Jumat, 22 Maret 2013

ALKITAB YANG MEMBISU

Di daerah Palestina dua ribu tahun yang lalu, orang membuat kitab bukan dengan
kertas, melainkan dengan kulit kambing yang sudah disamak. Jadi, pada waktu
seorang juru tulis Palestina yang kenamaan hendak menyalin sebuah kitab, ia pun
terlebih dahulu memesan gulungan kulit. Kulit itu disiapkan secara istimewa oleh
seorang penyamak kulit yang ahli.

Juru tulis kenamaan itu sangat memperhatikan gulungan yang dipesannya, karena ia
sedang menghadapi suatu tugas yang sangat penting: Ia akan menyalin seluruh
Kitab Nabi Yesaya denngan tulisan tangannya sendiri!

Di atas meja tulisnya sudah tersedia berbagai alat tulisnya: beberapa buluh rawa
yang diruncingkan dan semacam dawat khusus yang dipakainya sebagai tinta. Dengan
memakai dawat itu, tulisan pada kulit kambing dapat tahan tanpa menjadi luntur
untuk bertahun-tahun lamanya.

Setelah segala alat tulisnya siap, juru tulis kenamaan itu mulai bekerja. Dengan
teliti ia menyalin kata demi kata pada lajur-lajur sempit yang membujur di
gulungan panjang itu. Jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu ia
bekerja dengan tekun.

Akhirnya selesailah salinan seluruh Kitab Nabi Yesaya. Kedua ujung naskah yang
tertulis pada gulungan kulit itu masing-masing dilekatkan pada dua batang kayu,
supaya mudah dibuka untuk dibaca. Bila tidak dipakai, naskah itu digulung dari
kedua ujungnya sampai tertutup dengan rapat, lalu diikat dan disimpan dalam
perpustakaan.

Penyamak kulit ahli sudah menyediakan sebuah gulungan kulit kambing lagi, maka
juru tulis kenamaan itu bekerja terus. Segera ia mulai menyalin sebuah kitab
lain lagi dari Perjanjian Lama. Sedikit sekali orang yang semahir dia; sedikit
sekali orang yang seteliti dia bila sedang membuat salinan baru dari naskah
kuno. Semua gulungan naskah dari kulit hasil karyanya itu dipakai berkali-kali
dalam kebaktian serta penyelidikan Alkitab, dan selalu dipelihara baik-baik.
Bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun sudah lewat. Bangsa Romawi sudah
mulai menjajah daerah Palestina.

Sekelompok ahli Taurat mengungsi ke suatu daerah yang terpencil di dekat Laut
Mati. Di situ bukit-bukitnya gersang dan ada banyak gua, tempat binatang buas
membuat liangnya dan lebah hutan menyimpan madunya. Di situ pula ahli-ahli
Taurat itu membangun semacam benteng, dengan memakai batu-batu pegunungan yang
ada disekitar mereka.

Di dalam benteng itu mereka membentuk suatu mazhab agama Yahudi tersendiri, yang
hidup terasing di pegunungan. Mereka mendirikan semacam persekutuan
persaudaraan, dan hidup sebagai biarawan. Walau ada kerusuhan di dunia luar,
namun mereka terus menyelidiki Kitab Perjanjian Lama dari gulungan-gulungan
kulit.

Di antara orang-orang itu ada seorang ahli perpustakaan. Dialah yang bertugas
memelihara gulungan-gulungan kitab yang banyak sekali itu. Di samping itu ia pun
mencatat hikayat tentang cara hidup para anggota persekutuan persaudaraan.

Masa itu memang suatu masa yang penuh kerusuhan. Ahli perpustakaan itu makin
lama makin cemas. Ia mulai berpikir: Bagaimanakah kalau orang-orang Romawi atau
musuh-musuh lain datang menyerbu benteng kita? Lalu timbul kecemasan lain lagi
dalam benaknya: Bagaimanakah aku dapat menyelamatkan gulungan-gulungan kulit
yang sangat berharga ini? Di manakah tempat yang paling aman?

Sesudah ia menjelajahi seluruh daerah pegunungan yang gersang itu, akhirnya ia
menemukan suatu tempat yang aman. Di sebuah bukit yang terpencil ada beberapa
gua. Gua-gua itu kelihatan kecil, tetapi setelah ia menyelinap masuk melalui
celah gunung yang sempit, ternyata ruang di dalamnya cukup luas, lagi bersih dan
kering.

Sesudah ia menjelajahi seluruh daerah pegunungan yang gersang itu, akhirnya ia
menemukan suatu tempat yang aman. Di sebuah bukit yang terpencil ada beberapa
gua. Gua-gua itu kelihatannya kecil, tetapi setelah ia menyelinap masuk melalui
celah gunung yang sempit, ternyata ruang di dalamnya cukup luas, lagi bersih dan
kering.

Ahli perpustakaan itu pulang dan melaporkan hasil penjelajahannya. Lalu para
anggota persekutuan itu setuju bahwa gulungan-gulungan kulit milik mereka
sebaiknya disembunyikan di gua-gua. Nanti sesudah bahaya peperangan lewat,
mereka dapat megambilnya kembali.

Maka gulungan Kitab Nabi Yesaya itu diambil dari tempat penyimpannya di
perpustakaan, bersama dengan ratusan naskah lainnya, besar dan kecil. Tiap kitab
gulungan diikat baik-baik, serta dimasukkan ke dalam sebuah tempayan dari tanah
liat. Ada yang disembunyikan dalam gua yang satu, dan ada yang disembunyikan
dalam gua yang lain. Selain para anggota persekutan persaudaraan itu, tidak
seorang pun yang tahu di manakah mereka menyimpan harta mereka.

Akhirnya bahaya itu betul-betul datang. Biara berupa benteng itu dihancurkan,
dan para anggota persekutuan persaudaraan dibunuh. Jadi, tidak ada seorang pun
yang masih hidup, yang tahu adanya naskah-naskah yang tersembunyi itu.

Bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, bahkan beratus-ratus tahun sudah lewat. Di
dalam gua-gua yang gelap, tempayan-tempayan tanah liat itu masih tetap
melindungi harta yang tersembunyi. Kadang-kadang ada yang pecah karena ada batu
yang jatuh dari langit-langit gua, dan naskah yang sudah lapuk itu pun hancur.
Tetapi gulungan Kitab Nabi Yesaya masih tetap utuh. Hanya saja, . . .
mungkinkah mata manusia akan sempat membacanya lagi?

Sementara itu, di dunia luar ada juga salinan-salinan Kitab Nabi Yesaya, tetapi
kurang lengkap. Tidak semua juru tulis seteliti juru tulis kenamaan yang pernah
membuat salinan kitab gulungan itu ribuan tahun yang lampau! Di sana sini ada
bagian-bagian kecil yang rupa-rupanya salah tulis atau dilompati, sehingga orang
yang menyelidiki kitab itu sulit mengerti ayat-ayat tertentu. Kata-kata nabi itu
seakan-akan tidak ada artinya lagi.

Pada tahun 1947, dua tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia,
dan hampir dua ribu tahun setelah naskah-naskah gulungan kulit itu
disembunyikan, daerah Palestina dikuasai oleh Kerajaan Yordania.

Pada suatu hari seorang anak laki-laki yang menjadi gembala pergi mencari madu
hutan di gua-gua dekat Laut Mati. Alangkah herannya ia melihat tempayan-tempayan
yang berderet-deret di salah satu gua itu! Melalui celah-celah tempayan yang
sudah retak, anak gembala itu dapat melihat gulungan-gulungan kulit yang sudah
hampir dua puluh abad umurnya. Ia berlari pulang dan memberitahu keluarganya
tentang hal luar biasa yang baru ditemukannya itu.

Tidak lama kemudian, sampailah salah satu gulungan kulit itu di kota Yerusalem.
Para sarjana memandangnya dengan kagum. Mereka berusaha membukanya, tetapi tidak
dapat. Kulitnya sudah terlalu tua dan terlalu lapuk. Sentuhan sedikit saja akan
menghancurkannya.

Gulungan kulit itu harus diselamatkan, agar tulisan di dalamnya dapat dibaca!
Dengan segala pengetahuan ilmiah modern, para ahli mencari daya untuk dapat
membukanya. Mereka menggunakan uap air panas, zat-zat kimia, mikroskop, lampu-
lampu khusus, dan kamera. Sedikit demi sedikit pekerjaan yang amat sulit itu
terlaksana.

Betapa sukacitanya hati mereka: Gulungan kulit itu adalah salinan seluruh Kitab
Nabi Yesaya! Belum pernah manusia melihat sebuah kitab yang setua atau sebagus
itu.

Mungkinkah kitab itu lebih tua daripada salinan-salinan Kitab Nabi Yesaya yang
sudah biasa dipakai sebagai dasar terjemahan Alkitab? Mungkinkah kata-kata yang
kurang masuk akal itu ternyata disebabkan oleh kekhilafan seorang juru tulis
dahulu kala?

Para sarjana Alkitab mulai mencocokkan bagian-bagian yang belum mereka pahami
dalam salinan-salinan Kitab Nabi Yesaya yang sudah ada di dalam tangan mereka,
dengan bagian-bagian yang sama dalam naskah pada gulungan kulit itu.

"Nah, inilah dia! Di sini!" demikianlah seru salah seorang sarjana Alkitab
dengan girang. "Lihat! Di sini ada sebagian kecil yang kurang pada salinan kita.
Ada beberapa kata yang terlewat!"

Sekarang mereka mengerti mengapa beberapa ayat dari Kitab Nabi Yesaya itu
tadinya kurang masuk akal, sebab ada beberapa kata yang tidak tertulis. Rupa-rupanya
pernah ada seorang penyalin yang memang kurang teliti.

Tahulah para sarjana Alkitab bahwa gulungan naskah dari bukit-bukit di dekat
Laut Mati itu merupakan harta yang tak ternilai harganya. Dengan bantuan
gulungan itu, ada sebanyak tiga belas tempat di dalam Kitab Nabi Yesaya di mana
terjemahan-terjemahan yang kurang tepat dapat diperbaiki.

Orang-orang terus berdatangan ke daerah pegunungan di dekat Laut Mati itu, dan
terus mencari. Betul, sebagaimana mereka sangka, di dalam gua-gua di bukit-bukit
yang gersang itu masih terdapat beratus-ratus gulungan kulit lainnya.

Semuanya diamankan. Oleh karena naskah-naskah itu sudah sangat tua dan sangat
lapuk, maka semuanya harus disimpan dengan hati-hati. Ada yang diberi tanda:
"Jangan dipegang!" Bahkan ada yang diberi tanda: "Dilarang bernapas di atas
gulungan ini!"

Gulungan-gulungan yang disalin pada masa lampau oleh seorang juru tulis kenamaan
serta disembunyikan oleh para anggota persekutuan persaudaraan itu telah menjadi
harta yang sangat berharga. Pada masa lampau mereka sendiri tidak menyangka
bahwa benda-benda itu akan tetap tersembunyi selama dua ribu tahun. Tetapi pada
masa sekarang naskah-naskah yang tertulis di atas kulit itu dapat digunakan
untuk memperkaya pengertian Alkitab di seluruh dunia.

