Rabu, 31 Juli 2013

Matius 5:23-24, PERSEMBAHAN YANG BENAR ( Leave your gift there before the altar)

karyadim642.blogspot.com
23. Therefore if you bring your gift to the altar, and there remember that your brother has something against you,
24. leave your gift there before the altar, and go your way. First be reconciled to your brother, and then come and offer your gift.

23   ἐὰν οὖν  προσφέρῃς  τὸ  δῶρον  σου  ἐπὶ  τὸ  θυσιαστήριον  κακεῖ  μνησθῇς  ὅτι  ὁ ἀδελφός  σου  ἔχει  τι  κατὰ  σοῦ. 
23 ean oun  prospherēs  to  dōron  sou  epi  to  thusiastērion  kakei  mnēsthēs  oti  o  adelphos sou  echei  ti  kata  sou.

24   ἄφες  ἐκεῖ  τὸ  δῶρον  σου  ἔμπροσθεν  τοῦ θυσιαστηρίου  καὶ  ὕπαγε  πρῶτον  διαλλάγηθι  τῷ  ἀδελφῷ  σου,  καὶ  τότε  ἐλθὼν πρόσφερε  τὸ  δῶρον  σου.
24 aphes  ekei  to  dōron  sou  emprosthen  tou  thusiastēriou kai  upage  prōton  diallagēthi  tō  adelphō  sou,  kai  tote  elthōn  prosphere  to  dōron sou.

Kalau ada orang yang melakukan kesalahan, maka kelakuannya itu mengganggu hubungannya dengan Allah.

1.     Persembahan atau korban itu tidak akan dapat dipakai untuk menghapuskan dosa-dosa yang bersifat sengaja.
2.    Agar korban Persembahan itu mencapai maksudnya, maka perlu disertai dengan pengakuan dosa secara jujur dan pertobatan yang tulus.
3.    Sebagai pengganti diri orang yang mempersembahkannya.

Kita tidak akan mempunyai hubungan yang baik dan benar dengan Allah kalau kita tidak mempunyai hubungan yang baik dan benar dengan sesama kita.

a)  Apa yang dimaksud dengan ‘ganjelan’ itu?

‘ganjelan’ itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang remeh / kecil, karena kalau demikian, alangkah sedikitnya orang yang bisa berbakti kepada Allah. Jadi ‘ganjelan’ itu haruslah sesuatu yang cukup  penting / besar. Tetapi saya berpendapat bahwa kata-kata ini sukar dipraktekkan, karena besar atau kecil merupakan sesuatu yang relatif.
Tetapi kalaupun saudara kita itu salah, tetapi kalau ia mengira dirinya benar, sehingga ia mempunyai ganjelan terhadap kita, maka kita tetap harus mengusahakan perdamaian dengan dia (bukan minta maaf, tetapi menjelaskan / memberi pengertian kepadanya).
Satu hal lain yang ingin saya tambahkan adalah: kalau kita disuruh berinisiatif untuk membereskan suatu ‘ganjelan’ yang ada dalam diri saudara kita, apalagi kalau ‘ganjelan’ itu ada dalam diri kita sendiri! Adakah saudara seiman / orang di sekitar saudara terhadap siapa saudara mempunyai ‘ganjelan’? Bawa itu kepada Tuhan, dan bereskan! Bahkan mungkin sekali untuk membereskan hal itu, saudara harus datang kepada orang tersebut, dan membicarakannya!

b)   Mengapa hal seperti ini dihubungkan oleh Yesus dengan hukum ke 6?

D. Martyn Lloyd-Jones: “the commandment not to kill really means we should take positive steps to put ourselves right with our brother” (= perintah untuk tidak membunuh berarti bahwa kita harus mengambil langkah-langkah yang positif untuk meluruskan / memperbaiki hubungan kita dengan saudara kita).

c)   Kata ‘persembahan’ / ‘memberikan persembahan’ (ay 23,24).
Matthew Poole: “It is a text usually applied with reference to communion with God in the Lord’s supper, but equally extensive to any other part of worship, hearing the word, James 1:21, and prayer, 1 Tim 2:8” (= Ini merupakan text yang biasanya diterapkan berkenaan dengan persekutuan dengan Allah dalam Perjamuan Kudus, tetapi juga mencakup lebih luas pada bagian lain dari ibadah / kebaktian, mendengar firman, Yakobus 1:21, dan doa, 1 Timotius 2:8).

Yakobus 1:19-21 - “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu”.

1 Timotius 2:8 - “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan”.

Bandingkan juga dengan ayat-ayat di bawah ini:

 Ø  Yesaya 1:15 - “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”.

 Ø  Yesaya 58:3-4 - “‘Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?’ Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi”.

d)   Ini tidak berarti bahwa hubungan dengan manusia lebih penting dari pada hubungan dengan Allah.

Knox Chamblin: “The point is not that human relationships are more important than the worship of God, but that these two are inextricably bound together (the one inevitably affects the other)” [= Maksudnya bukan bahwa hubungan dengan manusia lebih penting dari pada ibadah / kebaktian kepada Allah, tetapi bahwa kedua hal ini terikat menjadi satu secara tak terpisahkan (yang satu secara tak terhindarkan mempengaruhi yang lain.

e)   Inisiatif untuk membereskan ganjelan ini jelas bukan hal yang gampang. Ini membutuhkan kerendahan hati dan penyangkalan diri!

f)   Bagaimana kalau kita sudah mengusahakan perdamaian secara benar, tetapi orang tersebut tidak mau berdamai?

Pulpit Commentary: “The Christian can never excuse himself by saying, ‘My brother will not be reconciled to me.’ He must be; and the Christian must not rest until he is. The burden of right relations rests on him” (= Orang kristen tidak pernah bisa beralasan dengan berkata: ‘Saudaraku tidak mau diperdamaikan dengan aku’. Ia harus; dan orang kristen itu tidak boleh berhenti sampai ia mau. Beban dari hubungan yang benar ada pada orang kristen itu)

Saya berpendapat bahwa kata-kata ini salah, bahwa kalau kita sudah berusaha untuk berdamai, tetapi orang itu tidak mau, maka itu tidak akan menghalangi ibadah kita kepada Allah. Bdk. Roma 12:18 - “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”.

Calvin:
“so long as a difference with our neighbour is kept up by our fault, we have no access to God”
(= selama suatu perbedaan dengan sesama kita dipelihara / dipertahankan oleh kesalahan kita, kita tidak mempunyai akses kepada Allah)

Bekasi, 31 Juli 2013

Karyadim642.blogspot.com

Matius 5:23-24
23.   Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
24.     tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar