggagalkan kehendak Allah bagi umat manusia (para rabi mengatakannya atas dasar kecemburuan)
2. frasa jamak (“anak-anak Allah”) ini sangat banyak digunakan dalam PL untuk malaikat-malaikat
a. Ayub 1:6
b. Ayub 2:1
c. Ayub 38:7
d. Mazmur 29:1
e. Mazmur 89:6,7
f. Daniel 89:6
3. kitab-kitab antar perjanjian I Henokh (lih. 1 Henokh 6:1-8:4; 12:4-6; 19:1-3; 21:1-10) dan Yobel (Ayub 5:1), yang sangat populer di antara orang percaya dalam periode PB, sejalan dengan Apokrip Kejadian dari Gulungan Kitab Laut Mati, menafsirkannya sebagai malaikat-malaikat pemberontak.
4. konteks terdekat dari pasal 6 sepertinya mengisyaratkan bahwa “orang-orang perkasa jaman purba,orang termasyur” berasal dari pencampur adukan yang tidak tepat dari urutan penciptaan ini
5. Septuaginta menterjemahkan frasa “anak-anak Allah” ini sebagai “malaikat-malaikat Allah”
6. 1 Henokh bahkan menyatakan bahwa Air Bah Nuh datang untuk membinasakan persatuan manusia/malaikat yang memusuhi Allah dan rencana Nya bagi penciptaan (lih. I Henokh 7:1 dst; 15:1 dst; 86:1 dst)
7. dalam sastra Ugarit “anak-anak Allah” menunjuk pada anggota-anggota dari pantheon (yaitu makhluk-makhluk yang kurang rohani)

D. Bukti bagi frasa ini merujuk pada raja-raja atau tirani-tirani dari garis keturunan Kain
    Ada beberapa terjemahan kuno yang mendukung pandangan ini
a. Targum dari Onkelos (abad kedua M) menterjemahkan “anak-anak Allah sebagai anak-anak bangsawan”
b. Terjemahan PL bahasa Yunani Symmachus (abad kedua M), menterjemahkan “anak-anak Allah” sebagai anak-anak raja-raja”
c. Istilah “elohim” digunakan untuk para pemimpin Israel (lih. Keluaran 21:6; 22:8; Mazmur 82:1,6), catat Alkitab NIV dan NET.
d. Nephilim dikaitkan pada Gibborim dalam Kejadian 6:4, Gibborim berasal dari kata Gibbor yang berarti “seorang perkasa yang penuh keberanian; kekuatan; kemakmuran atau kuasa
e. Penafsiran ini dan buktinya di ambil dari Kata-kata Keras Alkitab.

E. Bagaimana kaum “Nephilim” dari Kejadian 6:4 berhubungan dengan “anak-anak Allah” dan “anak-anak perempuan manusia dari Kejadian 6:1-2? Catat teori –teori ini:
1. Mereka adalah raksasa-raksasa (lih. Bilangan 13:33) hasil persatuan antara para malaikat dan wanita manusia.
2. Mereka tidak berhubungan sama sekali. Secara sederhana mereka disebutkan sebagai di dunia di jaman peristiwa Kejadian 6:1-2 dan juga setelahnya.
3. R. K. Harrison dalam Pengantar kepada Perjanjian Lama, hal. 557, memiliki kutipan tersamar berikut, “untuk melalaikan secara keseluruhan wawasan-wawasan antropologis yang tak ternilai ke dalam saling keterhubungan dari Homo sapiens dan spesies pra-Adam yang terkandung dalam perikop ini, dan yang setuju dengan para ahli yang memiliki cukup kemampuan untuk mengejarnya.”

Ini bagi saya mengisyaratkan bahwa ia melihat kedua kelompok ini sebagai mewakili perbedaan kelompok kemanusiaan. Hal ini akan mengisyaratkan suatu penciptaan khusus Adam dan Hawa, namun juga suatu perkembangan secara evolusi dari Homo erectus.

“anak-anak perempuan manusia itu cantik-cantik” Istilah “cantik” secara hurufian adalah “baik” atau “wajar/cantik”. Ini telah menjadi suatu konsep teologis kunci dari pasal 1 (khususnya 1:31). Apa yang Allah lihat sebagai baik sekarang dilihatNya sebagai jahat (lih. ay 5-6).
“mereka mengambil isteri dari antara perempuan-perempuan itu, siapa saja yang disukai mereka” Frasa pertama mengisyaratkan perkawinan yang akan bertentangan dengan pandangan bahwa ini adalah malaikat. Namun demikian, frasa kedua mengisyaratkan bahwa mereka wanita-wanita yang sudah pernah kawin ataupun belum, siapapun yang mereka pilih.