TAMAT

Kamis, 14 Maret 2013

PERWIRA YANG RENDAH HATI - Matius 8:5-13


(Kerendahan Hati yang mendatangkan Mujizat Tuhan)


Matius 8:5-13
Matius 8:5-13
5 Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
6 "Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita."
7 Yesus berkata kepadanya: "Aku akan datang menyembuhkannya."
8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."
10 Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.
11 Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,
12 sedangkan anak-anak Kerajaan itu akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."
13 Lalu Yesus berkata kepada perwira itu: "Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya." Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya.

Heals the centurion's servant,
5   Εἰσελθόντος  δὲ  αὐτοῦ  εἰς  Καφαρναοὺμ  προσῆλθεν  αὐτῷ  ἑκατόνταρχος  παρακαλῶν  αὐτὸν 
6   καὶ  λέγων  κύριε  ὁ  παῖς  μου  βέβληται  έν  τῇ  οἰκίᾳ  παραλυτικός  δεινῶς  βασανιζόμενος. 
7   λέγει  αὐτῷ·  ἐγὼ  ἐλθὼν  θεραπεύσω  αὐτόν. 
8   ἀποκριθεὶς  δὲ  ὁ  ἑκατόνταρχος  ἔφη  κύριε  οὐκ  εἰμὶ  ἱκανὸς  ἵνα  μου  ὑπὸ  τὴν  στέγην  εἰσέλθῃς  ἀλλὰ  μόνον  εἰπὲ  λόγῳ  καὶ  ἱαθήσεται  ὁ  παῖς  μου. 
9   καὶ  γὰρ  ἐγὼ  ἄνθρωπος  εἰμι  ὑπὸ  ἐξουσίαν,  τασσόμενος  ἔχων  ὑπ’  ἐμαυτὸν  στρατιώτας  καὶ  λέγω  τούτῳ  πορεύθητι,  καὶ  πορεύεται,  καὶ  ἄλλῳ·  ἔρχου  καὶ  ἔρχεται  καὶ  τῷ  δούλῳ  μου·  ποίησον  τοῦτο  καὶ  ποιεῖ. 
10  ἀκούσας  δὲ  ὁ  Ἰησοῦς  ἐθαύμασεν  καὶ  εἶπεν  τοῖς  ἀκολουθοῦσιν·  ἀμὴν  λέγω  ὑμῖν,  παρ’  οὐδενὶ  τοσαύτην  πίστιν  ἐν  τῷ  Ἰσραὴλ  εὗρον. 
11   λέγω  δὲ  ὑμῖν  ὅτι  πολλοὶ  ἀπὸ  ἀνατολῶν  καὶ  δυσμῶν  ἥξουσιν  καὶ  ἀνακλιθήσονται  μετὰ  Ἀβραὰμ  καὶ  Ἰσαὰκ  καὶ  Ἰακωβ  ἐν  τῇ  βασιλείᾳ  τῶν  οὐρανῶν. 
12   οἱ  δὲ  υἱοὶ  τῆς  βασιλείας  ἐκβληθήσονται  εἰς  τὸ  σκότος  τὸ  ἐξώτερον  ἐκεῖ  ἔσται  ὁ  κλαυθμὸς  καὶ  ὁ  βρυγμὸς  τῶν  ὀδόντων. 
13   καὶ  εἶπεν  ὁ  Ἰησοῦς  τῷ  ἑκατοντάρχῃ·  ὕπαγε  ὡς  ἐπίστευσας  γενηθήτω  σοι.  καὶ  ἰάθηο  ὁ  παῖς  ἐν  τῇ  ὥρᾳ  ἐκείνῃ.

Saya mau menjelaskan perikop ini sesuai dengan tuntunan Tuhan atau biasa ditulis Pencerahan dari Roh Kudus beberapa hari yang lalu dalam sebuah doa Pemulihan dimana di Perikop ini Roh Kudus memberikan pencerahan/ menerangi roh dan Jiwa saya tentang dasyatnya firman Tuhan tentang Perwira yang bujangnya sedang menderita sakit. Melalui prinsip eksposisi :

Ayat 5-6
Ada seorang Perwira Romawi yang pada saat itu datang mengunjungi Yesus di Kapernaum, dia ternyata bertemu dengan Tuhan Yesus bukan untuk dirinya sendiri tapi dia memiliki seorang bujangnya yang dikasihi dalam keadaan sakit dan dia datang menemui Tuhan Yesus untuk mendapatkan pertolongan supaya bujangnya dapat disembuhkan.

