Kamis, 26 Juni 2014

CIRI-CIRI KHAS MANUSIA MODERN

karyadim642.blogspot.com

Manusia modern merupakan produk dari dua arus filsafat yang bertentangan di atas, di satu segi mereka optimis terhadap kemampuan teknologi manusia, tetapi di dalam segi lain, mereka begitu pesimis terhadap masa depan manusia. Di satu sisi mereka merasa dirinya sudah tiba pada puncak peradaban manusia, tetapi di sisi lain mereka merasa dirinya makin tenggelam dalam ketanpa-artian hidup (meaninglessness).

Mereka menolak agama dan kehadiran Allah dalam hidupnya, tetapi mereka mencari kelepasan melalui mistikisme. Karena itu tidak heran di dalam cara berpikirnya, juga ada kontradiksi sebagai akibat dua arus di atas, berikut ini beberapa ciri khas manusia modern.

1. Humanisme
Istilah ini sebetulnya luas sekali, tetapi secara singkat kami simpulkan sebagai suatu pandangan hidup yang berpusatkan pada diri manusia sendiri. Ini merupakan agama, tetapi agama yang tanpa Allah. Di antara sekian banyak kontributor terhadap pandangan humanisme, ada semacam keseragaman sebagai berikut:

Ø  -Manusia tidak rusak akibat dosa sejak lahir.
Ø  -Tujuan hidup adalah hidup itu sendiri sekarang bukan di akhirat.
Ø  -Dengan akal manusia dapat meningkatkan kehidupan yang baik.
Ø  -Kondisi utama untuk mencapai kemajuan hidup ialah melepaskan diri dari ikatan tahyul dan tekanan otoritas.

2. Naturalisme
Naturalisme ialah pandangan hidup yang menganggap bahwa alam semesta adalah suatu sistem tertutup yang saling berinteraksi, tanpa campur tangan dari yang supranatural.

Bagaimana bisa mengerti gejala alam dan proses kehidupan di dalamnya? Satu-satunya jalan ialah melalui sains, hanya sains yang bisa memberikan gambaran tentang realita yang sesungguhnya.

Di dalam kaitan dengan teologia Kristen, hal ini berarti apabila terjadi data-data di dalam Alkitab yang bertentangan dengan sains (atau sepertinya sains),
misalnya: geologi, astronomi, dan khususnya biologi, maka pasti Alkitablah yang salah. Pada hakekatnya pengikut naturalisme sudah mempunyai presuposisi bahwa hal-hal yang supranatural itu tidak ada.

3. Ateisme Praktis
Ateisme praktis berbeda dengan ateisme dalam hal bahwa seorang ateis bukan hanya orang yang tidak beragama, bahkan dengan gamblang menyerang keberadaan Allah.

Akibat pengaruh deisme, dan yang lebih populer belakangan ini yaitu agnostisisme, maka ateisme sebetulnya tidak terlalu popular lagi. Yang lebih banyak ialah ateisme praktis, mereka mungkin beragama, tetapi gaya hidupnya sangat sekuler, keberadaan Allah dengan segala firman yang harus dilaksanakan manusia secara praktis tidak ada hubungan apa-apa dengan dirinya.

Ateis praktis tidak menyangkali Allah, namun di dalam setiap usaha mereka sebetulnya berpusat pada dirinya sendiri, mereka tidak mengenal kehidupan doa yang merupakan pengakuan kebutuhan manusia untuk bersandar kepada Allah.

Pandangan ini sebetulnya banyak menyusup ke dalam gereja, khususnya di dalam negara Indonesia yang menganjurkan penduduknya untuk beragama tersebut.

4. Pragmatisme
Salah satu problem yang terbesar dari manusia ialah hilangnya konsep "truth" (kebenaran). Dahulu manusia berpikir bahwa ada suatu kebenaran mutlak yang menjadi standard kehidupan. Namun sejak pragmatisme dipopulerkan oleh William James, orang sekarang menganggap bahwa kebenaran ialah sesuatu yang bisa membawa hasil nyata (truth is what works).