Ini bisa mengisyaratkan (1) makhluk-makhluk kemalaikatan atau (2) para pemimpin manusia yang perkasa dari garis keturunan Kain (yaitu para tirani) yang melakukan poligami.
6:3 “Roh-Ku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia” Istilah “tinggal” dapat diterjemahkan sebagai “berjuang keras”. Ini bisa menunjuk pada
(1) kesabaran Allah (yaitu Ia menunda air bah sampai bahtera selesai dibangun lih. 1 Petrus 3:20) atau
(2) jangka kehidupan manusia yang dikurangi.
Bagaimana 6:3 berhubungan dengan 6:1-2 dan 6:4? Sangatlah sukar untuk mengikuti maksud dari si penulis asli melalui konteks ini. Kemungkinan meskipun manusia telah bercampur dengan malaikat mereka masih akan mati. Sebagaimana hawa “melihat” dan mengambil demikian pula sekarang “anak- anak Allah” “melihat” dan mengambil, yaitu mengisyaratkan jenis pemberontakan yang sama (yaitu kemungkinan menggenggam hidup kekal dan kemandirian).

“karena manusia itu adalah daging” Sepertinya ini menambah bobot pada penafsiran bahwa orang-orang lain yang dibicarakan di perikop ini adalah makhluk-makhluk kemalaikatan dalam pertentangan dengan manusia

F. Hanyalah adil untuk mengungkapkan pemahaman saya sendiri akan naskah yang kontroversial ini.

Yang harus dimengerti bahwa naskah dalam Kejadian adalah singkat dan tidak terlalu jelas. Para pendengar pertama Musa pasti telah memiliki tambahan wawasan kesejarahan atau Musa menggunakan tradisi lisan atau tertulis dari periode para kepala keluarga yang ia sendiri tidak memahami sepenuhnya. Masalah ini bukanlah suatu pokok bahasan yang krusial. Kita sering merasa ingin tahu akan hal-hal yang disinggung Kitab Suci namun kurang jelas. Akan sangat tidak menguntungkanlah untuk membangun suatu teologia yang rinci atas dasar hal ini atau kepingan-kepingan informasi alkitabiah yang serupa. Jika kita memerlukan informasi ini Allah pasti sudah menyediakannya dalam suatu bentuk angka lebih lengkap dan jelas.

Saya secara pribadi percaya ini adalah para malaikat dan manusia karena:
1. penggunaan secara konsisten, walau tidak eksklusif frasa “anak-anak Allah” bagi malaikat dalam PL.
2. Septuaginta (Aleksandria) menterjemahkan (akhir abad pertama SM) “anak-anak Allah” sebagai malaikat-malaikat Allah”
3. kitab pseudepigraf nubuatan I Henokh (kemungkinan ditulis sekitar 200 SM) bersifat sangat spesifik bahwa ini menunjuk pada para malaikat (lih. pasal 6-7)
4. kaitan teologis kepada 2 Petrus 2 dan Yudas tentang para malaikat yang berdosa dan tidak memelihara posisi mereka yang sepantasnya, Saya tahu bahwa bagi beberapa orang ini sepertinya bertentangan dengan Matius 22:30, namun para malaikat ini bukanlah di surga, ataupun di dalam suatu penjara khusus (Tartarus).
5. Saya pikir bahwa satu alasan banyaknya peristiwa dari Kejadian 1-11 ditemukan dalam budaya-budaya lain (yaitu catatan peristiwa penciptaan yang mirip, catatan air bah yang serupa, catatan mengenai malaikat yang mengawini perempuan manusia yang) adalah karena semua manusia adalah bersama-sama dan memiliki suatu pengertian akan YHWH dalam periode ini, namun setelah pemisahan Menara Babel pengetahuan ini menjadi tergerogoti dan diadaptasikan kepada model politeistik.

Sebuah contoh bagus mengenai hal ini adalah mitologi Yunani di mana raksasa yang setengah manusia dan setengah manusia super yang disebut Titan dipenjarakan di dalam Tartarus, nama yang sama ini digunakan hanya sekali dalam Alkitab (lih. 2 Petrus 2) untuk tempat penahanan malaikat-malaikat yang tidak mempertahankan posisi mereka yang sepantasnya. Dalam teologia kerabian Hades dibagi menjadi bagian bagi orang benar (firdaus) dan satu bagian bagi yang jahat (Tartarus).

Sabtu, 05 Juli 2014

IRENAEUS

karyadim642.blogspot.com

"Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari" bunyi Pengkhotbah 1:9. Namun ajaran-ajaran sesat yang bermunculan di dalam dan di sekitar gereja tetap saja berjalan.
Bukannya berpaling pada karya penebusan Kristus, banyak yang mencari ilmu mistik bagi keselamatan pribadi. Dalam gereja abad-abad permulaan, paham ini muncul dalam sekelompok pengikut yang menamakan dirinya Gnostik (gnosis dalam bahasa Yunani artinya "pengetahuan" ).


Sebelum Gereja didirikan, aliran semacam Gnostisisme memang sudah pernah ada. Ketika Yohanes menulis suratnya yang pertama, ia mengecam ajaran sesat ini. Namun, ajaran tersebut masih berlanjut pada abad kedua.