Kalau kita mau berpikir agak panjang sedikit, saya yakin si Perwira yang hambanya sedang mengalami sakit yang dikatakannya di hargainya itu (Lukas 7:2)  pasti sudah mengunjungi/membawa sibujangnya itu ke Tabib, karena dia seorang Perwira artinya orang yang tidak mungkin tidak memiliki uang untuk membawa bujangnya ke Tabib, tapi yang saya yakin dia sudah pergi ke tabib tapi ternyata bujangnya tidak sembuh.

Maka ketika dia mendengar ada seorang yang bernama Yesus memiliki kemampuan untuk menyembuhkan orang dengan cara yang ajaib/luar biasa, maka karena dia begitu sangat menyayangi bujangnya dia rela pergi mencari dan bertemu Tuhan Yesus. Dan kita harus ketahui pada zaman itu bagaimana kehidupan seorang Bujang atau Budak dan bagaimana seorang Perwira Roma pada zaman itu, 

saya mau coba menjelaskan sedikit tentang hal ini:
1.  Seorang Bujang/Hamba/Budak.
a.    Didalam Kekaisaran Romawi budak tidak ada tempat dan harga sama sekali.
Kapan mau beli budak, kapan mau usir, siksa, bunuh sekalipun itu adalah hal yang biasa terjadi.
b.    Tidak ada orang yang memperhatikan budak yang sakit, hidup maupun mati.
c.    Budak hanya dianggap alat yang hidup. Contoh ada 3 alat pertanian. :
1.     Alat yang bisa berucap. (manusia)
2.    Alat yang tidak bisa berucap (tumbuhan dan Binatang)
3.    Alat yang bisu (batu dan kayu)

2.  Seorang Perwira.
Didalam satu pasukan :
-          Tentara Romawi terdapat 6.000 prajurit.
-          Terbagi dalam 60 bagian.
-          Tiap bagian 100 orang Prajurit (Centurion= Komandan 100 Prajurit) dipimpin oleh 1 orang Perwira.

Ada perwira lain didalam Alkitab. :
a.    Seorang Perwira yang mengetahui Yesus anak Allah. Matius 27:54
b.    Kornelius orang Kristen pertama asal Non Yahudi seorang Perwira Romawi. Kisah 10:22
c.    Seorang Perwira Romawi yang mengetahui Paulus warga Roma.
d.    Seorang Perwira yang mengetahui rencana pembunuhan terhadap Paulus.
e.    Perwira yang membawa Paulus ke Roma. Kisah Para Rasul 27:1

Siperwira itu tahu etika pada zaman itu :
Orang Yahudi dilarang mengunjungi rumah orang Non Yahudi.

Sekarang bagaimana dengan orang yang ada disekitar saudara contoh : Karyawanmu/bawahanmu, pembantu rumahmu, tetanggamu yang susah bagaimanakah engkau mensikapi orang-orang yang seperti ini.

Dengan sedikit penjelasan diatas saya mau menjelaskan ayat-ayat seterusnya

Didalam ayat 7.
Yesus berkata kepada Perwira itu pulanglah aku akan menyembuhkannya. tidak mudah orang berjanji dalam suatu permintaan yang sulit dan menjawabnya dengan sederhana tapi powerfull, barangkali menurut si Perwira apakah mungkin orang ini akan datang atau sebaliknya siperwira percaya Yesus akan datang, tapi kapan datangnya? karena ia melihat Tuhan Yesus begitu sibuknya dan dikerumuni dan diringi sedemikian banyak orang yang semuanya memiliki pengharapan yang bermacam-macam dan mungkin ada yang sama dengan si Perwira itu, yaitu pertolongan dari Tuhan Yesus, belum lagi orang banyak yang lain yang hanya mau melihat Mujizat terjadi dan mereka dapat melihatnya. 