Dengan gagasan ini satu-satunya ujian bagi kebenaran ialah konsekuensi praktisnya, dengan demikian kebenaran menjadi relatif. Kalau diterapkan dalam agama berarti ajaran-ajaran atau aspek-aspek dalam agama tidak bernilai pada dirinya sendiri melainkan pada akibat moral dan psikologisnya. Pandangan ini mempunyai aspek kebenaran di dalamnya, terkadang kita terpancang pada kata-kata atau teori-teori kebenaran tanpa memikirkan penerapannya. Namun perlu diperhatikan,

“Bahwa suatu kebenaran itu biasanya membawa hasil, tetapi sesuatu yang membawa hasil belum tentu merupakan kebenaran.”

5. Subyektivisme.
Sebagaimana sudah kami singgung di bagian sebelumnya, akibat dari aksistensialisme dan juga yang lebih belakangan yaitu pragmatisme; di mana kebenaran yang universal itu dianggap tidak ada, maka manusia menjadi subyektif sekali di dalam menilai segala sesuatu.

Pandangan ini dapat dikatakan merupakan suatu usaha untuk mengerti segala sesuatu dari segi si pelaku itu sendiri, bukan apa yang dikatakan orang lain, atau tradisi, atau ajaran agama sekalipun. Setiap orang adalah unik dalam keberadaannya, bahwa dirinyalah yang berpikir, mempertimbangkan dan memutuskan untuk masa depannya sendiri.

Pandangan ini sebetulnya merupakan reaksi terhadap tata masyarakat modern yang cenderung bersifat massal, baik di bidang industri, teknologi, politik dan birokrasi, sehingga seolah-olah pandangan dari nilai pribadi itu ditelan dalam sistem tersebut.

6. Nihilisme
Akibat paling fatal dalam cara berpikir manusia modern ialah nihilisme. Ini merupakan konsekuensi daripada pilihan manusia sendiri yang tidak mau lagi mengakui keberadaan Allah, kebenaran yang mutlak, dan pemusatan pada diri manusia sendiri. Sehingga akhirnya manusia merasa dirinya tidak lagi mempunyai makna hidup (meaninglessness).

Di antara para filsuf, Nietzsche dapat dikatakan sebagai Bapa Nihilisme, dan hidup secara konsisten dengan pandangan hidupnya itu. Dia mengatakan kalau tidak ada Allah, tidak ada agama berarti tidak perlu juga ada norma moral. Setiap orang menciptakan arti hidupnya sendiri, dan menentukan sendiri apa yang baik dan tidak baik bagi dirinya.


Sayang sekali, sebagai seorang mahasiswa teologia yang brilian di Bonn, dia harus mengakhiri hidupnya dalam kefrustrasian dan menjadi orang yang kurang waras mentalnya.

Rabu, 25 Juni 2014

Justinus Martir


Filsuf muda itu berjalan-jalan sepanjang pantai, dengan pikirannya yang aktif, selalu aktif mencari kebenaran baru. Ia telah mempelajari ajaran-ajaran Stoa, Aristoteles dan Phythagoras tetapi sekarang ia menganut sistem Plato. Plato pernah menguraikan bahwa penglihatan akan Tuhan dikaruniakan kepada mereka yang mencari kebenaran dengan sungguh-sungguh. Itulah yang dihendaki Yustinus, sang filsuf.

Ketika berjalan-jalan, ia bertemu dengan seorang Kristen. Yustinus tersentak melihat wibawa dan kerendahan hati orang tersebut. Orang itu mengutip nubuat Yahudi yang menunjukkan bahwa cara-cara orang Kristen itulah yang benar, dan Yesus adalah pernyataan Allah yang sesungguhnya.

Peristiwa itulah yang menjadi titik balik Yustinus. Dengan merenungkan tulisan-tulisan Taurat, membaca Injil dan surat-surat Paulus, maka ia pun menjadi orang Kristen sejati. Selama sisa hidupnya, lebih kurang tiga puluh tahun lamanya, ia mengadakan perjalanan, melakukan pekabaran Injil dan menulis. Ia telah memainkan peranan penting dalam perkembangan teologi gereja, dalam memahami dirinya sendiri dan dalam citranya yang ditampilkan kepada dunia.

Sejak awal, Gereja berperan di dua dunia yang berbeda, dunia orang Yahudi dan dunia bukan Yahudi. Kisah Para Rasul menggambarkan lambannya dan terkadang sakitnya perkembangan kekristenan di kalangan orang-orang bukan Yahudi. Petrus dan Stefanus mengadakan pekabaran Injil kepada orang-orang Yahudi, sedangkan Paulus kepada filsuf-filsuf Athena dan para penguasa Romawi.