Kita tidak banyak mengenal Irenaeus, seorang penentang Gnostisisme pada akhir abad kedua. Mungkin ia dilahirkan di Asia Kecil lebih kurang pada tahun 125. Perdagangan yang lancar antara Asia Kecil dan Gaul (Perancis) memberi peluang bagi orang-orang Kristen untuk membawa agamanya ke Perancis, tempat mereka mendirikan sebuah gereja yang tangguh di kota Lyons.

Sebagai imam di Lyons, Irenaeus hidup sesuai namanya, yang artinya 'damai', dengan berkunjung ke Roma untuk meminta kepada uskup kelonggaran bagi kaum Montanis di Asia Kecil. Ketika itulah pembantaian orang-orang Kristen sedang marak di Lyons, dan dalam peristiwa ini uskup Lyons terbunuh.

Irenaeus diangkat menjadi uskup untuk menggantikan uskup yang terbunuh. Ketika itu terdapat banyak orang yang telah menganut Gnostisisme di Perancis. Penyebaran aliran ini sangat pesat karena kaum Gnostis menggunakan istilah orang-orang Kristen — meskipun mereka memberikan interpretasi yang berbeda secara radikal. Penyerapan istilah-istilah Kristen dengan berbagai konsep dari filsafat Yunani dan agama orang-orang Asia, sangat menggiurkan orang-orang yang "mau" percaya bahwa mereka dapat memperoleh keselamatan tanpa bergantung pada anugerah Bapa Yang Mahakuasa.

Irenaeus pun mempelajari bentuk-bentuk ajaran Gnostik. Meskipun sangat berbeda, secara umum mereka mengajarkan bahwa dunia fana ini jahat; bahwa dunia ini diciptakan dan diperintah oleh kuasa malaikat, bukan Tuhan; bahwa Tuhan berada jauh dan tidak ada hubungannya dengan dunia ini; bahwa keselamatan dapat diraih dengan mempelajari ajaran-ajaran rahasia khusus; bahwa kaum Gnostik itulah orang-orang rohani (pneumatikoi) yang lebih unggul daripada orang-orang Kristen (psychikoi) biasa. Para guru aliran Gnostik sangat mendukung pendapat ini dengan Injil Gnostiknya – buku yang biasanya membawa-bawa nama para rasul dan menggambarkan Yesus yang mengajarkan doktrin-doktrin Gnostik.

Setelah uskup Lyons itu mempelajari ajaran sesat itu, ia menulis Against Heresies, suatu karya besar yang membeberkan kebodohan "ajaran yang secara keliru disebut Gnostik". Dengan menyitir gambaran dari Perjanjian Lama dan Baru, ia membuktikan bahwa dunia diciptakan Allah yang penuh cinta kasih, yang kemudian ternoda oleh dosa-dosa manusia. Adam, manusia pertama yang tak berdosa, menjadi orang yang berdosa karena menyerah pada godaan. Tetapi kejatuhannya telah ditanggulangi oleh karya manusia tak berdosa yang kedua, yaitu Kristus, Adam baru. Tubuh tidaklah jahat. Pada hari penghakiman, tubuh dan jiwa orang-orang percaya akan diangkat, mereka akan tinggal bersama-sama Allah untuk selamanya.

Irenaeus paham bahwa ajaran Gnostik memikat kecenderungan manusiawi yang ingin mengetahui hal-hal yang belum diketahui orang lain. Tentang orang-orang Gnostik ia menulis, "Segera setelah seseorang dimenangkan, orang tersebut menjadi sombong dan merasa dirinya begitu penting, ia pun berjalan mengangkat dada dengan gaya seekor ayam jantan." Tetapi orang-orang Kristen seharusnya menerima anugerah Allah dengan rendah hati, dan tidak mengandalkan kegiatan-kegiatan intelektualnya yang akan membuat ia sombong.

Sepanjang hidupnya, Irenaeus dengan gembira mengenang perkenalannya dengan Polikarpus, yang pernah akrab dengan Rasul Yohanes. Jadi, tidaklah mengherankan bahwa ia berpegang pada keabsahan para rasul ketika ia menolak paham Gnostik. Sang uskup menegaskan bahwa para rasul mengajar di tempat-tempat umum dan tidak ada satu pun yang dirahasiakan. Di seluruh kekaisaran, Gereja-gereja berpegang pada ajaran-ajaran yang hanya disampaikan para rasul Kristus, dan hanya inilah satu-satunya dasar keyakinan.


Irenaeus menyatakan bahwa para uskup yang merupakan pelindung iman
(Kristen) adalah penerus para rasul. Dengan demikian, ia telah mengangkat martabat para uskup. Dalam bukunya Against Heresies, Irenaeus menetapkan standar bagi teologi gereja. Semua kebenaran yang kita butuhkan sudah tercantum dalam Alkitab. Ia juga membuktikan bahwa dirinya adalah seorang teolog terbesar semenjak Rasul Paulus. Argumentasinya yang tersebar luas merupakan pukulan besar bagi aliran Gnostik pada masanya.