Ini adalah suatu perkataan otoritas yang luar biasa, kalau penyembuhannya saat itu melalui pola :
a.  Menyentuh atau Tuhan Yesus sendiri disentuh.
saya yakin orang banyak pada saat itu akan melihatnya menjadi hal yang biasa atau Tuhan disentuh oleh orang sakit dan orang itu sembuh. Matius 8: Menyembuhkan orang Kusta; Matius 9:20 (perempuan dengan Pendarahan; Matius 9:29 orang buta disembuhkan; Markus 1:41; Markus 3:10;Markus 5:27; Lukas 5:13; Lukas 6:19; Lukas 7:14.

b.    Memerintahkan untuk bangkit (orang lumpuh, orang mati), setan diusir Inipun satu hal yang biasa Tuhan lakukan dan orang banyak melihatnya.
Dan ini yang menurut saya luar biasa dan dasyat, si Perwira meminta yang diluar pikiran orang-orang pada saat itu.

c.  Memerintah/memperkatakan suatu perintah yang orangnya jauh dari Tuhan Yesus.
Tapi untuk Perwira ini ada satu iman yang diperkatakan dengan otorita yang luar biasa, orang sakitnya tidak terlihat bahkan dikatakan ada ditempat jauh, berada di tempat tinggal dari si Perwira, tapi Tuhan Yesus diminta mengatakan kepada si Perwira satu kata saja.

Ternyata diayat selanjutnya.
Ayat 8
Seperti yang kita ketahui si Perwira ini berkata kepada Yesus, “8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
8:9 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya."

Karena dia seorang Perwira di wilayah Israel pada saat itu pasti dia mengetahui adat istiadat Yahudi yang pada saat itu adat orang Yahudi menetapkan tidak boleh berhubungan dengan orang asing apalagi mengunjungi rumah mereka sangat tidak diperbolehkan, maka si Perwira menyahut  kepada Yesus tapi dengan cara yang rendah hati dan santun "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku” suatu perkataan yang penuh Etika dan kerendahan hati, padahal dia adalah seorang Perwira dan menghadapi orang yang ada didalam wilayah Jajahannya. Seharusnya dia bisa menunjukan arogansinya dengan memaksa Tuhan Yesus dan orang banyak mengerti si Perwira dan langsung memaksanya datang kerumahnya untuk menyembuhkan bujangnya.

Ternyata siPerwira ini memiliki sudut pandangnya sendiri atas perkataan Yesus dan kerinduannya untuk Bujangnya mendapat kesembuhan, ia meminta kepada Yesus sesuai dengan pola kehidupannya sebagai seorang Pemimpin dan Tuan dimana dia memiliki banyak Prajurit yang dapat diatur dan diperintah sesuai kehendaknya sebagai seorang Perwira dan sebagai seorang tuan yang memiliki banyak bujang baik dirumahnya maupun dikantornya.

Satu perkara rohani yang luar biasa dengan contoh siPerwira ini seharusnya kita dapat belajar bagaimana menjadi seorang Kristen.

Dari sudut pandang ini siPerwira mengatakan kepada Tuhan Yesus dan Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia karena Tuhan Yesus tahu ada satu perkataan Iman yang sangat Penuh kerendahan hati yang luar biasa yang diperkatakan dan diperlihatkan oleh si Perwira ini, yaitu :

1.  Dia menjadikan dirinya sendiri menjadi Bawahan/Prajurit.
Bayangkan saja dia adalah seorang Perwira yang sangat dihormati dan pasti memiliki prajurit yang cukup banyak dimana bawahannya ini pasti hormat, takut dan gentar kepada Pemimpinnya ini bahkan kalau ada orang yang berani menghina atau mau mencelakai pemimpinnya bawahannya akan dengan rela hati dan membela dengan seluruh hidupnya untuk pemimpinya. Dan ketika siPerwira ini memerintahkannya untuk berperang atau melakukan apa saja sesuai perintah pemimpin pasti dilaksanakan dengan tanpa reserve.