Dalam banyak hal, kehidupan Yustinus mirip dengan kehidupan Paulus. Rasul ini adalah orang Yahudi yang lahir di daerah bukan Yahudi (Tarsus), sedangkan Yustinus adalah orang bukan Yahudi yang lahir di daerah Yahudi (Sikhem kuno). Keduanya terpelajar dan tangguh berargumentasi untuk meyakinkan orang-orang Yahudi dan bukan Yahudi akan kebenaran Kristus. Keduanya mati syahid di Roma karena keyakinan mereka.

Pada pemerintahan para kaisar abad pertama, seperti Nero dan Domitianus, tujuan gereja hanya untuk dapat bertahan hidup dengan meneruskan tradisi mereka, yaitu menampilkan cinta kasih yang menyerupai kasih Kristus sendiri. Sedangkan bagi orang luar, kekristenan merupakan sekte primitif agama Yahudi dengan berbagai ajaran dan praktiknya yang aneh.

Menjelang pertengahan abad kedua, di bawah pemerintahan yang adil oleh para kaisar seperti Trajanus, Antoninus Pius dan Marcus Aurelius, gereja mulai membuka diri pada dunia luar untuk meyakinkan keberadaannya. Yustinus menjadi salah seorang apologist (orang yang mempertahankan pendiriannya dalam argumentasi) Kristen pertama, yang menjelaskan imannya sebagai sistem yang masuk akal. Bersama-sama penulis lain, seperti Origenes dan Tertullianus, ia menafsirkan kekristenan dalam istilah-istilah yang mudah dikenal orang-orang Yunani dan Romawi terpelajar pada masa itu.

Karya tulis Yustinus, The Apology, ditujukan pada Kaisar Antoninus Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang). Ketika Yustinus menjelaskan dan mempertahankan keyakinannya, ia juga menyinggung bahwa penyiksaan yang dilakukan penguasa Romawi terhadap orang-orang Kristen adalah salah. Sebaliknya, mereka seharusnya bergabung dengan orang Kristen untuk mmnunjukkan kepalsuan sistem penyembahan dewa-dewa.

Bagi Yustinus, seluruh kebenaran adalah kebenaran Allah. Para filsuf Yunani yang tersohor sedikit banyak telah diilhami Allah, namun mata mereka belum dibukakan bagi keutuhan kebenaran Kristus. Oleh karenanya, Yustinus menyitir pemikiran Yunani dengan bebas dan kemudian menjelaskan kepada mereka bahwa kesempurnaan itulah Kristus. la mengutip prinsip Yohanes tentang Kristus sebagai Logos, Firman. Allah Bapa adalah kudus adanya dan terpisah dari manusia yang jahat — tentang hal ini Yustinus setuju dengan Plato. Namun melalui Kristus, Logos-Nya, Allah dapat berhubungan dengan manusia. Sebagai Logos Allah, Kristus adalah bagian dari hakikat Allah, meskipun terpisah, seperti api dinyalakan dari api juga (demikianlah pemikiran Yustinus telah menjadi alat bagi kesadaran akan Tritunggal dan Inkarnasi yang berkembang di Gereja.).

Meskipun Yustinus bersandar pada pemikiran Yunani, namun aliran pemikiran Yahudi ada padanya. Ia kagum pada nubuat yang digenapi. Mungkin ia terpengaruh orang tua yang ia temui di pantai. Tetapi ia pun melihat bahwa nubuat Ibrani telah meyakinkan identitas Yesus Kristus yang unik. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus lainnya, Dialog dengan Tryfo (Dialogues with Trypho), ia menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani.

Di samping menulis, Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya. Di Efesus, ia bertemu dengan Tryfo. Di Roma, ia bertemu Marcion, pemimpin Gnostik. Pada suatu perjalanannya ke Roma, ia pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic. Ketika Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, Crescens mengadukannya kepada penguasa atas tuduhan memfitnah. Yustinus pun ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya lainnya.

Ia pernah menulis, "Anda dapat membunuh kami, tetapi sesungguhnya tidak dapat mencelakakan kami." Keyakinan ini ia pegang sampai mati. Dengan demikian ia telah meraih nama yang disandangnya sepanjang masa: Yustinus Martir.