Nah sekarang si Perwira ngomong sama Tuhan Yesus, katanya Tuan aku memiliki bawahan/prajurit dibawah aku dan ketika aku perintahkan pergi maka dia akan pergi, dari pengertian kata ini si Perwira ngomong sama Tuhan Yesus, ayo suruh aku ( jadikan aku bawahan/prajurit) apa saja seperti aku menyuruh prajuritku yang akan Taat, demikian juga aku akan Taat atas apa saja yang Engkau (Yesus) katakan dan aku akan laksanakan.

2.  Dia menjadikan dirinya seorang BUJANG/HAMBA.
Dan siPerwira ini berkata kepada Yesus yang kedua yaitu “ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya." Ini suatu kerendahan hati yang luar biasa dia dirumahnya adalah seorang Tuan yang berkuasa dan dihormati semua orang yang ada didalam rumahnya, tetapi sekarang dia mengatakan kepada Yesus, perkatakan saja satu perkataan artinya perintahkan saja kepadaku apa saja yang engkau mau katakan kepadaku untuk aku laksanakan aku pasti laksanakan seperti seorang hamba kepada Tuannya.

3.    Perwira ini MENGASIHI Hambanya.
Ketika hambanya sakit ia  sebagai seorang Tuan sangat memperhatikannya, sampai ia harus melakukan hal-hal yang pada zaman itu sangat tidak lazim, seorang Tuan sangat memperhatikan hambanya, yang biasanya terjadi adalah  seperti penjelasan diatas, bagaimana kehidupan seorang budak yang sangat tidak berharga pada zaman itu.

Dia melakukan tindak-tindakan kasihnya melalui hal-hal sebagai berikut :
a. Si Perwira menemui Tuhan Yesus dan meminta pertolongan Tuhan Yesus untuk bujangnya bisa disembuhkan oleh Tuhan. Ayat 5.
b. Meminta tua-tua Yahudi untuk menemui Tuhan Yesus, memintakan kiranya belas kasihan dan dapat menyembuhkan bujang dari si Perwira.

Dari perkataan inilah yang membuat Tuhan Yesus terheran dan terkagum-kagum dengan sangat luar biasa, sesuai dengan perkataan Tuhan Yesus kepada orang banyak tenang sikap dan perkataan si perwira ini “Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorangpun di antara orang Israel.

Suatu penghargaan/respek Tuhan Yesus atas Perwira ini karena yang berkata ini bukan orang sembarangan, dia bukan orang rendahan, dia bukan orang miskin, dia bukan orang bodoh, dia tidak berpenyakitan si Perwira ini dalam keadaan menjadi seorang yang berkuasa dan dihormati oleh Prajurit dan bawahannya, tapi kepada Tuhan Yesus dia mau merendahkan dirinya demi seorang HAMBA/BUJANGNYA.

Bagaimana untuk saudara yang diberkati Tuhan, Menjadi Pemimpin di Perusahaan (Direktur, General Manajer, Manajer, Kepala Bagian, dll), Pemimpin di toko, Pemimpin di Partai, Pemimpin di Yayasan, Pemimpin di Pemerintahan, dll.  bagaimana engkau mensikapi orang-orang yang ada dibawahmu, kiranya firman Tuhan hari ini didalam pencerahan yang Roh Kudus berikan dapat mencerahkan Hati dan Pikiran kita serta dapat mengimplementasikan Kasih Tuhan.


Bekasi, 14 Maret 2013.

Karyadim642.blogsot.com